Kanal24, Malang – Di tengah menjamurnya coffee shop di Kota Malang, ruang nongkrong hari ini mulai mengalami pergeseran fungsi. Kafe tidak lagi sekadar tempat minum kopi atau bekerja dengan laptop, tetapi perlahan berubah menjadi titik temu kultur, komunitas, hingga ruang lahirnya gerakan kreatif anak muda kota.
Fenomena itu terlihat dari semakin banyaknya kolaborasi antara pelaku usaha kreatif, komunitas seni, hingga media art yang mencoba menghidupkan ruang kota dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi hari ini. Di tengah geliat tersebut, Bento Kopi memilih mengambil peran bukan hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi sebagai bagian dari aktivasi kultur kreatif di Kota Malang.
Melalui kolaborasi bersama DIPA MediArt, Bento Kopi menghadirkan program bertajuk TERLANJUR BISING yang mempertemukan kultur hip hop, visual, komunitas, dan pengalaman ruang dalam satu aktivasi kreatif bersama rapper asal Malang, MAZMO.
Baca juga : Malang Mulai “Menyala”, Media Art Didorong Jadi Identitas Baru Kota
Program ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman kreatif yang lebih hidup di tengah perkembangan identitas Malang sebagai UNESCO City of Media Arts. Namun berbeda dari pendekatan formal atau seremonial, aktivasi ini justru tumbuh dari kultur independen dan ruang-ruang komunitas yang dekat dengan keseharian anak muda kota.
Bagi Bento Kopi, ruang kreatif tidak harus lahir dari venue besar atau event eksklusif. Kultur justru tumbuh dari tongkrongan, percakapan komunitas, dan ruang yang memberi kesempatan bagi kreativitas lokal untuk hidup.
Hip hop sendiri memiliki sejarah panjang di Malang sebagai kultur independen yang berkembang dari komunitas kecil, tongkrongan, hingga panggung-panggung alternatif. Di tengah perubahan tren digital dan industri kreatif yang semakin cepat, kultur tersebut tetap bertahan karena tumbuh dari kedekatan komunitasnya.
MAZMO menjadi salah satu representasi perjalanan kultur itu. Kehadirannya dalam TERLANJUR BISING disebut bukan sekadar penampilan musik, tetapi bagian dari upaya menjaga ruang ekspresi kreatif tetap hidup di tengah kota.
Sementara itu, DIPA MediArt hadir sebagai platform aktivasi media art yang berupaya menghubungkan komunitas, teknologi visual, talenta kreatif, dan ruang kota dalam satu gerakan ekosistem kreatif yang lebih berkelanjutan.
Kolaborasi antara Bento Kopi, komunitas kreatif, dan DIPA MediArt memperlihatkan bagaimana ruang-ruang alternatif mulai mengambil peran dalam membangun wajah baru Kota Malang. Media art, musik, dan kultur urban perlahan bergerak keluar dari ruang eksklusif menuju ruang yang lebih dekat dengan masyarakat.
TERLANJUR BISING pun menjadi simbol kecil bahwa kultur kreatif kota tidak selalu lahir dari panggung besar. Kadang ia tumbuh dari tempat nongkrong sederhana, komunitas yang bertahan, dan suara-suara independen yang terus hidup di tengah kota.(Din)














