Kanal24, Malang – Sampah yang menumpuk, pelaku UMKM yang kesulitan meningkatkan produksi, hingga berbagai persoalan di tingkat kelurahan kini mendapat solusi dari tangan mahasiswa. Sebanyak 57 inovasi teknologi karya mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) resmi diserahkan kepada 57 kelurahan melalui Expo Inovasi Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) di Gedung Samantha Krida UB, Senin (29/6/2026).
Expo ini menjadi bukti bahwa inovasi kampus benar-benar turun ke lapangan. Mulai dari alat pengolah sampah, teknologi pendukung UMKM, hingga berbagai perangkat tepat guna lainnya disiapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
Dekan Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB, Prof. Yusuf Hendrawan, menyebut seluruh inovasi yang dihasilkan mahasiswa akan langsung disalurkan ke 57 kelurahan. “Sebanyak 57 kelompok menghasilkan karya inovasi teknologi tepat guna yang nantinya akan kita berikan secara langsung pada 57 kelurahan,” ujarnya.
Baca juga:
Raih Predikat WBBM, FTAB UB Jadi Rujukan Nasional Penerapan Zona Integritas

Ia menegaskan bahwa program ini merupakan upaya mengembalikan peran kampus sebagai pusat solusi bagi masyarakat. “Kita mencoba untuk mengembalikan kampus sebagai wadah solusi bagi permasalahan di masyarakat, khususnya melalui teknologi tepat guna,” tambahnya.
Sementara itu, Prof. Unti Ludigdo menilai inovasi yang dihasilkan mahasiswa bukan sekadar karya sederhana, melainkan hasil proses riset yang matang dan berdampak langsung.

“Kelihatannya yang dihadirkan di sini sesuatu hal yang sederhana, tetapi yang sederhana itu melalui satu kajian, satu riset, dan kemudian mewujud dalam bentuk inovasi-inovasi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan pemanfaatan teknologi di masyarakat, termasuk aspek purna hibah. Menurutnya, masyarakat perlu memahami cara penggunaan hingga perawatan alat. “Masyarakat harus tahu bagaimana mengoperasionalkan, memperbaiki, hingga ke mana harus membawa jika terjadi kerusakan,” tegasnya.
Camat Klojen, Willstar Taripar Hatoguan, mengapresiasi inovasi mahasiswa yang dinilai adaptif terhadap kebutuhan lapangan. Ia menyebut berbagai teknologi yang dihadirkan mulai dari pengolahan sampah organik, pemilah sampah plastik, hingga alat pendukung UMKM.
“Artinya apa yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa dari UB ini menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada di lapangan,” ujarnya.
Menurutnya, karakter wilayah perkotaan membuat fokus inovasi lebih condong pada persoalan lingkungan dan efisiensi produksi. “Masalah utamanya adalah limbah, sehingga alat-alat yang diproduksi memang kecenderungannya adalah tentang pengolahan lingkungan,” katanya.
Program ini juga menyasar 11 kelurahan dengan pendekatan berbasis kebutuhan spesifik di masing-masing wilayah. Setiap kelurahan mendapat intervensi teknologi sesuai permasalahan lokal yang diidentifikasi langsung oleh mahasiswa.
Ke depan, inovasi tersebut diharapkan tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dapat direplikasi di wilayah lain. “Teknologi tepat guna ini sangat berguna dan sangat bisa diduplikasi. Tinggal bagaimana kami di kelurahan bisa mengadopsi pola yang dipakai,” pungkasnya. (qrn)














