Kanal24, Malang – Rumah sering disebut sebagai tempat paling nyaman untuk pulang. Namun, bagaimana jika justru di sanalah luka perlahan tumbuh tanpa pernah benar-benar dibicarakan? Pertanyaan itu menjadi benang merah yang diangkat Jangan Buang Ibu, film drama keluarga terbaru yang tidak hanya menguras emosi, tetapi juga mengajak penonton melihat sisi lain hubungan orang tua dan anak yang kerap luput dari perhatian.
Disutradarai Hadrah Daeng Ratu, film ini mengangkat realitas yang terasa dekat dengan banyak keluarga Indonesia: komunikasi yang perlahan menghilang, ekspektasi yang saling bertabrakan, hingga kasih sayang yang ada, tetapi tidak selalu tersampaikan dengan cara yang tepat. Lewat cerita yang emosional sekaligus membumi, Jangan Buang Ibu mengingatkan bahwa konflik keluarga sering kali bukan lahir dari kebencian, melainkan dari perasaan yang terlalu lama dipendam.
Baca Juga:
Monster Pabrik Rambut: Horor Sosial yang Menampar Realitas Dunia Kerja
Diproduksi Leo Pictures, film berdurasi 119 menit ini tayang di bioskop mulai 25 Juni 2026. Ceritanya berpusat pada Ristiana (Nirina Zubir), seorang ibu tunggal yang berjuang membesarkan tiga anak setelah ditinggalkan suaminya dengan beban utang. Seiring waktu, hubungan hangat yang dulu mereka miliki mulai merenggang karena tekanan hidup, perbedaan cara pandang, serta luka yang tak pernah benar-benar diselesaikan.
Film ini juga diperkuat penampilan Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Dwi Sasono, Erika Carlina, Fadly Faisal, dan Saskia Chadwick. Dengan naskah karya Widya T. Arifiyanti, cerita berkembang melalui konflik yang terasa dekat dengan keseharian banyak keluarga di Indonesia.
Konflik yang Terasa Dekat dengan Kehidupan
Yang membuat Jangan Buang Ibu terasa berbeda adalah keberaniannya menghindari tokoh yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Film ini memperlihatkan bahwa retaknya hubungan keluarga sering lahir dari kesalahpahaman yang dibiarkan menumpuk selama bertahun-tahun, bukan semata karena satu kesalahan besar.
Konflik yang diangkat juga terasa realistis. Tidak ada drama yang berlebihan atau plot yang dipaksakan. Sebaliknya, penonton diajak menyaksikan bagaimana komunikasi yang buruk, ekspektasi yang tidak sejalan, dan tekanan hidup perlahan menciptakan jarak di antara anggota keluarga yang sebenarnya saling menyayangi.
Pendekatan tersebut membuat cerita mudah dipahami sekaligus relevan bagi berbagai generasi. Banyak adegan yang mungkin mengingatkan penonton pada percakapan yang tak pernah selesai di rumah masing-masing.
Akting Menjadi Kekuatan Utama
Nirina Zubir kembali menunjukkan kualitas aktingnya melalui karakter Ristiana. Ia berhasil menghadirkan sosok ibu yang kuat, penuh kasih, tetapi juga menyimpan kelelahan dan kekecewaan yang terasa manusiawi.
Penampilan Refal Hady dan Amanda Manopo pun berhasil membangun dinamika hubungan anak dan orang tua yang natural. Chemistry antarpemain membuat emosi dalam setiap konflik terasa mengalir tanpa kesan dibuat-buat.
Di sisi lain, Hadrah Daeng Ratu memilih pendekatan visual yang sederhana. Alih-alih mengandalkan sinematografi yang megah, film ini memberi ruang bagi dialog dan ekspresi para pemain untuk menjadi pusat perhatian. Musik garapan Andi Rianto turut memperkuat atmosfer emosional tanpa terasa berlebihan.
Masih Menyisakan Beberapa Catatan
Meski memiliki kekuatan pada kedekatan ceritanya dengan kehidupan sehari-hari, Jangan Buang Ibu masih menyisakan beberapa catatan. Alur maju-mundur yang digunakan memang membantu memperkaya latar cerita, tetapi pada sejumlah bagian transisi antarscene terasa terlalu cepat sehingga beberapa momen emosional kehilangan ruang untuk berkembang secara maksimal.
Beberapa ulasan kritikus juga menyoroti ritme penceritaan yang sesekali kurang konsisten. Meski demikian, kelemahan tersebut tidak mengurangi pesan utama yang ingin disampaikan film tentang pentingnya komunikasi dan empati dalam keluarga.
Lebih dari sekadar drama keluarga, Jangan Buang Ibu mengajak penonton menyadari bahwa tidak semua luka terlihat. Ada yang tumbuh pelan di dalam rumah, tersembunyi di balik diam, ekspektasi, dan kata-kata yang tak pernah sempat diucapkan.
Film ini memang menyajikan kisah yang emosional, tetapi kekuatannya terletak pada kedekatannya dengan realitas. Bagi penonton yang menyukai cerita yang membumi dan penuh refleksi, Jangan Buang Ibu layak menjadi tontonan akhir pekan. Sebab, terkadang yang paling perlu diperbaiki bukan rumah tempat kita tinggal, melainkan hubungan dengan orang-orang yang ada di dalamnya.













