Kanal24, Malang – Sensasi kepala terasa berputar hingga tubuh kehilangan keseimbangan sering kali dianggap sebagai pusing biasa. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda vertigo, gangguan keseimbangan yang dapat menghambat aktivitas sehari-hari bahkan meningkatkan risiko jatuh dan cedera.
Vertigo bukanlah penyakit, melainkan gejala dari gangguan pada sistem keseimbangan tubuh, terutama yang berkaitan dengan telinga bagian dalam atau sistem saraf pusat. Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba dan menimbulkan sensasi seolah lingkungan sekitar bergerak atau berputar.
Pada sebagian orang, vertigo hanya berlangsung beberapa detik. Namun, pada kasus tertentu, gejalanya bisa bertahan berjam-jam hingga berhari-hari dan membuat penderita kesulitan berdiri, berjalan, maupun berkonsentrasi saat bekerja.
Baca juga:
Media Art, Bahasa Baru Dunia Digital dan Masa Depan Kota Kreatif
Secara umum, vertigo terbagi menjadi dua jenis, yakni vertigo perifer dan vertigo sentral. Vertigo perifer merupakan jenis yang paling sering terjadi dan berkaitan dengan gangguan pada telinga bagian dalam. Sementara vertigo sentral berhubungan dengan gangguan pada otak atau sistem saraf pusat yang cenderung lebih serius.
Gejala Vertigo yang Perlu Diwaspadai
Gejala utama vertigo adalah sensasi berputar yang membuat penderita kehilangan keseimbangan. Kondisi ini sering disertai mual, muntah, telinga berdenging, hingga penglihatan kabur.
Pada beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami kesulitan berjalan, kepala terasa ringan, hingga tubuh terasa limbung. Gejala biasanya muncul mendadak, terutama ketika mengubah posisi kepala seperti bangun tidur, menoleh, atau menunduk.
Vertigo juga dapat menjadi tanda gangguan yang lebih serius apabila disertai bicara pelo, penglihatan ganda, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, atau sakit kepala hebat secara tiba-tiba. Kondisi tersebut perlu segera mendapatkan penanganan medis.
Penyebab Vertigo Tidak Bisa Disepelekan
Salah satu penyebab vertigo yang paling umum adalah Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), yaitu gangguan pada telinga bagian dalam akibat perpindahan kristal kecil yang memengaruhi sistem keseimbangan tubuh.
Selain BPPV, vertigo juga bisa dipicu oleh infeksi telinga bagian dalam, penyakit Meniere, cedera kepala, migrain, stres berlebih, hingga gangguan saraf dan stroke.
Faktor usia juga meningkatkan risiko seseorang mengalami vertigo. Orang berusia di atas 50 tahun, memiliki riwayat cedera kepala, kurang istirahat, atau mengalami stres berat disebut lebih rentan mengalami gangguan keseimbangan tersebut.
Cara Mengurangi Risiko Vertigo Kambuh
Meski tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya, risiko vertigo kambuh dapat diminimalkan dengan menjaga pola hidup sehat dan menghindari pemicu tertentu.
Penderita disarankan menghindari perubahan posisi kepala secara mendadak, mencukupi waktu istirahat, mengelola stres, serta menjaga asupan cairan tubuh. Selain itu, olahraga ringan dan latihan keseimbangan juga dapat membantu memperbaiki fungsi vestibular tubuh.
Jika vertigo muncul berulang atau semakin parah, pemeriksaan medis perlu dilakukan agar penyebab utamanya dapat diketahui. Penanganan sejak dini penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup penderita tetap optimal.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat memberikan terapi obat, latihan khusus untuk memperbaiki keseimbangan, hingga tindakan medis sesuai penyebab vertigo yang dialami pasien.













