Kanal24, Malang – Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap penguatan solidaritas sosial menjadi salah satu alasan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) terus memperluas pelaksanaan kurban Idul Adha dari tahun ke tahun. Tidak hanya diposisikan sebagai ibadah tahunan, kegiatan kurban kini diarahkan menjadi ruang kolaborasi sosial yang melibatkan sivitas akademika, alumni, pekerja kampus, hingga masyarakat sekitar agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut terlihat dalam pelaksanaan “Festival Kurban” FT UB yang digelar pada Kamis (28/5/2026) di lingkungan Fakultas Teknik UB. Tahun ini, jumlah hewan kurban mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya dengan total 3 ekor sapi dan 16 kambing yang berhasil dihimpun dari berbagai elemen kampus.
Baca juga:
UB Terjunkan Hampir 1.000 Mahasiswa dan Dosen Kawal Hewan Kurban, Waspadai PMK hingga Cacing Hati

Peningkatan jumlah hewan kurban itu dinilai bukan sekadar capaian kuantitatif, melainkan menjadi indikator tumbuhnya kesadaran kolektif sivitas akademika terhadap pentingnya nilai berbagi dan kepedulian sosial di tengah kehidupan kampus yang semakin dinamis.
Dekan Fakultas Teknik UB, Prof. Ir. Hadi Suyono, S.T., MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., menegaskan bahwa pelaksanaan kurban di lingkungan kampus memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar ritual keagamaan. Menurutnya, Idul Adha menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antarmanusia sekaligus menumbuhkan empati sosial.
“Kurban ini harus kita maknai sebagai bagian dari ibadah. Ada konteks hubungan dengan Allah, tapi juga ada konteks solidaritas kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, distribusi hewan kurban sengaja diarahkan agar mampu menjangkau berbagai lapisan penerima manfaat, mulai dari sivitas akademika, tenaga pendukung kampus, masyarakat sekitar, hingga pondok pesantren mitra yang selama ini memiliki hubungan dengan Fakultas Teknik UB.
“Kami membagikan ke seluruh sivitas, kemudian masyarakat sekitar, termasuk pondok pesantren mitra. Jadi harus ada impact-nya kepada masyarakat,” tambahnya.
Menurut Hadi, peningkatan jumlah hewan kurban tahun ini menunjukkan adanya pertumbuhan partisipasi dari berbagai pihak, termasuk alumni yang mulai terlibat lebih aktif dalam kegiatan sosial kampus. Jika tahun sebelumnya jumlah kambing berkisar 12 ekor, kini meningkat menjadi 16 ekor dengan tambahan partisipasi dari berbagai komunitas internal FT UB.
“Ini menunjukkan peningkatan. Tahun lalu kambing sekitar 12, sekarang sudah 16 atau 17. Kita berusaha terus naik,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui peningkatan partisipasi tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait kesiapan sumber daya manusia dalam proses penyembelihan dan distribusi hewan kurban. Keterbatasan tenaga ahli penyembelihan menjadi salah satu kendala yang masih dihadapi panitia.
“Keterlibatan sekarang lebih banyak, termasuk alumni. Tapi memang ada keterbatasan tenaga dan keahlian, sehingga belum bisa menampung lebih banyak hewan,” jelasnya.

Di sisi lain, pelaksanaan Festival Kurban FT UB juga dirancang tidak hanya berorientasi pada proses penyembelihan, tetapi sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan sosial di lingkungan kampus. Ketua Takmir Masjid Al Hadiid FT UB, Prof. Ir. Ludfi Djakfar, MSCE., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir rangkaian kegiatan kurban sengaja dilaksanakan selama dua hari untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi warga kampus.
“Mulai dua tahun lalu, kita laksanakan satu hari setelah Idul Adha, agar memberi kesempatan warga Fakultas Teknik untuk berpartisipasi,” ujarnya.
Menurut Ludfi, skema pelaksanaan tersebut membuat lebih banyak sivitas akademika dan alumni dapat terlibat langsung, baik dalam proses penyembelihan, pengemasan, maupun distribusi daging kurban. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran nilai gotong royong yang selama ini menjadi bagian penting dari budaya kampus.
Ia menambahkan, distribusi daging kurban diprioritaskan bagi pekerja yang selama ini menjadi bagian penting dari aktivitas kampus sehari-hari, seperti petugas kebersihan, tenaga keamanan, staf pendukung, serta masyarakat di sekitar lingkungan FT UB.
“Fokus kami adalah CS, security, staf, dan juga masyarakat sekitar, termasuk anak yatim di beberapa lokasi terdekat,” jelas Ludfi.
Selain itu, kegiatan kurban juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antaralumni dan sivitas akademika yang selama ini tersebar di berbagai daerah maupun sektor pekerjaan. Banyak alumni yang kembali hadir dan terlibat dalam kegiatan sosial tersebut sebagai bentuk kontribusi terhadap almamater.
“Ini momen berbahagia karena bisa berkumpul dalam kegiatan kebaikan,” katanya.
Pelaksanaan Festival Kurban FT UB tahun ini memperlihatkan bagaimana kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang akademik, tetapi juga sebagai pusat penguatan nilai sosial dan kemanusiaan. Melalui kegiatan semacam ini, FT UB berupaya menanamkan bahwa semangat berbagi dan kepedulian sosial harus menjadi budaya yang terus tumbuh di lingkungan pendidikan tinggi.
Ke depan, FT UB berharap partisipasi dalam kegiatan kurban dapat terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya kontribusi sosial. Kampus juga menargetkan agar manfaat kegiatan kurban tidak berhenti pada momentum Idul Adha semata, melainkan mampu menciptakan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. (qrn)














