Kanal24, Malang – Unit usaha kampus menjadi kunci dalam mendorong kemandirian dan memperluas dampak universitas. Di Universitas Brawijaya (UB), peran itu berada di tangan Badan Pengelola Usaha (BPU) yang mengelola berbagai lini bisnis strategis. Potensinya besar, tetapi belum optimal.
Dalam momentum Halal Bihalal BPU UB pada Selasa (7/4/2026), Strategic Expert sekaligus mantan CEO PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) periode 2017–2024, Dr. Ira Puspadewi, menegaskan bahwa kekuatan BPU UB sebenarnya sudah terbentuk, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan.
“Potensi BPU sangat besar. Ada beberapa hal yang belum ditap secara optimal. Civitas akademika seharusnya menjadi ekosistem pendukung bagaimana BPU bisa berkembang,” ujarnya.
Menurut Dr. Ira, kekuatan utama BPU justru berada pada captive market internal—yakni civitas akademika dan seluruh ekosistem kampus. Pemanfaatan layanan BPU secara terintegrasi dinilai dapat mendorong dampak yang lebih luas.
“Seharusnya seluruh civitas akademika dan keluarga besarnya menggunakan seluruh jasa BPU. Dengan begitu, universitas bisa memberikan social impact yang lebih besar, bisa memberikan beasiswa lebih banyak, sehingga keberkahan yang kita cita-citakan bersama akan lebih dekat tercapai,” lanjutnya.
Ia menilai, penguatan unit usaha kampus harus dilihat sebagai bagian dari strategi besar universitas dalam membangun keberlanjutan. Aktivitas komersial yang dikelola dengan baik akan kembali menjadi sumber penguatan pendidikan, riset, dan kontribusi sosial.
Dr. Ira Puspadewi pun menyampaikan optimisme terhadap arah pengembangan tersebut.
“Optimis,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Badan Pengelola Usaha UB, Dr. Ir. Anthon Efani, M.P., menyatakan bahwa BPU telah menyiapkan langkah-langkah perbaikan untuk menjawab tantangan tersebut.
“BPU juga sudah bersiap selama ini kita terus memperbaiki tata kelola, memperbaiki sinergitas, memperbaiki profesionalisme, meningkatkan pertumbuhan sekaligus kita berharap ke depan kita berbuah lebat.” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan BPU menjadi bagian penting dalam mendukung target universitas, khususnya dalam meningkatkan pendapatan non-UKT. Menurut Anthon, pencapaian target tersebut membutuhkan dukungan lintas lini di dalam universitas.
“Untuk menuju target itu, dibutuhkan sinergi di semua lini, mulai dari jurusan hingga tingkat universitas. Kami akan terus meningkatkan profesionalisme dan kontribusi unit usaha,” tambahnya.
Ke depan, tantangan BPU UB tidak hanya pada pengembangan bisnis, tetapi juga pada konsolidasi internal serta penguatan ekosistem kampus sebagai pasar utama. Di titik inilah, BPU menjadi lebih dari sekadar unit usaha—melainkan instrumen strategis untuk memperkuat kemandirian universitas dan memperluas dampak sosialnya.(Din)














