Kanal24, Malang – Sebanyak 117 mahasiswa profesi keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (FIKES UB) mengikuti pelatihan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) sebagai bekal menghadapi situasi kegawatdaruratan di dunia kerja. Pelatihan ini menjadi langkah krusial untuk memastikan calon tenaga kesehatan tidak hanya paham teori, tetapi juga sigap saat nyawa dipertaruhkan.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan FIKES UB, Dr. Nia Novita Wirawan, STP, M.Sc, menjelaskan bahwa pelatihan BTCLS merupakan program yang diselenggarakan bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk HIPGABI, PPNI, dan institusi pendidikan kesehatan lainnya. “BTCLS ini adalah pelatihan yang membekali mahasiswa profesi, khususnya nurse, untuk menghadapi kasus kegawatdaruratan seperti serangan jantung,” ujarnya.

Ia menegaskan, kompetensi tersebut menjadi kemampuan inti yang wajib dimiliki tenaga kesehatan, terutama perawat sebagai garda terdepan dalam penanganan darurat. “Harapannya, mereka bisa melakukan tata laksana secara cepat dan tepat sehingga risiko kecacatan dan kematian dapat diminimalkan,” jelasnya.
Pelatihan ini menggunakan metode blended learning, yakni tiga hari pembelajaran daring untuk teori dan tiga hari luring untuk praktik langsung. Menurut Nia, pendekatan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikan keterampilan secara nyata di lapangan.
Hal senada disampaikan Ns Tony Suharsono, S.Kep., M.Kep, yang menyebut BTCLS sebagai pelatihan wajib bagi perawat. “Ini merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki, terutama untuk penanganan trauma dan henti jantung,” katanya. Ia menambahkan, sertifikat BTCLS menjadi salah satu syarat penting bagi perawat baru untuk melakukan registrasi profesi.

Tony menjelaskan, materi pelatihan mencakup berbagai keterampilan penting, mulai dari bantuan hidup dasar, penanganan jalan napas, hingga pertolongan pertama pada korban kecelakaan. “Peserta dilatih bagaimana melakukan resusitasi jantung paru, membaca irama jantung, hingga penanganan lanjutan pada kondisi darurat,” paparnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi dalam kelompok kecil agar pembelajaran lebih efektif. Setiap kelompok terdiri dari tujuh hingga delapan orang dengan pendampingan satu instruktur. “Mereka diberi waktu praktik secara intensif sampai benar-benar bisa melakukan tindakan secara mandiri,” jelasnya.
Sementara itu, fasilitator pelatihan, Ns Dian Rahmadin Akbar, S.Kep., M.Kep, menilai tantangan utama terletak pada perbedaan latar belakang peserta. “Peserta berasal dari berbagai daerah dengan pengalaman berbeda, sehingga perlu penyamaan persepsi dalam waktu yang singkat,” ujarnya.

Meski demikian, ia optimistis tingkat pemahaman peserta tetap tinggi. “Dengan sistem blended learning, penyerapan materi bisa mencapai 90 hingga 100 persen karena sebelumnya mereka sudah mendapatkan teori secara penuh,” katanya.
Melalui pelatihan ini, FIKES UB menegaskan komitmennya dalam mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap secara keterampilan dan sikap profesional saat terjun langsung di lapangan. (qrn)














