Oleh : Dr. Akhmad Muwafik Saleh*
Menjadi haji mabrur adalah dambaan dari semua jamaah haji. Karena haji yang mabrur tidak ada balasan yang melebihinya kecuali surga yang dijanjikan oleh Allah swt. Namun, untuk mendapatkannya tentu tidaklah mudah. Karena meraih surga itu tidaklah gratis. Al-jannatu mahfufatun bil balāyā, demikian kata hikmah Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.
Lalu bagaimana agar para jamaah haji serta calon jamaah haji bisa meraihnya? Mari kita bahas dari dua sisi ini berdasarkan pengalaman haji yang telah berlalu.
Bagi jamaah haji yang saat ini telah melaksanakan ibadah haji, kemabruran haji dapat diperoleh dengan mengambil pelajaran berharga selama di Tanah Suci. Yaitu, pertama, menerima dengan penuh syukur segala apa pun peristiwa dan kejadian yang menimpa dirinya selama di Tanah Suci karena hal itu adalah bentuk jamuan dari Allah swt. Terimalah jamuan Allah dengan penuh syukur dan penerimaan yang baik (husnudhan) bahwa semua itu adalah bentuk kasih sayang-Nya.
Kedua, istiqamahkan setiap amal kebaikan yang dilakukan di Tanah Suci hingga ke tanah air. Jika di Tanah Suci waktu-waktu kita hanyalah untuk menjaga dan menunggu waktu salat lima waktu, maka jadikanlah sisa waktu hidup kita hanyalah untuk menunggu waktu panggilan Allah dalam menjalankan perintah-Nya (salat).
Jika selama di Tanah Suci kita selalu mendambakan bisa salat di saf depan Ka’bah sehingga selain menjaga waktu, juga berupaya berangkat terlebih dahulu dengan penuh semangat untuk dapat memperolehnya, maka istiqamahkan semangat untuk salat berjamaah lima waktu di masjid jelang azan agar tetap berada di saf terdepan sebagai tanda kemabruran haji.

Jika di Tanah Suci kita mudah sekali bersedekah, membantu orang lain, dan peduli dengan sesama, maka di tanah air kebiasaan baik ini perlu dilanjutkan dan dijadikan budaya dalam kehidupan keseharian serta kehidupan sosial masyarakat.
Sementara itu, beberapa persiapan bagi para calon jamaah haji.
Pertama, persiapan fisik. Rangkaian aktivitas ibadah haji sangat menguras tenaga dan menuntut ketahanan jasmani yang prima. Oleh karena itu, calon jamaah diharapkan untuk mempersiapkan kebugaran tubuh dan kesehatan fisik. Karena syarat utama haji adalah istitha’ah (mampu), yaitu kemampuan fisik dan nonfisik, mengingat aktivitas ibadah haji banyak mengandalkan aktivitas fisik.
Kedua, ketahanan spiritual. Di Tanah Suci, jamaah akan dihadapkan pada berbagai situasi yang mengharuskan kesiapan mental dan batin. Segala bentuk tantangan akan mudah dilewati apabila nilai spiritualitas dalam diri sudah terbangun dengan kuat. Menjadi tamu Allah artinya harus bersiap untuk menerima setiap jamuan Allah. Jamuan-Nya berupa peristiwa dan kejadian, apakah baik ataupun buruk menurut kita. Sementara Allah pasti memberikan jamuan yang terbaik karena Dia adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sehingga setiap peristiwa yang terjadi di Tanah Suci sebagai sebuah jamuan Allah tentu itu adalah yang terbaik menurut Allah dan merupakan wujud dari kasih sayang-Nya.
Selanjutnya, ketiga adalah pemahaman ilmu manasik. Bekali diri dengan pemahaman dan ilmu manasik haji yang utuh sehingga setiap rukun serta wajib haji dapat dijalankan dengan sempurna sesuai syariat.
Haji mabrur bukan sekadar gelar kepulangan, melainkan sebuah transformasi jiwa yang abadi. Ketika Ka’bah telah benar-benar berpindah ke dalam hati, setiap embusan napas kita akan menjadi ketaatan, dan setiap langkah kaki di tanah air akan menebar kemanfaatan bagi sesama.
Perjalanan suci ini menuntut kesiapan yang utuh. Mari kita persiapkan fisik yang prima, matangkan pemahaman ilmu manasik yang sahih, serta tata spiritualitas sejak dini. Jangan menunda untuk mengetuk pintu rida-Nya. Segera melangkah, penuhi panggilan suci, dan bimbing diri Anda menuju puncak kemuliaan haji yang mabrur dan bernilai surga.
Bersama KBIHU Universitas Brawijaya sebagai penyedia layanan ibadah haji dan umrah, memberikan pembinaan rutin berkelanjutan secara gratis bagi kaum muslimin yang ada di Indonesia, khususnya Malang Raya, untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman tentang manasik haji dan umrah. Mari sejak sekarang bergabung dengan KBIHU Universitas Brawijaya. Insya Allah siap membimbing dan mendampingi Anda menuju haji yang mabrur.(Din)
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh
Penulis adalah Dosen UB – Pembimbing Ibadah Haji KBIHU UB – Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Tlogomas Malang













