Kanal24, Malang – Pelaksanaan UTBK SNBT 2026 di Universitas Brawijaya (UB), Rabu (22/4/2026), dipenuhi suasana tegang sejak pagi. Sejumlah peserta mengaku menghadapi soal yang menantang, terutama pada materi tertentu, meski tetap menyimpan harapan besar untuk lolos ke perguruan tinggi impian.
Salah satu peserta, Talitha, siswi SMAK Kolese Santo Yusup, mengaku telah mempersiapkan UTBK sejak jauh hari melalui bimbingan belajar.
“Saya ikut bimbel, saya join dari tahun lalu, sekitar tahun laluan itu kita di Inten sudah mulai diajarin basic-basicnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, materi pembelajaran mulai diperdalam memasuki semester dua dengan berbagai jenis soal.

Talitha juga mengungkapkan perasaannya sebelum dan sesudah mengikuti UTBK. “Tadi pagi sih agak tegang jujur, soalnya takut ya, apalagi pembobotan ITB di PKPM,” katanya. Namun setelah ujian selesai, ia merasa lebih lega.
“Setelah dijalani PU-nya lumayan enggak sesusah itu. Tapi memang PKPM-nya memang sesuai, susah banget sih menurutku,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan M. Arif Rachmatulah Haidar, siswa MAN 1 Malang, yang menitikberatkan persiapan pada latihan intensif.
“Untuk persiapan sendiri saya ikut bimbingan-bimbingan, terutama yang banyak ngerjain soal TO,” ujarnya.
Ia mengakui tekanan menjelang ujian cukup terasa. “Pastinya nredek-lah kayaknya,” katanya. Menurutnya, materi PKPM menjadi bagian yang paling menantang selama proses persiapan.

Sementara itu, Muhammad Raja Muad Aljabal, siswa MA Raudlatul Ulum 2, mengakui bahwa persiapan UTBK bukan hal mudah.
“Menurut saya ya sulit, dan persiapannya berat,” ungkapnya. Ia bahkan menyebut sebagian besar soal terasa sulit saat dikerjakan.
“Bukan rata-rata, susah semua,” katanya. Meski begitu, rasa lega tetap dirasakan usai ujian. “Keluar dari ruangan tadi itu rasanya lega. Alhamdulillah lah,” ujarnya.

Tak hanya peserta, orang tua yang mendampingi juga merasakan ketegangan. Rokim, salah satu wali peserta, mengaku tetap diliputi rasa cemas saat mengantar anaknya.
“Sebagai orang tua deg-degan sih tetap ada, cuma berdoa saja yang terbaik hasilnya,” katanya. Ia menegaskan pentingnya persiapan maksimal, termasuk mengikuti bimbingan belajar.

Hal serupa diungkapkan Kasyani, wali peserta lainnya. Ia bahkan menyebut anaknya mengikuti les setiap hari demi menghadapi UTBK. “Setiap hari sampai malam itu les, ada jam lesnya malam,” ujarnya. Meski demikian, harapan terbesar tetap sederhana, yakni kesuksesan anak. “Harapannya anaknya itu sukses, cita-citanya tercapai,” katanya.

Pelaksanaan UTBK SNBT di UB tahun ini menunjukkan tingginya antusiasme sekaligus tekanan yang dirasakan peserta. Meski dihadapkan pada soal yang menantang, harapan untuk lolos ke perguruan tinggi impian tetap menjadi motivasi utama. (qrn)













