Kanal24, Malang – Tumpukan kertas bekas yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai disulap menjadi karya seni yang mempercantik lingkungan. Melalui Workshop Moon Belt, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) mengajak warga Kelurahan Ketawanggede memanfaatkan limbah kertas menjadi ornamen kampung yang sarat makna.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Kampung Lingkar Kampus (KLK) FIB UB ini digelar di Balai RW 1 Kelurahan Ketawanggede, Rabu (22/7/2026). Workshop melibatkan dosen, mahasiswa, serta perwakilan warga dari berbagai RT dan RW untuk bersama-sama menciptakan instalasi Moon Belt sebagai identitas baru kawasan.
Baca juga:
Mahasiswa KKN UB Ajak Warga Manfaatkan Limbah Jadi Pupuk Organik
Program KLK Dekatkan Kampus dengan Warga
Dosen FIB UB, I Kadek Yudi Astawan, S.Sn., M.Sn., mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keinginan agar masyarakat di sekitar kampus ikut merasakan manfaat keilmuan yang dimiliki Universitas Brawijaya.

Menurutnya, selama ini berbagai program pengabdian lebih banyak menyasar wilayah yang jauh dari kampus. Padahal, warga di sekitar lingkungan universitas juga memiliki potensi besar untuk diberdayakan melalui pendekatan seni dan budaya.
“Harapan saya masyarakat juga terpapar pengetahuan dan IPTEKS yang ada di kampus, terutama masyarakat di sekitar kampus yang selama ini seolah-olah dekat, tetapi terasa berjarak dengan keilmuan yang ada di Universitas Brawijaya,” ujarnya.
Kadek menilai kolaborasi semacam ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat. Melalui kegiatan sederhana, warga tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga memiliki ruang untuk berinteraksi dengan gagasan-gagasan kreatif yang berkembang di lingkungan kampus.
Kertas Bekas Diolah Menjadi Ornamen Bernilai
Ketua pelaksana kegiatan, Nasywa Syifa, menjelaskan Moon Belt dibuat menggunakan bahan utama berupa kertas bekas yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Konsep tersebut dipilih sebagai bentuk edukasi mengenai pentingnya pemanfaatan limbah sekaligus upaya mempercantik kawasan permukiman.

“Tujuan utamanya agar sampah, khususnya kertas bekas, dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang berguna sekaligus memperindah kawasan,” katanya.
Dalam workshop tersebut, panitia menyediakan seluruh alat dan bahan, sedangkan peserta diberi kebebasan menentukan bentuk serta warna karya sesuai kreativitas masing-masing. Dengan cara itu, setiap ornamen memiliki karakter yang berbeda sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap hasil karya sendiri.
Nasywa berharap keterampilan yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang workshop. Perwakilan warga yang hadir diharapkan dapat menularkan pengetahuan tersebut kepada masyarakat lain sehingga Moon Belt berkembang menjadi ciri khas Kelurahan Ketawanggede.
Warga Sambut Antusias Inovasi dari UB
Antusiasme terlihat dari para peserta yang mengikuti pelatihan. Salah satunya Riani, warga Ketawanggede, yang mengaku baru mengetahui bahwa kertas bekas dapat diolah menjadi dekorasi rumah yang menarik.

“Inovasi dari Universitas Brawijaya ini sangat membantu. Ternyata dari kertas bekas bisa menjadi hiasan rumah yang menarik,” tuturnya.
Ia menilai proses pembuatannya mudah dipahami sehingga dapat dipraktikkan kembali secara mandiri di rumah. Menurutnya, keterampilan tersebut membuka peluang untuk memanfaatkan barang yang sebelumnya tidak terpakai menjadi produk yang memiliki nilai estetika.
Melalui Program Kampung Lingkar Kampus, FIB Universitas Brawijaya berharap kolaborasi antara kampus dan masyarakat terus berkembang. Tidak hanya menghasilkan karya seni berbahan daur ulang, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus memperkuat identitas kawasan yang dibangun dari kreativitas warganya. (ern)














