Kanal24, Malang – Matematika sering dipandang sebatas angka, rumus, dan hitungan abstrak di ruang kelas. Padahal, di tangan para peneliti, pendekatan matematika kini mulai digunakan untuk membaca persoalan yang jauh lebih kompleks, termasuk ancaman kepunahan satwa liar dan keseimbangan ekosistem.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap habitat satwa endemik Indonesia, riset berbasis pemodelan dinamik mulai dilirik sebagai alat untuk memprediksi pola populasi dan risiko ekologis di masa depan. Pendekatan ini dinilai penting karena mampu membantu merumuskan langkah intervensi sebelum penurunan populasi benar-benar tidak terkendali.
Pendekatan tersebut yang kemudian diangkat dalam disertasi doktoral di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya. Dalam sidang terbuka yang digelar di Ruang Sidang 5.1 Lantai 5 Mipa Center UB, Rabu (6/5/2026), kandidat doktor matematika UB, Vermawan, memaparkan model matematika yang digunakan untuk membaca dinamika interaksi antara Tarsius dan burung hantu sebagai predator di ekosistem Sulawesi.
Riset tersebut menyoroti bagaimana matematika mampu memprediksi kemungkinan keberlangsungan hidup hingga ancaman kepunahan dua spesies melalui pendekatan model dinamik predator-prey. Vermawan menjelaskan, penelitian itu terinspirasi dari fenomena ekologis yang nyata dan dikembangkan menggunakan analisis matematika untuk melihat pola populasi di masa depan.
Baca Juga :
Dinkes Kota Malang Ingatkan Bahaya Heat Stroke Saat Musim Kemarau 2026

“Jadi kami membahas tentang model dinamik dari interaksi dua populasi predator prey. Ini terinspirasi dari kasus Tarsius dengan predatornya. Kita mempelajari fenomenanya kemudian melakukan analisis secara dinamik dan bisa melihat potensi dinamika populasi di masa datang,” ujar Vermawan dalam sidang disertasi tersebut.
Ia menambahkan, penelitian tersebut memiliki urgensi besar karena Tarsius termasuk satwa yang dilindungi akibat ancaman kepunahan. Menurutnya, hasil riset dapat menjadi dasar rekomendasi intervensi agar populasi tetap stabil. “Melalui hasil penelitian ini kita bisa memberikan semacam rekomendasi intervensi apa yang bisa dilakukan untuk menjaga agar mereka bisa stabil atau menghindari kepunahan,” katanya.

Co Promotor, Dr. Hasan S. Panigoro, S.Pd., M.Si., menilai disertasi tersebut menunjukkan bahwa matematika tidak hanya berkutat pada angka dan teori abstrak, tetapi juga mampu menjangkau persoalan lingkungan dan ekologi secara nyata. Ia menyebut interaksi antara Tarsius dan burung hantu berhasil dimodelkan secara matematis untuk melihat kemungkinan eksistensi maupun kepunahan kedua spesies.
“Dari presentasi beliau ternyata matematika itu bisa mencakup semua aspek termasuk sistem ekologi. Interaksi antara Tarsius dan burung hantu ternyata bisa dimodelkan secara matematika dan bisa diinterpretasikan untuk melihat eksistensi ataupun kepunahan kedua spesies tersebut,” jelas Hasan.
Menurut Hasan, salah satu keunggulan utama disertasi itu ialah ditemukannya dua kemungkinan siklus hidup populasi atau limit cycle yang muncul secara bersamaan, yakni limit cycle stabil dan tidak stabil. Temuan tersebut bahkan berhasil dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Scopus Q1.
“Ini merupakan suatu kebanggaan karena dari suatu kasus sederhana bisa diangkat jadi model matematika kemudian menjadi publikasi terindeks Scopus Q1,” ungkapnya.
Hasan berharap riset tersebut tidak berhenti sebagai kajian akademik semata, melainkan terus dikembangkan menjadi riset terapan yang dapat membantu pemerintah merumuskan kebijakan konservasi. “Ketika kita sudah mengolahnya dengan data real, maka menjadi acuan pemerintah untuk mengambil kebijakan agar kepunahan Tarsius tidak terjadi di Sulawesi,” tandasnya. (ger)














