Kanal24, Malang — Produktivitas tebu nasional masih tertahan di kisaran 60–80 ton per hektare. Angka ini jauh dari capaian masa lalu yang pernah menembus lebih dari 100 ton. Di tengah stagnasi tersebut, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) mulai mengakselerasi kerja sama dengan pusat riset tebu Australia sebagai upaya mengejar ketertinggalan teknologi dan kualitas bibit.
Guru Besar Departemen Budidaya Pertanian FP UB, Prof. Dr. Ir. Sudiarso, M.S., menegaskan bahwa kolaborasi ini diarahkan untuk memperbarui basis pengetahuan dan praktik budidaya tebu di Indonesia.
“Fokus awalnya adalah mendapatkan pengetahuan terkini, terutama terkait precision agriculture dan penggunaan bibit berkualitas untuk meningkatkan produktivitas,” tuturnya kepada Kanal24 (23/4/2026).
Pendekatan pertanian presisi dinilai menjadi salah satu kunci. Sistem ini memungkinkan pengelolaan lahan berbasis data, sehingga kebutuhan air, pupuk, dan perlakuan tanaman dapat disesuaikan secara lebih akurat.
Ketertinggalan Produktivitas
Data di lapangan menunjukkan sektor tebu nasional masih menghadapi persoalan mendasar. Produktivitas rata-rata berada di kisaran 60–80 ton per hektare, sementara rendemen gula nasional hanya sekitar 7–7,8 persen.
Angka tersebut tertinggal dari capaian masa lalu yang pernah mencapai produktivitas lebih dari 130 ton per hektare dengan rendemen dua digit.
Kondisi ini menandakan persoalan bukan sekadar pada luas lahan, tetapi pada kualitas budidaya, teknologi, dan varietas yang digunakan.
Kolaborasi Riset untuk Adaptasi Lokal
Kerja sama dengan Australia masih berada pada tahap awal, berupa pertukaran pengetahuan dan penjajakan riset bersama. Namun arah kolaborasi sudah diarahkan pada penguatan kapasitas nasional melalui penelitian berbasis kondisi tropis.
UB membuka peluang riset multilokasi, terutama pada lahan yang memiliki karakter serupa dengan wilayah tropis di Australia. Model ini memungkinkan pengujian teknologi dan varietas secara langsung di kondisi Indonesia.
“Kita ingin memperkuat produksi dalam negeri. Kolaborasi ini diarahkan pada riset bersama yang relevan dengan kebutuhan lokal,” tegas Prof. Sudiarso.
Kampus Turun ke Lapangan
Peran perguruan tinggi juga mulai bergeser. UB tidak berhenti pada pengembangan teori, tetapi terlibat langsung dalam pendampingan petani.
Salah satu bentuknya adalah keterlibatan mahasiswa dalam program bongkar ratoon, yaitu peremajaan tanaman tebu yang sudah tidak produktif.
“Tahun lalu kami mengirim sekitar 12 mahasiswa untuk mendampingi proses tersebut di lapangan,” ungkapnya.
Pendekatan ini mempercepat transfer pengetahuan sekaligus memastikan riset yang dilakukan memiliki dampak nyata.
Ancaman Baru: Penyakit Tanaman
Di tengah upaya peningkatan produktivitas, sektor tebu juga dihadapkan pada tantangan baru berupa serangan penyakit pada varietas tertentu, seperti luka api.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi menurunkan minat petani untuk tetap menanam tebu.
“Perlu penelitian agar penyakit ini bisa diantisipasi dan tidak menyebar,” kata Prof. Sudiarso.
Masalah ini memperkuat urgensi riset yang responsif terhadap kondisi lapangan.
Menuju Swasembada Gula
Upaya menuju swasembada gula masih menjadi pekerjaan besar. Pemerintah telah mendorong program peremajaan tanaman melalui bongkar ratoon, namun keberhasilannya sangat bergantung pada pendampingan dan konsistensi di lapangan.
Selain itu, peningkatan produktivitas juga bergantung pada kemampuan menjaga kesuburan tanah.
“Kesuburan tanah harus dijaga, baik fisik, kimia, maupun biologinya, agar produksi bisa optimal dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kerja sama UB dengan pusat riset tebu Australia membuka peluang percepatan inovasi di sektor gula. Namun efektivitasnya bergantung pada implementasi di lapangan.
Di tengah produktivitas yang stagnan dan munculnya tantangan baru, kolaborasi lintas negara dapat menjadi momentum strategis. Tanpa penerapan yang konsisten, kerja sama berisiko berhenti pada pertukaran pengetahuan semata. (din)













