Kanal24, Vietnam – Internasionalisasi kampus bukan lagi sekadar target administratif, melainkan strategi bertahan di tengah kompetisi global pendidikan tinggi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) membaca arah tersebut dengan memperkuat jejaring regional melalui kemitraan strategis di Asia Tenggara.
Langkah itu diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama dengan Ho Chi Minh City Open University (HCMCOU), Vietnam, yang berlangsung pada Kamis (23/4/2026) di kampus HCMCOU. Kolaborasi ini menjadi pintu masuk bagi penguatan kerja sama akademik lintas negara, sekaligus memperluas ruang belajar mahasiswa di tingkat internasional.

Delegasi FISIP UB dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Reza Safitri, Ph.D., didampingi Dewa Ayu Putu Eva Wishanti selaku Sekretaris International Relation Office (IRO) FISIP UB, serta Ika Rizky Yustisia dan Novy Setia Yunas sebagai Staf Ahli Wakil Dekan Bidang Akademik.
Reza Safitri menegaskan, kerja sama ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, tidak hanya dalam pertukaran akademik, tetapi juga penguatan kapasitas institusi.
“Kami mengucapkan terima kasih atas sambutan yang sangat hangat. Penandatanganan kerja sama ini membuka peluang kolaborasi di berbagai bidang, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, hingga pengembangan program akademik internasional yang akan mendorong peningkatan internasionalisasi di FISIP UB,” ujarnya.
Dari pihak tuan rumah, kegiatan ini dihadiri oleh Dr. Dang Nang Hoa, Kepala Departemen Studi Asia Tenggara HCMCOU, bersama jajaran dosen. HCMCOU menyambut kerja sama ini sebagai bagian dari upaya memperkuat jaringan akademik regional di kawasan ASEAN.
Tidak berhenti pada formalitas kerja sama, FISIP UB juga membawa pendekatan soft diplomacy melalui pengenalan budaya Indonesia. Workshop Topeng Malangan digelar untuk mahasiswa HCMCOU sebagai bagian dari diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas lokal Indonesia di ruang global.
Langkah ini menunjukkan bahwa internasionalisasi tidak hanya soal mobilitas akademik, tetapi juga pertukaran nilai dan budaya. Di tengah arus globalisasi, pendekatan ini menjadi penting untuk menjaga identitas sekaligus memperluas pengaruh Indonesia di tingkat internasional.
Kerja sama antara FISIP UB dan HCMCOU diharapkan berlanjut pada program konkret di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari itu, kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang FISIP UB dalam membangun reputasi sebagai fakultas berorientasi global di kawasan Asia Tenggara.(Din)














