Kanal24, Malang – Program internasional Sea Teacher dan International Teaching Practice (ITP) di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) tak sekadar pertukaran akademik. Di balik pelepasan mahasiswa dan dosen University of Bulacan, Filipina, Rabu (30/4/2026), tersimpan misi besar: membentuk lulusan berdaya saing global melalui pengalaman lintas budaya dan praktik mengajar langsung di kancah internasional.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FIB UB memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kualitas lulusan agar mampu bersaing di tingkat global. Wakil Dekan Bidang Akademik FIB UB, Dr. Yusri Fajar, S.S., M.A., menegaskan bahwa kerja sama lintas negara menjadi langkah strategis dalam penguatan reputasi institusi.
Baca juga:
UB Tembus THE Asia 2026, Masuk 601–800 di Tengah Persaingan Ketat

“Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya terus berusaha untuk meningkatkan reputasi di tingkat internasional sehingga kita terus berusaha untuk meningkatkan kerja sama dengan berbagai universitas di luar negeri, termasuk dengan universitas-universitas di Asia Tenggara,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program Sea Teacher membuka peluang praktik mengajar lintas negara dan juga memperkaya pengalaman mahasiswa dalam memahami perbedaan budaya. “Mahasiswa mampu mempraktikkan teori mengajar dan juga memiliki kesempatan untuk intercultural sharing atau communication, berbagi informasi terkait budaya dan kehidupan di negara masing-masing,” tambahnya.
Menurut Yusri, pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan global. Ia menilai, lulusan dengan pengalaman internasional akan memiliki daya saing lebih tinggi di dunia kerja. “Ini akan menjadi aspek penting dalam menyiapkan lulusan yang tangguh dan mampu menjawab tantangan zaman ke depan,” katanya.
FIB UB juga menyiapkan program pembekalan bagi mahasiswa sebelum mengikuti praktik mengajar di luar negeri. Pembekalan tersebut mencakup metode pengajaran efektif hingga kesiapan menghadapi perbedaan budaya. “Tujuannya agar selain mampu menyampaikan materi dengan baik, mereka juga harus mampu beradaptasi dengan budaya di tempat mereka ditempatkan,” jelasnya.
Ke depan, FIB UB menargetkan pengembangan kerja sama menuju program double degree. Yusri menyebut, langkah ini akan memberikan nilai tambah bagi mahasiswa. “Harapannya kita bisa memfasilitasi mahasiswa mendapatkan degree dari universitas di luar negeri sehingga penerimaannya di dunia kerja semakin tinggi,” ungkapnya.
Sementara itu, mahasiswa University of Bulacan, Love Angel V. Pelayo, mengaku antusias mengikuti program tersebut. Ia menilai pengalaman belajar di Indonesia memberikan perspektif baru dalam dunia pendidikan. “Kami sangat senang bisa berada di sini. Kami saling bertukar kosakata, pengalaman, serta cerita tentang Indonesia dan Filipina,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perbedaan sistem pembelajaran antara Indonesia dan Filipina yang menjadi pengalaman berharga. “Terdapat perbedaan yang cukup besar dalam suasana kelas, namun sebagai seorang guru kita harus memahami keberagaman peserta didik dan mampu beradaptasi dengan hal tersebut,” katanya.
Pelayo berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal penting dalam pengembangan dirinya sebagai calon pendidik. Ia menekankan bahwa proses belajar tidak pernah berhenti dan harus terus dijalani dalam berbagai situasi. “Setiap hari adalah proses belajar sepanjang hayat. Sebagai seorang guru, kita harus terus belajar di mana pun kita berada,” pungkasnya. (qrn)














