Kanal24, Malang – Sebanyak 12 seniman dari berbagai daerah di Indonesia menghadirkan kembali sejarah Singhasari melalui Pertunjukan Seni Resonansi Jejak Singhasari yang digelar di Kamateatra Art Space, Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Minggu (03/05/2026). Kegiatan ini mengolah jejak masa lalu menjadi karya pertunjukan dan rupa yang relevan dengan perspektif ekologi, sosial, dan budaya.
Baca Juga:
Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Wisata Ekologis Gunung Katu & Wonokoyo
Ketua panitia, Elyda K. Rara, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari keinginan warga untuk membuka ruang diskusi tentang sejarah Singhasari melalui sudut pandang seni. “Kami sebagai warga Singosari ingin memberikan sebuah kegiatan yang sifatnya membuka ruang diskusi tentang bagaimana Singhasari yang di masa lalu kita lihat sebagai sebuah sejarah dengan kerajaan yang besar,” ujarnya. Ia menambahkan, sejarah tersebut kemudian “ditarik resonansinya untuk ditafsirkan oleh para seniman terpilih menjadi karya pertunjukan atau karya rupa.”

Selama empat hari pelaksanaan, para seniman tidak hanya berkarya, tetapi juga berinteraksi langsung dengan warga. Elyda menyebut, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses kreatif. “Ada yang membuat mural di tempat warga, kemudian ada yang berkolaborasi dengan warga, bahkan riset-risetnya juga langsung ke pengrajin cobek,” katanya.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah melalui skema Dana Indonesiana. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Endah Budi Heryani, menyatakan bahwa program ini merupakan kolaborasi antara kementerian dan pelaku budaya. “Ini adalah dana abadi kebudayaan yang digunakan untuk pemajuan kebudayaan yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan,” jelasnya. Ia menilai, pendekatan seni tradisi dan kontemporer dalam satu panggung mampu memperluas pemahaman masyarakat terhadap sejarah lokal.

Menurut Endah, strategi pelestarian budaya dilakukan dengan pendekatan inklusif terhadap berbagai aliran seni. “Kami tidak boleh cenderung ke salah satu, tapi harus merata ke semuanya,” ujarnya. Ia juga mendorong para pelaku budaya di Jawa Timur untuk memanfaatkan dana abadi kebudayaan guna mendukung kegiatan serupa di masa mendatang.
Sementara itu, salah satu seniman, Ade Ana, menampilkan konsep post kultural wayang krucil yang mengangkat kisah Rajasa. Ia mengemas pertunjukan wayang kayu dengan pendekatan sederhana agar relevan dengan generasi muda. “Saya mencoba menampilkan dengan simplicity pertunjukan wayang kayu dan menyelipkan beberapa bahasa agar diterima oleh anak-anak muda zaman sekarang,” ungkapnya. Menurutnya, upaya ini penting agar generasi muda mengenal dan melestarikan tradisi.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap Singhasari tidak hanya dipandang sebagai sejarah masa lalu, tetapi tetap relevan di masa kini. Elyda menegaskan, “Harapannya Singhasari tidak hanya dipandang sebagai sejarah yang sudah selesai atau usang, tetapi bisa terus ditarik relevansinya, terutama oleh anak muda.” (wan)














