Kanal24, Malang – Ketahanan pangan masih menjadi tantangan di banyak negara berkembang, termasuk di Afrika Barat. Di tengah keterbatasan sumber daya dan tenaga ahli, kebutuhan akan inovasi pertanian menjadi semakin mendesak, terutama untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan pangan.
Kondisi inilah yang mendorong Mustapha Jatta, mahasiswa asal Gambia, menempuh studi Magister Agronomi Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian di Universitas Brawijaya (UB). Ia melihat pendidikan sebagai jalan untuk membawa perubahan nyata, khususnya di sektor pertanian yang menjadi tulang punggung negaranya.
“Saya dari Gambia, negara yang sangat bergantung pada pertanian, terutama padi dan jagung. Tapi kami masih memiliki keterbatasan tenaga ahli seperti profesor dan peneliti di bidang ini,” ujarnya.
Baca juga : Magister Agronomi UB Tancap Gas ke Level Global Lewat Riset Tropis
Mustapha menjelaskan, keputusannya memilih UB didasarkan pada reputasi kampus yang kuat di bidang pertanian, baik secara nasional maupun global. Ia menilai UB sebagai salah satu institusi yang memiliki kapasitas untuk mendukung pengembangan keilmuan yang dibutuhkannya.
“Ketika saya melihat latar belakang universitas ini dan peluang beasiswanya, saya merasa ini adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan ilmu yang saya butuhkan,” katanya.
Fokus pada Jagung dan Kebutuhan Riil Negara
Dalam studinya, Mustapha memilih fokus pada pemuliaan tanaman, khususnya jagung. Keputusan ini berangkat dari kebutuhan riil di negaranya yang masih kekurangan tenaga ahli di bidang tersebut.
“Di negara saya, kami bahkan tidak memiliki plant breeder. Karena itu saya memilih fokus di bidang ini agar bisa memberikan kontribusi langsung ketika kembali,” jelasnya.
Jagung menjadi komoditas yang ia pilih karena perannya yang penting dalam kehidupan masyarakat Gambia. Selain sebagai bahan pangan utama, jagung juga menjadi sumber energi bagi banyak keluarga.
Namun, ia melihat masih ada persoalan pada produktivitas dan kualitas hasil. Masa panen yang panjang serta varietas yang belum optimal menjadi tantangan yang ingin ia jawab melalui riset.
“Saya ingin menghasilkan varietas jagung yang bisa cepat panen, tahan terhadap kondisi lingkungan, dan memiliki hasil yang tinggi,” ujarnya.
Baca juga : Produktivitas Tebu Mandek, FP UB Gandeng Australia Kejar Teknologi dan Bibit Unggul
Tantangan ini juga terjadi secara global. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat lebih dari 1,2 miliar orang bekerja dalam sistem pangan global, namun ketersediaan tenaga ahli pertanian—terutama di bidang riset dan inovasi—masih belum merata di banyak negara berkembang. Di saat yang sama, sektor ini dituntut memenuhi kebutuhan pangan populasi dunia yang terus meningkat.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan sumber daya manusia di bidang pertanian menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi negara yang masih bergantung pada produksi pangan domestik.
Ia menegaskan bahwa fokusnya saat ini adalah jagung untuk konsumsi manusia, mengingat kebutuhan pangan masih menjadi prioritas utama.
“Di negara kami, kebutuhan utama adalah pangan untuk manusia. Jadi saya lebih fokus pada jagung untuk konsumsi,” jelasnya.
Beasiswa dan Lingkungan Akademik
Kesempatan belajar di UB tidak lepas dari dukungan program beasiswa yang ia terima. Menurutnya, fasilitas yang diberikan menjadi pintu bagi mahasiswa dari negara berkembang untuk mengakses pendidikan tinggi yang sebelumnya sulit dijangkau.
“Beasiswa ini sangat berarti. Semua kebutuhan utama didukung, dan ini benar-benar mengubah hidup saya,” ujarnya.
Ia juga menilai lingkungan akademik di UB mendukung proses pembelajaran. Dukungan dosen, program studi, serta interaksi dengan mahasiswa lain membantu mempercepat adaptasi dan pengembangan diri.
“Lingkungan di sini sangat mendukung. Dosen dan teman-teman sangat membantu dalam proses belajar saya,” katanya.
Mustapha melihat peluang untuk membangun kolaborasi riset ke depan, termasuk pertukaran varietas tanaman yang dapat dikembangkan di negaranya.
Baca juga : Aktif Berorganisasi Perlancar Karir Alumni BP UB sebagai Peneliti BRIN
Peran Kampus Menciptakan Dampak Global
Kisah Mustapha menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi dapat menjembatani kebutuhan lokal dengan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Pilihan studinya diarahkan pada dampak nyata bagi masyarakat di negara asalnya.
Dalam konteks ini, Program Magister Agronomi di bawah Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, memainkan peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pertanian global.
Melalui penguatan riset, pendampingan akademik, serta jejaring internasional, program ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan solusi berbasis sains yang dapat diterapkan lintas wilayah, termasuk di negara berkembang.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi berperan dalam mendorong lahirnya inovasi yang berdampak langsung pada isu strategis seperti ketahanan pangan.(Din)














