Kanal24, Malang – Beragam inovasi ramah lingkungan yang dikembangkan Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menjadi sorotan dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) Smart Green Campus. Pengelolaan limbah B3, pemanfaatan air hujan, hingga penggunaan kembali air kondensat menjadi bagian dari upaya FTAB mewujudkan kampus yang berkelanjutan.
Melalui berbagai inovasi tersebut, FTAB berupaya meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan di tingkat fakultas dan juga memperkuat perannya sebagai role model implementasi Green Campus di lingkungan UB. Berbagai program yang dijalankan turut menjadi bagian dari komitmen fakultas dalam mendukung pembangunan berkelanjutan serta mewujudkan kampus yang lebih hijau, efisien, dan ramah lingkungan.
Baca Juga:
Raih Predikat WBBM, FTAB UB Jadi Rujukan Nasional Penerapan Zona Integritas
Pengelolaan Limbah B3 Jadi Keunggulan FTAB
Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D., mengatakan pada Kamis (03/7/2026) bahwa FTAB menargetkan diri menjadi role model implementasi Green Campus di lingkungan Universitas Brawijaya. Menurutnya, komitmen tersebut didukung oleh keberadaan Center of Excellence bidang bioenergi dan biorefinery yang selama ini menjadi pusat pengembangan inovasi berbasis keberlanjutan.

Salah satu program yang menjadi keunggulan FTAB adalah pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Fakultas ini telah memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS) limbah B3 yang dikelola sesuai prosedur serta dilengkapi sistem filter pada lemari asam untuk mengurangi potensi pencemaran udara akibat aktivitas laboratorium.
Selain itu, FTAB juga menerapkan berbagai inovasi lingkungan lainnya, seperti pembangunan biopori, pengolahan biokompos, hingga sistem rain water harvesting atau pemanenan air hujan. Air hujan yang ditampung bersama air kondensat dari pendingin ruangan (AC) dimanfaatkan kembali untuk penyiraman tanaman, pencucian peralatan laboratorium, serta berbagai kebutuhan operasional lainnya.
Menurut Prof. Yusuf, pemanfaatan kembali sumber daya tersebut mendukung efisiensi penggunaan air bersih dan juga mampu menghemat biaya operasional fakultas. Di sisi lain, pengelolaan limbah B3 menjadi perhatian utama karena memiliki tingkat risiko pencemaran paling tinggi apabila tidak ditangani dengan baik.
“Yang paling ingin kami tonjolkan adalah kepedulian sekaligus keunggulan FTAB dalam pengelolaan limbah B3. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang serius,” ujarnya.
Inovasi FTAB Tak Hanya Berdampak di Kampus
Komitmen FTAB terhadap pembangunan berkelanjutan juga diwujudkan melalui hilirisasi inovasi teknologi tepat guna. Hingga saat ini, fakultas tersebut telah menginisiasi penerapan 57 inovasi teknologi di 57 kelurahan di Kota Malang sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat.
Melalui berbagai program tersebut, FTAB mengembangkan inovasi di lingkungan kampus dan juga mendorong pemanfaatan hasil riset agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Prof. Yusuf menambahkan, pelaksanaan monitoring dan evaluasi Smart Green Campus turut memberikan berbagai masukan yang menjadi bahan evaluasi bagi fakultas. Menurutnya, hasil evaluasi tersebut akan dimanfaatkan untuk menyempurnakan implementasi Green Campus sekaligus mengembangkan inovasi baru yang lebih efektif.
“Dari hasil evaluasi tersebut, kami dapat mengetahui aspek-aspek yang perlu diperbaiki, ditingkatkan, maupun dikembangkan melalui inovasi baru. Harapannya, FTAB dapat terus meningkatkan kualitas implementasi Green Campus dan semakin memperkuat perannya sebagai fakultas percontohan,” katanya.
Monev Jadi Tolok Ukur Pengembangan Green Campus
Asesor Tim Monitoring dan Evaluasi Smart Green Campus UB, Prof. Dr. Sukarmi, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa kegiatan monitoring dilakukan untuk melihat sejauh mana implementasi Smart Green Campus di setiap fakultas dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Penilaian dilakukan berdasarkan lima indikator utama, yakni pengelolaan limbah, pengelolaan air, energi, infrastruktur, dan transportasi. Kelima aspek tersebut menjadi tolok ukur dalam mewujudkan kampus yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil evaluasi sementara, FTAB menunjukkan peningkatan capaian implementasi Green Campus. Nilai yang sebelumnya berada di kisaran 68 meningkat menjadi sekitar 70,8, mencerminkan adanya perkembangan positif dalam penerapan berbagai program lingkungan di tingkat fakultas.
Meski demikian, Prof. Sukarmi menegaskan bahwa Green Campus bukan sekadar program untuk memenuhi penilaian, melainkan komitmen jangka panjang yang harus terus dijalankan. Dengan berbagai inovasi yang telah diterapkan, FTAB dinilai memiliki modal yang kuat untuk terus menjadi salah satu fakultas yang mendorong terwujudnya Universitas Brawijaya sebagai kampus yang hijau, inovatif, dan berkelanjutan.(Gal)














