Kanal24, Malang – Tidak sedikit pekerja yang pernah berada di titik jenuh hingga merasa tidak lagi nyaman berada di tempat kerja. Rutinitas yang monoton, tekanan pekerjaan, lingkungan kerja yang tidak sehat, hingga minimnya apresiasi sering kali memunculkan pertanyaan besar: lebih baik resign atau tetap bertahan?
Keputusan untuk keluar dari pekerjaan memang bukan perkara mudah. Di satu sisi, banyak orang ingin mencari lingkungan yang lebih sehat dan peluang karier yang lebih baik. Namun di sisi lain, kondisi ekonomi, tanggung jawab finansial, dan ketidakpastian dunia kerja membuat banyak karyawan memilih bertahan meski sudah tidak bahagia.
Fenomena bertahan di pekerjaan meski tidak lagi nyaman kini dikenal dengan istilah job hugging. Kondisi ini terjadi ketika seseorang memilih tetap bekerja karena merasa lebih aman dibanding mengambil risiko mencari pekerjaan baru.
Baca juga:
Review Buku Madilog, Karya Tan Malaka Ubah Cara Berpikir
Meski terlihat aman, terlalu lama bertahan di lingkungan kerja yang membuat stres juga bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental dan produktivitas. Karena itu, penting memahami apakah rasa tidak nyaman yang muncul hanya sementara atau justru menjadi tanda bahwa sudah waktunya mencari perubahan.
Tanda-Tanda Sudah Tidak Cocok dengan Tempat Kerja
Ada beberapa tanda yang sering muncul ketika seseorang mulai kehilangan kenyamanan dalam bekerja. Salah satunya adalah hilangnya motivasi setiap kali memulai hari kerja. Aktivitas yang sebelumnya terasa menyenangkan berubah menjadi beban yang menguras energi.
Selain itu, kondisi lain yang perlu diperhatikan adalah ketika pekerjaan mulai memengaruhi kesehatan mental dan fisik. Tekanan berkepanjangan dapat memicu stres, burnout, sulit tidur, hingga menurunnya produktivitas sehari-hari.
Kurangnya ruang berkembang juga menjadi alasan umum seseorang ingin resign. Banyak pekerja merasa kariernya stagnan, tidak mendapat tantangan baru, atau merasa kemampuan mereka tidak berkembang selama bertahun-tahun bekerja di tempat yang sama.
Lingkungan kerja yang toxic juga sering menjadi faktor utama. Mulai dari budaya kerja tidak sehat, atasan yang terlalu menekan, hingga konflik berkepanjangan dengan rekan kerja dapat membuat seseorang kehilangan semangat bekerja.
Kapan Sebaiknya Bertahan?
Meski rasa jenuh muncul, resign bukan selalu solusi terbaik. Ada kalanya seseorang hanya sedang mengalami fase lelah atau burnout sementara akibat tekanan pekerjaan yang tinggi.
Sebelum memutuskan keluar, penting untuk mengevaluasi apakah masalah yang terjadi masih bisa diperbaiki. Misalnya dengan berdiskusi bersama atasan, mengambil cuti untuk memulihkan kondisi mental, atau mencoba mencari tantangan baru di dalam perusahaan.
Banyak pekerja juga memilih bertahan karena mempertimbangkan stabilitas finansial. Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, memiliki pekerjaan tetap sering dianggap lebih aman dibanding keluar tanpa persiapan matang.
Selain itu, lingkungan kerja baru belum tentu lebih baik. Tidak sedikit orang yang akhirnya menyesal resign karena tempat kerja sebelumnya ternyata lebih nyaman dibanding pekerjaan baru yang mereka pilih.
Hal yang Perlu Dipikirkan Sebelum Resign
Jika keinginan resign semakin kuat, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar keputusan tersebut tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Pertama, pastikan kondisi keuangan cukup aman. Idealnya seseorang memiliki dana darurat sebelum memutuskan keluar dari pekerjaan, terutama jika belum mendapatkan pekerjaan baru.
Kedua, evaluasi tujuan karier jangka panjang. Resign sebaiknya bukan sekadar pelarian dari rasa bosan, tetapi langkah untuk mendapatkan peluang yang lebih baik dan sesuai dengan tujuan hidup.
Ketiga, perhatikan kondisi kesehatan mental. Jika pekerjaan sudah berdampak serius terhadap kesehatan emosional dan kualitas hidup, mencari lingkungan baru bisa menjadi keputusan yang lebih sehat.
Banyak profesional juga menyarankan untuk mulai mencari peluang baru sebelum resmi resign. Cara ini dinilai lebih aman karena memberikan kepastian finansial sekaligus mengurangi tekanan selama masa transisi.
Pada akhirnya, keputusan resign atau bertahan adalah pilihan pribadi yang harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Tidak semua rasa jenuh berarti harus pergi, tetapi tidak semua bertahan juga berarti loyalitas yang sehat. Yang terpenting adalah memastikan pekerjaan tetap mendukung kesehatan mental, pertumbuhan diri, dan kualitas hidup secara keseluruhan.













