Kanal24, Malang – Penguatan sektor peternakan tidak lagi cukup mengandalkan produksi semata. Tantangan di lapangan menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia peternak menjadi faktor penentu, terutama dalam menghadapi dinamika harga, kesehatan hewan, hingga manajemen usaha yang semakin kompleks.
Di sisi lain, kesenjangan pengetahuan antara praktik tradisional dan pendekatan berbasis teknologi masih menjadi pekerjaan rumah di banyak daerah. Kondisi ini mendorong perlunya kolaborasi yang lebih konkret antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah, agar transfer pengetahuan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi benar-benar menjangkau pelaku di lapangan.
Dalam konteks tersebut, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) menjalin kerja sama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang digelar di Pendopo Lokatantra Lamongan, Senin (4/5/2026).
Kesepakatan ini ditandatangani oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan, Dr. Shofiah Nurhayati, S.Pt., M.Si., dan Dekan Fakultas Peternakan UB, Prof. Dr. M. Halim Natsir, disaksikan oleh Bupati Lamongan serta Rektor Universitas Brawijaya.
Kerja sama ini diarahkan untuk mengintegrasikan peran akademisi dan pemerintah daerah dalam pengembangan sektor peternakan yang berkelanjutan. Program yang disepakati mencakup pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat di bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Salah satu implementasi utama adalah penyelenggaraan program Sekolah Lapang bagi peternak di Kabupaten Lamongan. Program ini dirancang sebagai ruang belajar berbasis praktik, dengan pendekatan partisipatif yang memungkinkan peternak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Sebanyak 60 peserta akan mengikuti program ini, terdiri dari peternak unggas dan ruminansia. Kegiatan akan berlangsung dalam delapan pertemuan yang membahas aspek teknis hingga manajerial, mulai dari budidaya, kesehatan hewan, hingga pengelolaan usaha.
Tidak hanya pelatihan, peserta juga akan mendapatkan pendampingan langsung dari tim dosen dan praktisi. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan transfer pengetahuan yang lebih aplikatif dan berkelanjutan, sekaligus menjawab kebutuhan riil peternak di lapangan.
Program Sekolah Lapang ini juga menjadi bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran kampus di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya bersifat simbolik, tetapi mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kapasitas pelaku usaha.
Sebagai bentuk apresiasi, program ini akan ditutup dengan prosesi wisuda bagi peserta yang dinyatakan lulus. Momentum ini diharapkan menjadi simbol keberhasilan sekaligus mendorong peternak untuk terus mengembangkan usaha secara lebih profesional.
Melalui kolaborasi ini, Fakultas Peternakan UB dan Pemerintah Kabupaten Lamongan berharap dapat membangun sinergi yang lebih kuat dalam pengembangan sektor peternakan. Di tengah tantangan yang terus berkembang, penguatan SDM menjadi langkah mendasar untuk meningkatkan daya saing sekaligus kesejahteraan peternak di daerah.














