Kanal24, Malang – Status UNESCO City of Media Arts yang disandang Kota Malang selama ini masih terasa sebagai identitas simbolik yang belum sepenuhnya hidup di tengah masyarakat. Di tengah geliat industri kreatif dan perkembangan teknologi visual yang semakin pesat, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana identitas kota kreatif itu benar-benar tumbuh bersama komunitas, mengaktifkan ruang kota, dan menghadirkan pengalaman baru yang bisa dirasakan warga secara nyata.
Di banyak kota dunia, media art berkembang menjadi bagian penting dari wajah kota modern, mulai dari video mapping, immersive installation, hingga audio visual performance yang menghidupkan ruang publik dan mempertemukan seni dengan teknologi. Malang kini mulai bergerak ke arah tersebut melalui lahirnya Malang Media Art Community (MMAC), sebuah ruang kolaborasi baru yang mencoba menghubungkan komunitas kreatif, talenta muda, kampus, hingga pelaku industri kreatif dalam satu ekosistem media art yang lebih terbuka dan berkelanjutan.
Peresmian MMAC menjadi bagian dari rangkaian program “Road to Malang Menyala”, gerakan aktivasi kota berbasis media art yang melibatkan komunitas kreatif, kampus, pegiat teknologi, hingga ruang publik di Kota Malang.
Sebagai bagian dari rangkaian tersebut, aktivitas publik digelar di Taman Bola Spiral pada Sabtu malam (9/5/2026) dengan menghadirkan pertunjukan video mapping, live visual performance, audio visual experience, hingga ruang interaksi kreatif yang terbuka bagi masyarakat umum.
Acara tersebut juga menghadirkan penampilan Fisal, Wara Valerie, dan DJ Rizzba. Aktivasi ini menjadi simbol awal bagaimana media art mulai hadir lebih dekat dengan masyarakat sebagai pengalaman kolektif di ruang kota.
Perwakilan Malang Media Art Community (MMAC), Danar Tri Yudistira, mengatakan Road to Malang Menyala bukan sekadar agenda pertunjukan visual, melainkan langkah awal membangun fondasi ekosistem media art Kota Malang secara berkelanjutan.
“Malang sudah mendapatkan pengakuan sebagai City of Media Arts. Sekarang tantangannya adalah bagaimana status itu benar-benar hidup di tengah masyarakat dan bisa dirasakan secara nyata. Karena media art bukan hanya tentang visual, tetapi tentang bagaimana ruang, teknologi, budaya, dan manusia bisa saling terhubung,” ujarnya.
Menurut Danar, media art memiliki potensi besar untuk menghidupkan ruang publik sekaligus membuka ruang kolaborasi baru antara komunitas, pemerintah, kampus, dan industri kreatif.
Dalam pengembangannya, MMAC juga terhubung dengan program DIPA MediArt bersama Universitas Brawijaya yang berfokus pada pengembangan ekosistem media art, inkubasi talenta, hingga aktivasi ruang kota berbasis seni dan teknologi. DIPA MediArt akan diproyeksi sebagai platform yang menghubungkan talenta, teknologi, dan ruang publik melalui program pengembangan ekosistem kreatif dan aktivasi visual ruang kota.
Program tersebut juga terintegrasi dengan Kemilau Brawijaya yang diarahkan untuk membangun pengalaman visual dan aktivasi ruang kampus melalui media art, sekaligus memperkuat posisi Universitas Brawijaya sebagai bagian dari penggerak ekosistem kreatif Kota Malang.
UB Medcom turut disebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem tersebut melalui dukungan media, pengembangan talenta kreatif, serta penghubung kolaborasi antara kampus, komunitas, dan ruang publik.
Kolaborasi lintas komunitas bersama Malang Creative Fusion (MCF), dukungan Pemerintah Kota Malang dalam aktivasi ruang publik, hingga keterlibatan universitas dan sekolah diharapkan mampu memperkuat ekosistem media art yang aktif, inklusif, dan berkelanjutan.
MMAC menilai kota kreatif tidak dibangun hanya dari pengakuan internasional, tetapi dari keberanian menghadirkan ruang kolaborasi dan memberi panggung bagi talenta lokal untuk tumbuh bersama masyarakat.
Melalui Road to Malang Menyala, gerakan ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya pengalaman baru di ruang kota, ketika seni, teknologi, dan masyarakat dapat saling terhubung dalam wajah baru Kota Malang yang lebih hidup dan kreatif.(Din)














