Kanal24, Malang – Di tengah meningkatnya tren kewirausahaan di kalangan mahasiswa, CEO dan Founder HMNS Perfume, Rizky Arief Dwi Prakoso, mengingatkan bahwa bisnis yang besar tidak selalu berawal dari modal besar. Sebaliknya, keberhasilan usaha justru dimulai dari kemampuan membaca masalah dan kebutuhan pasar secara tepat. Pesan itu ia sampaikan dalam kegiatan J&T Connect Preneur Goes to Campus yang digelar di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Kamis (4/6/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa, Rizky menjelaskan bahwa banyak pelaku usaha pemula terlalu fokus menciptakan produk tanpa memahami kebutuhan konsumen. Padahal, menurutnya, fondasi utama bisnis adalah menemukan masalah yang benar-benar dialami masyarakat, lalu menghadirkan solusi yang relevan.
Baca juga:
Media Art, Bahasa Baru Dunia Digital dan Masa Depan Kota Kreatif
“Kunci utama itu validasi problem, validasi masalah, validasi demand. Kita harus melihat market sedang butuh apa, baru menawarkan solusi atau produk yang sesuai dengan kebutuhan tersebut,” ujarnya.

Rizky menilai pemahaman terhadap pasar menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah bisnis mampu bertahan dalam jangka panjang. Setelah kebutuhan pasar ditemukan, pelaku usaha harus belajar mengelola risiko agar tidak terjebak pada keputusan yang merugikan. Ia mengingatkan mahasiswa untuk tidak menginvestasikan seluruh modal pada percobaan pertama karena kegagalan merupakan bagian dari proses belajar.
Selain validasi pasar dan manajemen risiko, Rizky menyoroti pentingnya branding dalam membangun citra sebuah usaha. Namun, ia menegaskan bahwa branding tidak boleh bersifat kaku. Sebuah merek harus terus beradaptasi dengan perubahan kebutuhan konsumen agar tetap relevan dan memiliki daya saing.
“Branding itu penting, tetapi harus fleksibel. Kita harus terus mencari posisi yang tepat agar brand bisa lebih dikenal dan sesuai dengan kebutuhan konsumen,” katanya.
Dalam perjalanan mengembangkan HMNS menjadi salah satu merek parfum lokal yang dikenal secara nasional, tantangan terbesar yang dihadapi adalah distribusi. Menurutnya, ketika bisnis mulai tumbuh, ekspektasi pelanggan juga meningkat. Konsumen tidak hanya ingin membeli produk secara daring, tetapi juga ingin merasakan pengalaman langsung melalui toko fisik yang mudah dijangkau.
Meski demikian, Rizky melihat tantangan sebagai peluang untuk berkembang. Ia mengajak mahasiswa untuk berani mengambil langkah pertama dan tidak takut menghadapi ketidakpastian dalam dunia bisnis.
“Harus optimis. Banyaknya masalah bukan hal buruk, justru itu peluang karena bisnis kita bisa menjadi solusi dari masalah-masalah tersebut,” tegasnya.
Melalui forum tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan praktis mengenai dunia usaha, tetapi juga mendapatkan gambaran nyata bahwa bisnis yang berkelanjutan lahir dari kemampuan memahami kebutuhan masyarakat, mengelola risiko, dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman. (cay)













