Kanal24, Malang – Dari sebuah gigs komunitas menjadi festival yang dipadati lebih dari 9.000 penonton. BlackHeart Festival 2026 mencatat lompatan terbesar sejak pertama kali digelar pada 2022 berkat konsep dua panggung berlawanan yang sukses menarik penikmat musik dari berbagai genre sekaligus.
Festival yang berlangsung di SM Boomi Carnival, Kota Malang, Sabtu (4/7/2026), itu menghadirkan pengalaman berbeda melalui dua panggung dengan karakter musik yang sengaja dipertentangkan. Satu panggung menyajikan musik rock, hardcore, dan heavy music, sementara panggung lainnya diisi genre pop, hip-hop, Midwest emo, hingga musik yang lebih easy listening.
Festival Director BlackHeart Festival, Afid Sanis, mengatakan konsep tersebut menjadi identitas baru yang membedakan BlackHeart dari festival musik lain.
Baca juga:
Partilibur Caravan 2026 di Batu: 50 Band dan Musisi Siap Tampil di Festival Musik

Menurutnya, penggunaan dua panggung sebenarnya bukan hal baru di industri festival musik. Namun, BlackHeart mengembangkan konsep berbeda dengan menghadirkan dua karakter musik yang saling berlawanan dalam satu festival.
“Kalau festival lain memang sudah banyak memakai dua stage dengan berbagai genre. Tapi kami membuat dua stage yang memang dikonsep saling berlawanan. Itu yang membedakan BlackHeart Festival,” ujar Afid.
Afid mengklaim konsep tersebut menjadi yang pertama diterapkan dalam festival musik di Kota Malang.
Berawal dari Gigs Komunitas
Di balik namanya yang terkesan gelap, BlackHeart justru memiliki filosofi yang bertolak belakang.
Afid menjelaskan nama tersebut terinspirasi dari album Pure Love from the Blackheart milik band Modern Guns asal Depok yang dirilis pada 2014.
Menurutnya, makna “BlackHeart” bukan tentang hati yang keras atau gelap, melainkan cinta yang lahir dari lubuk hati terdalam.
“Pure Love from the Blackheart artinya cinta sejati itu lahir dari hati yang paling dalam. Itu yang ingin kami sampaikan kepada audiens melalui festival ini,” katanya.
Ia menuturkan BlackHeart Festival pertama kali digelar pada 2022 sebagai gigs berskala kecil yang melibatkan berbagai komunitas musik di Kota Malang. Seiring waktu, festival tersebut berkembang hingga menjadi salah satu agenda musik terbesar di kota tersebut.
Keamanan Jadi Prioritas
Menggabungkan dua karakter penonton yang berbeda bukan perkara mudah. Di satu sisi terdapat penikmat musik hardcore yang identik dengan mosh pit, sementara di sisi lain hadir penonton musik yang lebih santai.
Karena itu, penyelenggara melakukan berbagai riset sebelum memperluas genre musik yang ditampilkan.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah menghadirkan gangway di tengah area panggung sebagai jalur pengaman agar penonton tetap nyaman berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya.
“Bagi kami tantangan terbesarnya bagaimana memastikan semua audiens tetap aman ketika menikmati festival, baik penonton musik hardcore maupun penonton genre yang lebih easy listening,” jelas Afid.
Penonton Melonjak Hingga 9.000 Orang
Konsep baru tersebut terbukti mendapat sambutan positif.
BlackHeart Festival 2026 berhasil melampaui target penyelenggara dengan mendatangkan lebih dari 9.000 penonton. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibanding penyelenggaraan sebelumnya yang rata-rata hanya berada di kisaran 5.000 hingga 6.000 pengunjung.
Afid mengatakan lonjakan penjualan tiket menjadi bukti bahwa konsep dua panggung mampu menjangkau audiens yang lebih luas.
“Ini sudah menjadi goals kami. Penjualan tiket melambung tinggi karena adanya konsep hard stage yang baru. Bahkan antusias audiens di luar dugaan kami,” ujarnya.
Meningkatnya jumlah pengunjung juga membuat panitia memberi perhatian lebih terhadap aspek keamanan, tata letak area festival, hingga kenyamanan penonton selama acara berlangsung.
Penonton Nilai Konsep Festival Lebih Segar
Antusiasme juga datang dari para penonton.
Vinka, salah seorang pengunjung, mengaku sengaja datang untuk menyaksikan penampilan Billfold, The SIGIT, Naykilla, hingga Burgerkill. Ia membeli tiket seharga Rp85 ribu dan mengapresiasi fasilitas serta konsep festival.
“Venue-nya keren, besar, fasilitasnya juga bagus. Konsepnya original karena mengusung dua genre yang berbeda,” katanya.
Hal serupa disampaikan Febri yang membeli tiket presale seharga Rp75 ribu untuk menyaksikan Revenge The Fate dan Burgerkill.
Menurutnya, konsep dua panggung menjadi pembeda utama BlackHeart Festival dibanding festival musik lain di Malang maupun Jawa Timur.
“Sudah cukup baik. Acaranya luar biasa, band-bandnya keren. Tahun ini konsep dua stage jadi lain daripada yang lain. Mungkin di Malang atau Jawa Timur masih baru seperti ini,” ujarnya.
Ia berharap konsep tersebut tetap dipertahankan pada penyelenggaraan berikutnya.

Ingin Jadi IP Musik Asli Malang Berskala Nasional
Afid menegaskan BlackHeart Festival akan terus berinovasi agar mampu menjadi identitas festival musik asli Malang yang dikenal secara nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, penyelenggara rutin menghadirkan musisi mancanegara, mulai dari Whisper asal Thailand pada edisi sebelumnya hingga band Speed asal Australia pada penyelenggaraan tahun ini.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem musik di Kota Malang sekaligus membuktikan bahwa daerah tersebut mampu melahirkan festival musik berskala nasional.
“Festival besar yang IP-nya berasal dari Kota Malang masih sangat sedikit. Kami ingin mempertahankan BlackHeart sebagai IP asli Malang dan membawanya menjadi festival berskala nasional,” tutup Afid. (ern/nid)













