Kanal24, Malang – Pemerintah kembali menyiapkan gebrakan baru di sektor energi rumah tangga. Setelah berbagai polemik soal distribusi LPG subsidi 3 kilogram, kini muncul wacana menghadirkan Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kg sebagai alternatif baru yang diklaim lebih hemat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pengembangan gas CNG untuk kebutuhan rumah tangga saat ini sedang dipersiapkan serius. Menurutnya, langkah tersebut bukan hanya untuk menghadirkan energi yang lebih murah bagi masyarakat, tetapi juga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Bahlil menyebut, biaya penggunaan CNG diproyeksikan bisa 30 hingga 40 persen lebih murah dibandingkan LPG subsidi yang selama ini beredar luas di pasaran. Selisih harga itu dinilai cukup signifikan untuk menekan pengeluaran rumah tangga, terutama di tengah naiknya biaya kebutuhan pokok.
Baca juga:
Rupiah Belum Lepas Tekanan, Pasar Masih Wait and See
“Tabung 3 kilogramnya sedang disiapkan. Ongkosnya lebih murah sekitar 30 sampai 40 persen,” ujar Bahlil dalam agenda nasional energi akhir pekan lalu.
CNG Digadang Jadi Solusi Ketahanan Energi Nasional
Berbeda dengan LPG yang selama ini masih bergantung cukup besar pada impor, CNG berasal dari gas alam domestik yang ketersediaannya dinilai lebih melimpah. Karena itu, pemerintah melihat CNG bukan sekadar opsi pengganti tabung melon, melainkan bagian dari strategi jangka panjang menuju kemandirian energi nasional.
Selama ini, pemanfaatan CNG sebenarnya sudah mulai diterapkan di sejumlah hotel, restoran, hingga dapur program pemerintah. Penggunaan di sektor komersial tersebut dinilai cukup berhasil sehingga kini diarahkan untuk masuk ke pasar rumah tangga kecil.
Jika skema ini berjalan, maka masyarakat berpotensi mendapatkan dua keuntungan sekaligus: harga bahan bakar memasak yang lebih rendah dan pasokan gas yang tidak terlalu tergantung pada fluktuasi impor.
Namun Publik Masih Soroti Soal Keamanan dan Bentuk Tabung
Meski terdengar menjanjikan, rencana ini belum sepenuhnya disambut antusias. Di media sosial dan forum diskusi internet, banyak warga mempertanyakan aspek teknis CNG, terutama soal tekanan tabung, ukuran, berat, serta keamanan penggunaan di rumah-rumah padat penduduk.
Sejumlah netizen menilai CNG memang murah, tetapi membutuhkan tabung bertekanan jauh lebih tinggi dibanding LPG biasa sehingga kemungkinan memerlukan material lebih tebal, regulator khusus, serta prosedur distribusi yang lebih ketat. Ada pula yang khawatir biaya logistik justru akan membengkak jika tabung menjadi lebih besar dan berat.
Kekhawatiran ini muncul karena masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa menggunakan LPG 3 kg yang praktis, ringan, dan mudah ditemukan. Sementara tabung CNG dinilai masih membutuhkan sosialisasi besar-besaran jika benar-benar akan dijadikan substitusi nasional.
Pemerintah Masih Kaji Tahap Implementasi
Sampai saat ini pemerintah belum mengumumkan kapan CNG tabung 3 kilogram mulai dipasarkan secara massal. Namun sinyal kuat sudah diberikan bahwa program tersebut masuk dalam peta transformasi energi nasional 2026.
Langkah ini juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah memperluas diversifikasi energi, mulai dari biodiesel, bioetanol, hingga gas alam rumah tangga, agar ketahanan energi Indonesia tidak terus dibayangi tekanan impor dan subsidi yang membengkak.
Apabila seluruh kesiapan infrastruktur, tabung, regulator, dan distribusi berhasil dirampungkan, bukan tidak mungkin masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan melihat “tabung melon” mulai memiliki pesaing baru di dapur rumah masing-masing.













