Kanal24, Malang – Tekanan terhadap harga barang di tingkat global diperkirakan tidak akan mereda dalam waktu dekat, meskipun konflik geopolitik di Timur Tengah berakhir. Dana Moneter Internasional (IMF) menilai dampak perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah menimbulkan gangguan struktural yang sulit dipulihkan dalam jangka pendek.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan bahwa konflik tersebut telah menciptakan tekanan besar terhadap rantai pasok global, terutama pada sektor energi. Dampak ini tidak hanya memicu lonjakan harga, tetapi juga memperpanjang periode inflasi di berbagai negara.
āSebagai peringatan, karena ini adalah guncangan negatif terhadap pasokan, maka penyesuaian permintaan tidak dapat dihindari,ā ujar Georgieva.
Ia menjelaskan, perang telah menyebabkan terganggunya distribusi energi dunia, termasuk minyak dan gas, yang merupakan komponen utama dalam berbagai aktivitas ekonomi. Ketika pasokan terganggu, harga cenderung bertahan tinggi meskipun permintaan mulai melemah.
Baca juga:
BRI Teratas di Indonesia, Kian Perkasa di Daftar Global

Kondisi ini, menurut IMF, membuat proses normalisasi harga menjadi lebih kompleks. Berbeda dengan krisis yang dipicu oleh sisi permintaan, gangguan dari sisi pasokan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih karena melibatkan infrastruktur, logistik, dan stabilitas kawasan.
Selain energi, dampak konflik juga merembet ke sektor pangan dan industri. Kenaikan harga pupuk dan biaya distribusi mendorong harga bahan pokok ikut meningkat. Efek berantai ini membuat tekanan inflasi dirasakan secara luas, baik di negara maju maupun berkembang.
IMF menilai, bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat, dunia tidak akan langsung kembali ke kondisi sebelum perang. Luka ekonomi yang ditinggalkan diperkirakan akan memengaruhi pertumbuhan global dan stabilitas harga dalam jangka menengah.
Negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan dalam situasi ini. Ketergantungan terhadap impor energi serta keterbatasan ruang fiskal membuat mereka lebih sulit menahan dampak lonjakan harga. Dalam banyak kasus, kenaikan harga energi langsung berimbas pada biaya hidup masyarakat.
Georgieva juga mengingatkan bahwa respons kebijakan yang tidak tepat dapat memperburuk kondisi. Ia menyoroti potensi risiko dari kebijakan pembatasan ekspor atau subsidi besar-besaran yang tidak terarah, yang justru dapat memicu inflasi tambahan.
Sebaliknya, IMF mendorong pemerintah untuk mengambil langkah yang lebih terukur dan tepat sasaran, terutama dalam melindungi kelompok masyarakat paling rentan. Kebijakan tersebut harus bersifat sementara dan tidak membebani anggaran negara secara berlebihan.
Di sisi lain, bank sentral di berbagai negara diimbau tetap waspada terhadap tekanan inflasi. Meskipun ada dorongan untuk menurunkan suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama.
Situasi global saat ini dinilai lebih kompleks dibandingkan periode sebelumnya. Setelah menghadapi pandemi dan berbagai ketegangan geopolitik, ekonomi dunia berada dalam kondisi yang lebih rapuh. Hal ini membuat proses pemulihan menjadi lebih lambat dan penuh ketidakpastian.
IMF menegaskan bahwa stabilitas harga tidak hanya bergantung pada berakhirnya konflik, tetapi juga pada pemulihan menyeluruh terhadap rantai pasok global. Selama distribusi barang dan energi belum sepenuhnya normal, tekanan harga diperkirakan akan tetap bertahan.
Dengan demikian, berakhirnya perang bukan jaminan bahwa harga barang akan segera turun. Dunia masih harus menghadapi fase penyesuaian yang panjang sebelum kondisi ekonomi benar-benar pulih. (nid)














