Kanal24, Malang – Di Kota Malang, pendidikan tumbuh hampir di setiap sudut jalan. Kampus berdiri berdampingan dengan kos mahasiswa, warung fotokopi, dan kedai kopi yang ramai hingga dini hari. Kota ini hidup dari pergerakan anak muda yang datang membawa mimpi.
Mahasiswa memenuhi jalan-jalan kecil di sekitar kampus. Diskusi berlangsung di ruang kelas, angkringan, hingga meja kopi. Kota Malang seolah tumbuh bersama kehidupan kampus dan para mahasiswa.
Namun di balik identitas besar sebagai kota pendidikan, masih ada anak-anak yang perlahan kehilangan kesempatan untuk terus belajar.
Sebagian harus berhadapan dengan tekanan ekonomi keluarga. Sebagian lain tumbuh di lingkungan yang tidak sepenuhnya mendukung pendidikan. Ada pula yang perlahan kehilangan motivasi belajar karena merasa masa depan terasa terlalu jauh untuk dijangkau.
Kegelisahan itu yang dibaca Muhammad Andika Rizqi Fauzi, S.AP., M.AP., saat maju dalam proses pemilihan Calon Anggota Dewan Pendidikan Kota Malang 2026–2030.
Rizqi hadir sebagai akademisi sekaligus pengusaha muda. Ia merupakan Dosen Praktisi Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya, Ketua Bidang di GAPEKNAS, mantan Pengawas Pemilu, dan kini tengah menempuh studi doktoral di Universitas Brawijaya.

Menariknya, cara Rizqi memandang pendidikan bergerak melampaui ruang birokrasi dan angka statistik.
Baginya, pendidikan perlu dipahami dari kehidupan nyata siswa sehari-hari: bagaimana kondisi keluarganya, bagaimana lingkungan sosialnya, apakah ia merasa didukung untuk terus belajar, hingga apakah sekolah mampu memberi harapan tentang masa depan.
Di tengah banyaknya diskusi tentang pendidikan unggul, Rizqi justru memulai dari persoalan paling mendasar: memastikan anak-anak tetap bisa bertahan di sekolah.
Ia melihat Kota Malang sebenarnya memiliki modal pendidikan yang sangat besar. Dalam karya ilmiahnya, Rizqi mencatat Harapan Lama Sekolah Kota Malang mencapai 15,77 tahun, didukung 59 perguruan tinggi dan sekitar 330 ribu mahasiswa aktif pada 2022.
Tetapi baginya, banyaknya kampus belum otomatis menyelesaikan persoalan pendidikan dasar dan menengah.
Di situlah paradoks itu muncul.
Kota Malang dikenal sebagai kota pendidikan, tetapi masih ada siswa yang rentan putus sekolah karena tekanan ekonomi, rendahnya dukungan keluarga, hingga pengaruh lingkungan sosial.
Menurut Rizqi, persoalan pendidikan sering kali tidak lahir dari ruang kelas semata. Banyak masalah justru bermula dari rumah.
Karena itu, ia memandang program pendidikan perlu hadir lebih dekat dengan kondisi nyata siswa.
Dalam konteks program seragam gratis dan beasiswa yang menjadi bagian dari program prioritas Pemerintah Kota Malang, Rizqi melihat keduanya sebagai langkah penting yang perlu dikawal melalui pendekatan lebih menyentuh kebutuhan masyarakat.
Bagi Rizqi, bantuan pendidikan perlu dipastikan tepat sasaran, berbasis data sosial ekonomi siswa, serta disertai pendampingan yang membuat anak-anak tetap memiliki motivasi untuk melanjutkan pendidikan.
Dari situlah ia membawa gagasan tentang collaborative governance atau tata kelola kolaboratif. Rizqi percaya pendidikan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah atau sekolah sendirian. Kampus perlu hadir melalui riset dan pendampingan. Dunia usaha bisa membantu melalui dukungan sosial dan penguatan keterampilan. Orang tua dan masyarakat ikut membangun lingkungan belajar yang sehat bagi anak-anak.
“Malang tidak kekurangan kampus. Tantangannya adalah memastikan anak-anak Kota Malang memiliki fondasi pendidikan yang kuat sejak dasar dan menengah,” ujar Rizqi.
Cara pandang itu membuat Rizqi tampil berbeda di tengah banyak figur pendidikan yang umumnya berbicara dalam bahasa birokrasi formal. Sebagai generasi muda, ia mencoba membaca pendidikan dari sisi yang lebih dekat dengan realitas sosial hari ini.
Ia memahami bahwa minat belajar siswa tidak tumbuh semata karena kurikulum atau nilai akademik. Minat belajar juga lahir dari rasa aman, dukungan guru, perhatian keluarga, lingkungan sosial yang sehat, hingga keyakinan bahwa pendidikan mampu membuka masa depan mereka.
Karena itu, Rizqi juga menyoroti pentingnya layanan pendampingan psikologis, bimbingan konseling, dan penguatan motivasi belajar siswa di sekolah.
Bagi Rizqi, Dewan Pendidikan Kota Malang seharusnya hadir sebagai ruang yang mampu membaca masalah, menjembatani berbagai kepentingan, sekaligus mengawal kebijakan agar benar-benar terasa dampaknya bagi masyarakat.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, ia melihat pendidikan membutuhkan keberanian untuk membangun kolaborasi yang terasa dampaknya bagi siswa dan keluarga.
Sebab pada akhirnya, kota pendidikan tidak diukur dari banyaknya kampus atau megahnya gedung sekolah. Kota pendidikan adalah kota yang memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar, bertahan, dan percaya bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.(Din)













