Kanal24 – Ketika nilai tukar rupiah menyentuh kisaran Rp18.156 per dolar AS, sebagian orang mungkin melihatnya sebagai angka yang hanya relevan bagi investor, bankir, atau pelaku pasar modal. Namun bagi jutaan keluarga Indonesia, pelemahan rupiah datang pada saat yang tidak ideal: ketika biaya hidup terus meningkat, lapangan kerja berkualitas semakin sulit diperoleh, dan semakin banyak keluarga merasa ruang untuk menabung maupun meningkatkan taraf hidup semakin sempit.
Yang menarik, keresahan masyarakat hari ini tidak hanya tercermin dari nilai tukar. Dalam setahun terakhir, jumlah kelas menengah Indonesia kembali menyusut. Data yang diolah Mandiri Institute menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Artinya, sekitar 1,2 juta orang keluar dari kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional.
Baca juga : Pasar Tidak Membeli Janji: Mengapa Rupiah dan IHSG Belum Tersulut Diplomasi Presiden Prabowo?
Di saat yang sama, kelompok aspiring middle class atau masyarakat yang berada tepat di bawah kelas menengah justru bertambah menjadi sekitar 142 juta orang. Kelompok ini belum tergolong miskin, tetapi sangat rentan terhadap guncangan ekonomi seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, kehilangan pekerjaan, atau meningkatnya beban cicilan.
Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar mengapa rupiah melemah, melainkan mengapa pelemahan rupiah terasa lebih berat dibanding beberapa tahun lalu.
Saat Bantalan Ekonomi Rumah Tangga Menipis
Bagi sebagian besar masyarakat, dampak pelemahan rupiah tidak datang dalam bentuk antrean penukaran dolar. Dampaknya hadir lebih halus tetapi nyata.
Indonesia masih mengandalkan impor untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan baku industri, komponen elektronik, alat kesehatan, mesin produksi, hingga sebagian kebutuhan energi. Ketika dolar menguat, biaya impor meningkat dan pada akhirnya memberi tekanan pada biaya produksi di dalam negeri.
Dalam kondisi normal, masyarakat mungkin masih memiliki ruang untuk menyerap kenaikan harga. Namun ketika daya tahan ekonomi rumah tangga mulai melemah, setiap kenaikan biaya hidup terasa lebih berat.
Fenomena ini sejalan dengan temuan sejumlah akademisi yang menyoroti menyusutnya kelas menengah Indonesia. Ekonom Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, menyebut penurunan kelas menengah bukan sekadar persoalan statistik, melainkan berkaitan dengan hilangnya rasa aman ekonomi dalam keluarga. Banyak rumah tangga kini berada di posisi rentan, cukup dekat untuk naik kelas tetapi juga cukup dekat untuk turun kelas ketika menghadapi tekanan ekonomi.
Dengan kata lain, pelemahan rupiah mungkin bukan penyebab utama tekanan ekonomi, tetapi menjadi faktor tambahan yang memperberat kondisi yang sudah lebih dulu dirasakan masyarakat.
Mengapa Investor Lebih Memilih Dolar?
Dari perspektif pasar keuangan, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik.
Ekonom Ferry Latuhihin menilai pergerakan rupiah dan pasar saham sangat dipengaruhi tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi serta kondisi global yang sedang berlangsung. Menurutnya, selama pasar belum melihat faktor yang cukup kuat untuk meningkatkan keyakinan investor, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut.
Ferry juga menyoroti kecenderungan investor untuk memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian meningkat.
“Dalam kondisi seperti ini, sebagian investor menilai memegang dolar lebih aman dibandingkan memegang saham,” ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi global saat ini. Tingginya daya tarik aset berbasis dolar AS membuat banyak investor internasional lebih berhati-hati menempatkan dana di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Akibatnya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dari arus modal global yang bergerak mencari keamanan dan kepastian.
Bukan Hanya Soal Kurs
Kesalahan yang sering terjadi dalam membaca ekonomi adalah menganggap pelemahan rupiah semata-mata sebagai persoalan nilai tukar.
Padahal yang lebih penting adalah apa yang terjadi di balik angka tersebut.
Ketika kelas menengah menyusut, konsumsi rumah tangga melemah, dan masyarakat mulai menahan pengeluaran, dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor ekonomi. Dunia usaha menjadi lebih berhati-hati melakukan ekspansi, perekrutan tenaga kerja melambat, dan aktivitas ekonomi kehilangan sebagian daya dorongnya.
Padahal konsumsi rumah tangga selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena itu, kondisi kelas menengah sering dianggap sebagai salah satu indikator kesehatan ekonomi yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Apa yang Sedang Diuji Pasar?
Pelemahan rupiah ke level Rp18.156 tidak otomatis berarti Indonesia sedang menghadapi krisis seperti 1998. Namun angka tersebut mengirimkan pesan bahwa pasar sedang menguji sesuatu yang lebih mendasar: tingkat kepercayaan terhadap kemampuan ekonomi Indonesia menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan.
Pasar tidak hanya melihat angka investasi yang diumumkan, proyek yang diresmikan, atau target pertumbuhan yang dipasang pemerintah. Pasar ingin melihat apakah investasi benar-benar terealisasi, apakah lapangan kerja berkualitas bertambah, dan apakah masyarakat merasakan perbaikan kesejahteraan yang nyata.
Karena itu, ketika banyak orang merasa ekonomi semakin berat, jawabannya tidak semata-mata berada pada kurs rupiah.
Jawabannya berada pada pertemuan antara berbagai tekanan sekaligus: daya beli yang melemah, kelas menengah yang menyusut, ketidakpastian lapangan kerja, serta menurunnya ruang aman ekonomi yang selama ini menjadi penyangga kehidupan jutaan keluarga Indonesia.
Dan ketika bantalan itu semakin tipis, setiap pelemahan rupiah terasa jauh lebih berat dibanding angka yang terlihat di layar perdagangan. (din)














