Kanal24, Malang – Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, ribuan warga Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, justru menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan energi pemersatu yang terus hidup. Melalui Karnaval Budaya Krebet 2026, jalanan desa berubah menjadi panggung besar kebersamaan, tempat tradisi, kreativitas, dan semangat guyub rukun berpadu dalam perayaan yang meriah sekaligus sarat makna sosial.
Apresiasi Pemerintah Kecamatan: Tradisi yang Terjaga dan Bermakna
Camat Bululawang, Hanindyo Daryawan P., S.STP., MAP., mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Krebet dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya melalui kegiatan karnaval tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga bagian penting dari identitas sosial masyarakat desa.
Baca juga:
Salah Jurusan atau Salah Mengenal Diri Sendiri?

“Tentunya kami sangat mengapresiasi kegiatan karnaval atau kirab budaya ini. Ini dalam rangka bersih desa dan juga menyongsong peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa karnaval budaya merupakan refleksi nyata dari nilai kebersamaan warga. Pemerintah kecamatan, lanjutnya, berharap kegiatan ini dapat terus berjalan dengan lancar, aman, dan kondusif.
“Dan tentunya ini juga salah satu wujud daripada kebersamaan kerukunan yang ada di warga masyarakat Desa Krebet,” tambahnya.
Tradisi Dua Tahunan yang Dinanti Warga

Sementara itu, Kepala Desa Krebet, Drs. H. Nurkholis, M.Si., menjelaskan bahwa Karnaval Budaya Krebet merupakan agenda rutin yang digelar setiap dua tahun sekali dan selalu menjadi momen yang dinantikan masyarakat.
“Karnaval ini temanya yaitu guyub rukun menuju masyarakat yang makmur. Agenda ini diadakan dua tahun sekali,” jelasnya.
Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial antarwarga serta mempererat hubungan antar kelompok masyarakat di desa.
Ragam Budaya dan Kreativitas Warga Warnai Karnaval
Rangkaian kegiatan dimulai dengan barisan Pemerintah Desa, disusul kelompok Bank Sampah, serta berbagai penampilan kesenian tradisional seperti tokoh Sakera dan Marlena yang menjadi daya tarik tersendiri dalam kirab budaya tersebut.
Pada malam hari, kemeriahan berlanjut dengan pawai yang dihiasi sound system dan lampu warna-warni, menambah semarak suasana dan antusiasme warga yang memadati sepanjang rute karnaval.
Antusiasme Warga dan Harapan Keberlanjutan
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Ribuan warga dari berbagai kalangan turut meramaikan acara, baik sebagai peserta maupun penonton.
“Alhamdulillah antusias sangat mendukung sekali, memang kegiatan kirab budaya semacam ini sangat diharapkan oleh masyarakat,” ungkap Nurkholis.
Pemerintah kecamatan juga menilai Desa Krebet telah menjadi contoh dalam pengelolaan kegiatan budaya berbasis masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki ruang kuat di tengah perkembangan zaman.
“Ini yang kelima kali dilaksanakan. Mudah-mudahan kegiatan kali ini juga bisa berjalan dengan lancar, aman, dan tertib,” ujar Hanindyo.
Budaya sebagai Perekat Sosial Masyarakat Desa
Ke depan, sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, dan masyarakat diharapkan terus diperkuat agar kegiatan budaya tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas, solidaritas, dan kebanggaan masyarakat Desa Krebet.
Karnaval Budaya Krebet 2026 pun menegaskan bahwa budaya lokal bukan sekadar tradisi yang dirayakan, melainkan fondasi sosial yang menjaga harmoni kehidupan masyarakat. (qrn)













