Kanal24, Malang – Dinas Kesehatan Kota Malang mengeluarkan imbauan serius kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman heat stroke seiring masuknya musim kemarau 2026 yang diprediksi membawa peningkatan suhu udara cukup ekstrem. Kondisi cuaca panas berkepanjangan dinilai berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Memasuki periode kemarau, suhu udara di wilayah Malang Raya mulai terasa lebih menyengat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Paparan panas yang terus meningkat tidak hanya menyebabkan tubuh mudah lelah, tetapi juga dapat memicu dehidrasi, kelelahan panas, hingga sengatan panas apabila masyarakat tidak melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, menegaskan bahwa heat stroke merupakan kondisi medis serius yang tidak boleh dianggap sepele. Menurutnya, suhu tubuh manusia bisa meningkat drastis ketika terpapar panas berlebih dalam waktu lama, sementara kemampuan tubuh untuk menetralkan temperatur mengalami penurunan.
Baca juga:
Jatim Bangun Surabaya Regional Railways Lines
Akibatnya, seseorang bisa mengalami gejala mulai dari pusing, mual, kulit memerah, detak jantung meningkat, hingga kehilangan kesadaran. Dalam kondisi lebih parah, heat stroke dapat memicu kerusakan organ tubuh bahkan berujung fatal jika terlambat mendapatkan penanganan.
“Peningkatan suhu ini harus diwaspadai. Jangan anggap sepele cuaca panas karena dampaknya bisa langsung ke kondisi tubuh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu cara paling sederhana untuk menghindari heat stroke adalah dengan membatasi aktivitas berat di luar ruangan pada jam-jam rawan, terutama ketika matahari berada pada intensitas tertinggi. Warga disarankan menyelesaikan aktivitas luar ruangan sebelum pukul 10.00 WIB atau menundanya hingga sore hari saat suhu mulai menurun.
Bagi masyarakat yang tetap harus bekerja di lapangan, penggunaan pelindung tambahan menjadi sangat penting. Mulai dari topi, payung, pakaian longgar berwarna terang, hingga sesering mungkin berteduh di area sejuk agar suhu tubuh tetap stabil dan tidak mengalami overheating.
Selain menghindari paparan matahari langsung, kecukupan cairan tubuh juga menjadi perhatian utama. Dinkes Kota Malang meminta masyarakat tidak menunggu rasa haus untuk minum. Dalam kondisi cuaca panas, tubuh kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat, sehingga kebutuhan air minum harian juga meningkat.
Asupan cairan minimal 2,5 hingga 3 liter per hari dinilai penting untuk menjaga metabolisme tetap berjalan normal dan membantu tubuh mempertahankan suhu ideal. Jika cairan tubuh menurun drastis, maka kemampuan pendinginan alami akan terganggu sehingga risiko heat stroke menjadi lebih besar.
Menurut Husnul, ketika tubuh mengalami dehidrasi berat, jantung akan bekerja lebih keras memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini dapat memperburuk kesehatan terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, penderita hipertensi, diabetes, maupun masyarakat dengan riwayat penyakit jantung.
Karena itu, kelompok-kelompok tersebut diminta lebih berhati-hati selama musim kemarau tahun ini. Aktivitas fisik berlebihan di bawah terik matahari sebaiknya dihindari, termasuk bepergian jauh tanpa persiapan air minum yang cukup.
Dinas Kesehatan juga mengimbau warga untuk melakukan pemeriksaan mandiri terhadap kondisi tubuh sebelum dan saat beraktivitas. Jika mulai merasakan lemas, pusing, pandangan kabur, keringat berlebih, atau tubuh terasa sangat panas, masyarakat diminta segera menghentikan aktivitas dan mencari tempat teduh.
Langkah pertolongan pertama dapat dilakukan dengan meminum air, mengompres tubuh, serta mengendurkan pakaian agar suhu tubuh turun secara perlahan. Namun jika gejala tidak membaik dan korban mengalami penurunan kesadaran, penanganan medis harus segera dilakukan.
Fenomena cuaca panas yang makin terasa dalam beberapa pekan terakhir menjadi sinyal bahwa masyarakat perlu lebih disiplin menjaga kondisi tubuh. Hal-hal sederhana seperti cukup minum, menggunakan pelindung saat keluar rumah, menghindari aktivitas siang hari, dan tidak memaksakan diri saat badan mulai lemah menjadi benteng utama mencegah heat stroke.
Musim kemarau memang identik dengan hari cerah dan langit tanpa hujan, tetapi di balik itu tersimpan ancaman kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Saat suhu udara terus naik, kewaspadaan menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.














