Kanal24, Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Di tengah penguatan dolar AS dan ketidakpastian global, rupiah belum menunjukkan ruang penguatan yang signifikan.
Di pasar spot, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.150–Rp17.300 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan posisi rupiah yang masih tertahan di atas level Rp17.000, sekaligus menandakan tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Berdasarkan Laporan Monitor Pasar Bank Indonesia, data referensi terbaru melalui JISDOR mencatat nilai tukar rupiah pada 28 April 2026 berada di Rp17.245 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.227. Sementara itu, kurs transaksi Bank Indonesia menunjukkan rentang Rp17.140 (beli) hingga Rp17.313 (jual), yang menggambarkan volatilitas pasar valas yang masih terjaga dalam batas tertentu.
Pergerakan ini tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami tekanan seiring penguatan dolar AS. Sentimen global yang cenderung “risk-off” mendorong aliran dana ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga mata uang emerging markets, termasuk rupiah, ikut terdampak.
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah bergerak fluktuatif tanpa arah yang kuat. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.223 hingga Rp17.246 per dolar AS. Pola ini menunjukkan pasar masih berada dalam fase menunggu, dengan pelaku pasar mencermati perkembangan global, termasuk arah kebijakan moneter dan dinamika geopolitik.
Kondisi ini menempatkan rupiah dalam posisi yang sensitif terhadap perubahan sentimen global jangka pendek. Selama faktor eksternal masih dominan, ruang penguatan cenderung terbatas, sementara tekanan tetap berpotensi muncul sewaktu-waktu. Di sisi lain, stabilitas nilai tukar akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat respons kebijakan mampu meredam volatilitas tanpa mengganggu keseimbangan pasar domestik.(Din)














