Kanal24, Malang – Dinamika geopolitik Asia Barat menjadi sorotan dunia internasional pasca Ramadhan War 2026. Konflik kawasan yang melibatkan berbagai kepentingan global memunculkan tantangan baru dalam bidang keamanan, diplomasi, energi, hingga stabilitas ekonomi internasional. Kondisi tersebut mendorong kalangan akademisi untuk memperdalam kajian strategis mengenai hubungan antarnegara besar di kawasan Asia Barat.
Merespons isu tersebut, Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “Navigating Strategic Waters in Post Ramadhan War 2026: China, Iran, UE and the U.S. in West Asia Geopolitics” pada Senin (11/05/2026), di lingkungan kampus FISIP UB Malang.
Kegiatan yang menjadi bagian dari mata kuliah Studi Kawasan Timur Tengah ini menghadirkan narasumber utama Professor Dr. Mohammad Hassan Khani, Head of Department of International Relations Imam Sadegh University, Tehran, Iran. Acara dipandu oleh Abdullah sebagai moderator.
Baca juga:
DPR Soroti Minimnya Dana Pendidikan, UB Dorong Reformasi Tata Kelola

Dalam pemaparannya, Prof. Khani menjelaskan bahwa Asia Barat tetap menjadi kawasan strategis yang diperebutkan berbagai kekuatan global. Menurutnya, hubungan Iran, Tiongkok, Uni Eropa, dan Amerika Serikat menunjukkan kompleksitas geopolitik yang berkaitan dengan keamanan kawasan dan juga kepentingan ekonomi dan diplomasi internasional.
“Asia Barat akan terus menjadi pusat perhatian dunia karena posisi strategisnya dalam keamanan energi dan jalur perdagangan internasional,” ujar Prof. Khani dalam sesi pemaparan.
Iran dan Dinamika Politik Internasional
Salah satu pembahasan utama dalam kuliah tamu ini adalah posisi Iran di tengah tekanan politik serta ekonomi global. Prof. Khani menilai kebijakan luar negeri Iran sangat dipengaruhi sejarah politik negara tersebut, termasuk pasca Revolusi Islam 1979.
Ia menjelaskan bahwa strategi diplomasi dan perlawanan Iran merupakan bagian dari upaya mempertahankan kedaulatan nasional di tengah berbagai tekanan internasional.
“Prinsip independensi politik menjadi bagian penting dalam kebijakan luar negeri Iran hingga hari ini,” jelasnya.
Selain itu, Prof. Khani juga membahas bagaimana sanksi ekonomi internasional berdampak pada stabilitas kawasan dan hubungan diplomatik antarnegara. Menurutnya, konflik geopolitik di Asia Barat tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonomi global, terutama terkait energi dan jalur distribusi minyak dunia.
Peran Tiongkok, Uni Eropa, dan Amerika Serikat
Dalam diskusi tersebut, Tiongkok disebut memiliki pendekatan yang lebih berhati-hati dalam merespons konflik kawasan Asia Barat. Negeri Tirai Bambu dinilai lebih mengutamakan stabilitas ekonomi dan kepentingan investasi jangka panjang dibanding keterlibatan langsung dalam konflik terbuka.
Sementara itu, Uni Eropa menghadapi tantangan besar dalam menentukan posisi strategisnya di tengah hubungan yang kompleks antara Amerika Serikat dan Iran. Di sisi lain, Amerika Serikat tetap menjadi aktor dominan dalam arsitektur keamanan kawasan melalui pengaruh politik dan kebijakan luar negerinya.
“Persaingan kepentingan global di Asia Barat akan terus memengaruhi stabilitas internasional dalam beberapa tahun ke depan,” tambah Prof. Khani.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa Hubungan Internasional. Berbagai pertanyaan diajukan terkait dinamika Selat Hormuz, keamanan energi, sanksi ekonomi, hingga dampak konflik kawasan terhadap tatanan global.
Dorong Kolaborasi Akademik Internasional
Melalui kegiatan ini, Program Studi Hubungan Internasional FISIP UB berupaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai dinamika geopolitik global, khususnya kawasan Asia Barat. Selain menjadi ruang akademik untuk membahas isu internasional terkini, kuliah tamu ini juga diharapkan mampu memperkuat kolaborasi lintas negara antara Indonesia dan Iran dalam bidang pendidikan serta penelitian.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Universitas Brawijaya dalam menghadirkan forum diskusi internasional yang relevan dengan perkembangan isu global kontemporer.













