Kanal24, Malang – Kawasan heritage kebanggaan warga Kota Malang bergeliat. Kali ini, denyut ekonomi dan wisata berpadu dalam gelaran QRISMA FEST 2026 Vol.1 bertajuk Gema Kadjoe Tangan yang resmi dibuka di Kayutangan Heritage.
Festival kolaboratif ini menjadi langkah nyata mempercepat digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS, sekaligus memperkuat citra Kayutangan sebagai destinasi wisata modern berbasis budaya. Acara tersebut merupakan hasil sinergi antara Bank Indonesia Malang, Pemerintah Kota Malang, Otoritas Jasa Keuangan, industri perbankan, pelaku UMKM, komunitas pariwisata, hingga masyarakat umum.
Mengusung tema “Dari Tradisi ke Transaksi”, QRISMA FEST 2026 tidak sekadar menghadirkan festival transaksi non tunai, tetapi juga mendorong ruang heritage menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif.
Baca juga:
Dari Gambia, Mahasiswa ini Datang ke UB Membawa Harapan untuk Pangan Negaranya
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa Kayutangan Heritage memiliki nilai strategis sebagai ikon kota yang kaya sejarah sekaligus sangat potensial dikembangkan menjadi kawasan wisata digital.
Menurutnya, transformasi pembayaran non tunai melalui QRIS akan memberikan kemudahan tidak hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan yang datang berkunjung.
“Kayutangan bukan hanya wajah sejarah Kota Malang, tetapi kini juga menjadi simbol kemajuan ekonomi digital yang berpijak pada budaya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang menilai pertumbuhan penggunaan QRIS di Kota Malang menunjukkan tren yang sangat positif. Saat ini, Kota Malang menjadi wilayah dengan kontribusi merchant QRIS terbesar di area kerja BI Malang, sekaligus mencatat volume transaksi digital tertinggi dibanding daerah lain di sekitarnya.
Hal tersebut menjadi indikator kuat bahwa masyarakat semakin siap beralih ke sistem pembayaran cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Selama pelaksanaan festival pada 2 hingga 8 Mei 2026, berbagai kegiatan tematik disiapkan untuk menggairahkan partisipasi publik. Mulai dari Malang Merchant QRIS Race yang melibatkan lebih dari seribu merchant, Kadjoe Tangan QRIS Race, workshop edukasi digitalisasi pembayaran, business matching pembiayaan UMKM, lomba lingkungan bersih, hingga content competition untuk promosi wisata heritage.
Tak hanya berorientasi pada transaksi, festival ini juga menjadi momentum memperluas pasar UMKM lokal agar semakin adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen yang kini cenderung mengutamakan kemudahan pembayaran digital.
Pelaku usaha kuliner, tenant oleh-oleh, hingga pedagang kreatif di sepanjang Kayutangan pun didorong masuk dalam ekosistem QRIS agar mampu menjangkau lebih banyak pembeli, khususnya wisatawan generasi muda.
Konsep ini sekaligus menegaskan bahwa digitalisasi tidak harus menghilangkan identitas lokal. Sebaliknya, warisan budaya justru dapat menjadi panggung baru untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi jika dipadukan dengan inovasi teknologi.
QRISMA FEST 2026 menjadi bukti bahwa Kota Malang tengah bergerak menuju kota wisata yang tidak hanya estetik dan historis, tetapi juga cerdas secara transaksi.
Dengan ramainya aktivitas di Kayutangan Heritage selama festival berlangsung, perputaran ekonomi diproyeksikan meningkat dan memberi dampak langsung terhadap pelaku UMKM, jasa pariwisata, hingga sektor kreatif kota.














