Kanal24, Malang – Banyak pendaki menganggap puncak sebagai akhir perjuangan. Setelah turun ke basecamp, muncul anggapan bahwa perjalanan pulang adalah bagian yang paling mudah. Padahal, justru di fase inilah risiko besar sering muncul tanpa disadari.
Jangan Anggap Perjalanan Pulang Mudah
Salah satu ancaman yang kerap diremehkan adalah microsleep, kondisi ketika seseorang tertidur beberapa detik tanpa disadari. Durasinya memang singkat, tetapi jika terjadi saat mengemudi, dampaknya bisa fatal. Microsleep umumnya dipicu oleh kelelahan dan kurang tidur dua hal yang hampir selalu menyertai aktivitas mendaki.
Merasa Kuat Bukan Berarti Siap
Di kalangan pendaki, ada asumsi populer: selama masih kuat turun gunung, berarti masih sanggup menyetir hingga rumah. Sekilas terdengar logis, tetapi asumsi ini keliru. Tubuh tidak selalu memberikan sinyal yang jujur.
Baca Juga:
Vertigo Bisa Ganggu Aktivitas Harian, Kenali Penyebab hingga Cara Mencegahnya
Selama pendakian, adrenalin membuat seseorang tetap merasa bertenaga meski cadangan energi menipis. Namun begitu aktivitas selesai dan tubuh mulai rileks, rasa lelah datang sekaligus. Mata terasa berat, konsentrasi menurun, dan fokus mulai hilang.
Ironisnya, banyak orang baru menyadari kantuk saat kepala mulai terangguk di balik kemudi titik di mana risiko sudah sangat tinggi. Microsleep dapat berlangsung antara satu hingga 30 detik, dan dalam waktu tersebut pengemudi kehilangan kendali penuh atas kendaraan.
Benarkah Kopi Solusi?
Banyak orang mengandalkan kopi sebelum perjalanan pulang. Kafein memang dapat meningkatkan kewaspadaan untuk sementara, tetapi bukan solusi utama. Kafein hanya menunda rasa kantuk, bukan menghilangkannya.
Efeknya pun tidak instan dan tidak bisa menggantikan kebutuhan tubuh untuk beristirahat. Bahkan, seseorang tetap bisa mengalami microsleep meski merasa lebih segar setelah minum kopi. Ini yang sering menjadi jebakan: merasa cukup sadar, padahal tubuh masih lelah berat.
Keselamatan Bagian dari Pendakian
Karena itu, penting untuk mengubah cara pandang. Pendakian belum selesai saat mencapai puncak atau kembali ke basecamp, melainkan saat semua anggota rombongan tiba di rumah dengan selamat.
Istirahat setelah turun gunung seharusnya menjadi bagian dari manajemen risiko, bukan dianggap kelemahan. Tidur satu hingga dua jam sebelum berkendara dapat membantu memulihkan konsentrasi. Alternatif lain adalah bergantian menyetir dengan rekan yang benar-benar segar atau memilih menginap sebelum melanjutkan perjalanan keesokan hari.
Langkah-langkah ini jauh lebih efektif dibanding sekadar mengandalkan musik keras, membuka jendela, atau minuman berkafein.
Pada akhirnya, mendaki bukan hanya soal menaklukkan jalur terjal, tetapi juga tentang memahami batas diri. Tidak semua keberanian layak dibanggakan. Terkadang, keputusan paling bijak adalah berhenti sejenak untuk beristirahat.
Sebab tidak ada puncak yang sebanding dengan keselamatan. Perjalanan pulang bukan sekadar penutup, melainkan penentu apakah pengalaman mendaki berakhir dengan selamat atau justru menyisakan penyesalan.(ern)













