Kanal24, Malang – Bau menyengat dari kolam lele ternyata bukan sekadar mengganggu lingkungan. Di balik aroma tak sedap itu, kadar amonia yang tinggi juga bisa menjadi ancaman serius hingga menyebabkan kematian ikan. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya menghadirkan solusi berbasis Internet of Things (IoT) yang sukses mengantarkan mereka meraih juara pertama dalam Expo Inovasi Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M).
Ketua tim, Shika Zakya Arivia, menjelaskan inovasi tersebut berupa sistem monitoring kualitas air kolam yang mampu memantau kondisi kolam secara real time melalui aplikasi di telepon genggam.
Baca juga:
Beasiswa LPDP Tahap II 2026 Resmi Dibuka, Pendaftaran Mulai 30 Juni

“Inovasi dari kami sendiri itu tentang sistem monitoring air kolam ikan berbasis IoT. Jadi inovasi ini muncul karena masyarakat mengeluhkan bau tidak enak dari kolam ikan lele,” ujarnya.
Menurut Shika, bau yang muncul berasal dari tingginya kandungan gas amonia hasil limbah ikan. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu masyarakat sekitar, tetapi juga membahayakan kesehatan ikan.
“Kalau lele itu menghirup gas amonia di dalam kolam, itu akan membuat banyak lele berpotensi untuk mati,” jelasnya.
Alat yang dikembangkan tim mampu memantau lima parameter penting kualitas air, yakni suhu, pH, kadar amonia, Total Dissolved Solid (TDS), serta tingkat kekeruhan air. Seluruh data dikirim secara otomatis ke aplikasi berbasis IoT sehingga pembudidaya dapat memantau kondisi kolam kapan saja.
Apabila salah satu parameter melewati batas aman, sistem akan memberikan informasi kepada pengguna sehingga proses penggantian air dapat segera dilakukan, bahkan bisa dikendalikan langsung melalui ponsel.
“Kalau parameter sudah melebihi batas, mitra bisa langsung membersihkan atau menguras kolam secara otomatis melalui HP,” lanjut Shika.

Sementara itu, anggota tim, Fachrudin Arif Rahman, mengatakan proses pengembangan alat berlangsung sekitar satu bulan. Tahapan dimulai dari identifikasi persoalan di lapangan hingga perancangan sistem berbasis sensor.
“Kita identifikasi dulu masalahnya, ternyata banyak kolam di daerah Tologomas masih menggunakan kuras manual. Dari situ kita buat sistem berbasis sensor untuk memudahkan pengurasan otomatis,” katanya.
Sistem tersebut memanfaatkan sensor yang terhubung dengan mikrokontroler ESP32 untuk mengolah data dari setiap parameter kualitas air. Ketika kondisi air tidak lagi ideal, sistem dapat mengendalikan proses pergantian air sehingga kualitas kolam tetap terjaga.
“Parameter yang tidak sesuai bisa langsung dikendalikan untuk pergantian airnya, jadi kondisi kolam tetap optimal dan ikan tetap sehat,” ujar Fachrudin.
Melalui inovasi ini, mahasiswa FTAB UB menawarkan solusi praktis bagi para pembudidaya ikan, khususnya di kawasan perkotaan yang masih mengandalkan pengecekan kualitas air secara manual. Teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas budidaya sekaligus menekan risiko kematian ikan akibat buruknya kualitas air. (qrn)














