Kanal24, Malang – Di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang terus berkembang, pendekatan budaya dan sejarah dinilai menjadi jalan penting untuk memperkuat hubungan antarbangsa. Dialog lintas peradaban yang menempatkan sejarah, sastra, spiritualitas, dan pertukaran budaya sebagai fondasi hubungan internasional menjadi sorotan dalam diskusi akademik internasional yang mempertemukan akademisi Indonesia dan Iran.
Gagasan tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk “Iran and the Malay-Indonesian World: Historical and Contemporary Relations” yang digelar secara virtual melalui Zoom pada Senin (18/05/2026) pukul 13.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, diplomat budaya, dan pegiat literasi dari kedua negara untuk membahas hubungan historis serta masa depan relasi Iran dan dunia Melayu-Indonesia.
Baca juga:
Prabowo Panggil Ketua PPATK, Pengawasan Aliran Dana Pemerintah Diperketat
Empat pembicara hadir dalam webinar tersebut, yakni Prof. Maziar Mozaffari Falarti dari Faculty of World Studies University of Tehran, Dr. Yahya Jahangiri selaku Cultural Counsellor of the Embassy of the Islamic Republic of Iran, Yusli Effendi, S.IP., MA., Koordinator Brawijaya Institute of Islamic Civilization and Middle East Studies (BICMES), serta Dr. Hossein Bahrami, CEO Green Palm Publications. Diskusi dipandu oleh Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., Director Iran Corner Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya.
Iran dan Indonesia Dinilai Punya Modal Persatuan di Tengah Perbedaan
Dalam paparannya, Dr. Yahya Jahangiri menyoroti kedekatan budaya dan linguistik antara Iran dan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa sejumlah kosakata dalam bahasa Indonesia memiliki keterhubungan historis dengan bahasa Persia, termasuk istilah “pasar” yang berkaitan dengan kata “bazar”.
Menurutnya, Iran dan Indonesia memiliki posisi strategis di dunia Muslim. Iran dikenal sebagai salah satu pusat masyarakat Muslim Syiah, sedangkan Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim Sunni terbesar di dunia.
Ia menilai kedua negara memiliki modal besar untuk menunjukkan praktik koeksistensi, persaudaraan, dan persatuan di tengah keberagaman mazhab maupun budaya.
Cultural Foresight Jadi Jalan Baru Diplomasi Peradaban
Sementara itu, Yusli Effendi memaparkan materi bertajuk “Beyond War: Reimagining Iran and Indonesia Civilizational Encounter”. Ia menekankan pentingnya melihat hubungan Iran dan dunia Melayu-Indonesia sebagai interaksi antarperadaban yang setara, bukan relasi superior dan inferior.
Melalui pendekatan cultural foresight, Yusli menjelaskan bahwa memori budaya dapat menjadi jalan untuk meredakan ketegangan geopolitik kontemporer dan membuka ruang baru bagi diplomasi berbasis peradaban.
Ia juga menyinggung bagaimana sejarah perdagangan, sastra, dan spiritualitas telah lama mempertemukan Persia dan Nusantara dalam satu jalur peradaban yang saling memengaruhi.

Iran Corner UB Didorong Jadi Ruang Dialog Budaya
Webinar ini turut menegaskan pentingnya keberadaan Iran Corner di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya sebagai pusat dialog budaya dan pendidikan.
Iran Corner diharapkan menjadi ruang strategis untuk memperkuat kerja sama riset, pertukaran pengetahuan, dan pengenalan masyarakat Indonesia terhadap sejarah serta peradaban Iran.
Pada akhir diskusi, para pembicara sepakat bahwa hubungan Indonesia dan Iran perlu terus dikembangkan melalui pendekatan pendidikan, budaya, dan dialog peradaban sebagai fondasi hubungan kedua bangsa di masa depan. (nid)














