Kanal24, Malang – Kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti kini menjadi fenomena yang semakin umum di tengah derasnya arus informasi digital. Banyak orang merasa harus terus mengikuti kabar terbaru agar tidak tertinggal tren, isu viral, maupun berita penting. Namun tanpa disadari, aktivitas scroll berkepanjangan itu justru memicu kecemasan, kelelahan mental, hingga gangguan fokus yang dikenal sebagai doomscrolling.
Fenomena doomscrolling semakin relevan di tengah meningkatnya penggunaan media sosial pada generasi muda yang hidup dalam budaya serba cepat dan selalu terkoneksi. Paparan informasi negatif yang terus-menerus membuat banyak orang sulit melepaskan diri dari layar gawai, meski sadar aktivitas tersebut berdampak buruk bagi kesehatan mental dan produktivitas sehari-hari.
Baca juga:
Q-Day 2029: Ancaman Kiamat Digital dari Komputer Kuantum
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling merupakan kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif atau memicu kecemasan melalui media sosial maupun portal berita digital. Aktivitas ini biasanya dilakukan secara berulang meski seseorang sudah merasa lelah atau tertekan.
Fenomena ini semakin kuat karena adanya algoritma media sosial yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Konten yang memancing emosi kuat seperti kemarahan, ketakutan, atau kecemasan cenderung lebih sering muncul di linimasa sehingga membuat pengguna terus terpancing untuk menggulir layar.
Selain itu, rasa takut tertinggal informasi atau Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu faktor utama yang membuat seseorang sulit berhenti scrolling. Pengguna merasa harus terus mengikuti perkembangan terbaru agar tetap relevan dalam percakapan sosial maupun lingkungan pertemanan.
Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental
Meski terlihat sederhana, doomscrolling dapat memberikan dampak serius terhadap kondisi psikologis seseorang. Kebiasaan ini diketahui dapat meningkatkan kecemasan, stres, insomnia, hingga menurunkan kualitas hidup apabila dilakukan secara berlebihan.
Paparan informasi negatif secara terus-menerus juga dapat memengaruhi fokus dan kestabilan emosi. Banyak pengguna media sosial akhirnya merasa cepat lelah secara mental, sulit berkonsentrasi, hingga kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas produktif.
Tidak sedikit pula yang mulai menganggap doomscrolling sebagai bentuk kecanduan digital. Seseorang bisa saja berniat membuka media sosial hanya beberapa menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam tanpa sadar.
Mengapa Doomscrolling Sulit Dihentikan?
Salah satu alasan utama doomscrolling sulit diputus adalah karena otak manusia secara alami lebih tertarik pada informasi negatif. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai negativity bias, yakni kecenderungan manusia lebih fokus terhadap ancaman atau kabar buruk dibanding informasi positif.
Media sosial memanfaatkan pola tersebut melalui sistem infinite scroll yang membuat pengguna terus menerima konten baru tanpa batas. Akibatnya, banyak orang scrolling secara otomatis tanpa benar-benar sadar apa yang sedang mereka cari.
Kebiasaan ini juga sering menjadi pelarian saat seseorang merasa bosan, stres, atau cemas. Tanpa kontrol yang baik, aktivitas scrolling akhirnya berubah menjadi rutinitas impulsif yang sulit dihentikan.
Cara Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling
Mengurangi doomscrolling tidak selalu harus dilakukan secara ekstrem dengan langsung berhenti total dari media sosial. Langkah sederhana seperti membatasi waktu penggunaan aplikasi, mematikan notifikasi, hingga mengurangi konsumsi berita negatif dapat membantu mengurangi kebiasaan tersebut.
Mengganti waktu scrolling dengan aktivitas lain yang lebih sehat seperti membaca buku, berolahraga, atau berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar juga bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap media sosial.
Membangun kesadaran digital menjadi langkah penting agar seseorang lebih mampu mengontrol konsumsi informasi sehari-hari. Dengan penggunaan media sosial yang lebih sehat, pengguna tetap bisa memperoleh informasi tanpa harus terjebak dalam siklus kecemasan digital berkepanjangan.













