Kanal24, Malang – Penutupan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Tahun Akademik 2025/2026 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, Senin (22/6/2026), tak hanya menjadi penanda berakhirnya proses pembelajaran bahasa bagi mahasiswa internasional. Bagi Ilda Fatima Soares, mahasiswi asal Timor Leste, program tersebut menjadi perjalanan yang mengubah cara pandangnya terhadap Indonesia. Selama satu tahun mengikuti pembelajaran, ia tidak hanya mempelajari bahasa Indonesia, tetapi juga mengenal budaya, seni, hingga kehidupan masyarakat yang akan menjadi bekalnya untuk melanjutkan studi di Universitas Brawijaya.
Ilda mengaku pengalaman belajar di Program BIPA berbeda jauh dibandingkan pembelajaran yang pernah ia peroleh di negara asalnya. Menurutnya, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga diperkaya melalui kegiatan budaya, outing class, dan program imersi yang memperkenalkan peserta pada keberagaman Indonesia secara langsung.
Baca juga:
Naik 64 Peringkat QS WUR 2027, Seberapa Dekat Universitas Brawijaya Menuju Liga Kampus Global?
“Program BIPA tidak hanya mengajarkan bahasa Indonesia, tetapi juga banyak hal lain, terutama terkait budaya dan kuliner Indonesia melalui kegiatan pembelajaran di kelas,” ujar Ilda.
Selama mengikuti program, ia mengaku paling terkesan dengan kekayaan budaya Indonesia, khususnya ketika mempelajari seni tradisional seperti patung dan topeng. Berbagai kegiatan di luar kelas juga memberikan kesempatan baginya untuk mengunjungi sejumlah destinasi wisata dan mengenal kehidupan masyarakat Indonesia secara lebih dekat. Pengalaman tersebut membuatnya semakin nyaman menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Universitas Brawijaya.
Ingin Sebarkan Bahasa Indonesia di Timor Leste

Di balik pengalaman menyenangkan itu, Ilda mengaku sempat menghadapi tantangan besar ketika mulai mempelajari bahasa Indonesia dalam konteks akademik. Menurutnya, bahasa yang digunakan dalam perkuliahan jauh lebih kompleks dibandingkan bahasa percakapan sehari-hari karena memiliki banyak kosakata baru, struktur kalimat yang lebih formal, serta perbedaan makna dalam berbagai istilah ilmiah.
“Awalnya saya merasa bahasa Indonesia cukup mudah karena saya sudah memiliki dasar. Namun, setelah belajar lebih dalam, saya menyadari bahwa bahasa akademik cukup sulit karena terdapat banyak perbedaan makna kata dan struktur kalimat,” katanya.
Kesulitan tersebut perlahan dapat diatasi berkat dukungan teman-teman dan dosen selama mengikuti Program BIPA. Ilda secara khusus mengapresiasi bantuan salah satu rekannya, Rafli, yang kerap mendampinginya ketika menemui kendala dalam memahami materi. Menurutnya, suasana belajar yang terbuka membuat peserta tidak ragu untuk berdiskusi dan terus mengembangkan kemampuan bahasa Indonesia.
Setelah menyelesaikan Program BIPA, Ilda telah menyiapkan rencana besar untuk masa depannya. Ia ingin memanfaatkan seluruh pengalaman yang diperoleh selama berada di Universitas Brawijaya dengan menjadi pengajar bahasa Indonesia di Timor Leste. Menurutnya, masih banyak generasi muda di negaranya yang belum memiliki kesempatan mempelajari bahasa Indonesia secara mendalam. Ia juga berharap dapat menjalin kerja sama dengan Pusat Budaya Indonesia maupun Kedutaan Besar Republik Indonesia di Timor Leste agar semakin banyak masyarakat yang mengenal bahasa dan budaya Indonesia. Baginya, Program BIPA bukan sekadar bekal akademik, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan dua negara melalui bahasa, pendidikan, dan persahabatan. (cay)














