Kanal24, Malang – Bagi sebagian mahasiswa, panggung ini bukan sekadar tempat bernyanyi. Di balik setiap lagu yang dibawakan, ada berbulan-bulan latihan, dukungan keluarga, hingga tekad untuk mengharumkan nama kampus di tingkat Jawa Timur.
Semangat itu terlihat dalam PEKSIMIDA Menyanyi Dangdut yang digelar BPSMI Jawa Timur di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Kamis (9/7/2026). Kompetisi ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk bersaing menampilkan teknik vokal dan karakter dangdut terbaik.
Baca juga:
Juri Akui Persaingan Penyanyi Dangdut PEKSIMIDA Jatim 2026 Sangat Ketat
Berawal dari Dukungan Orang Tua, Ingin Harumkan Nama Kampus
Salah satu peserta, Meriam Haroqaah Islamiyah Owa dari Institut Teknologi dan Sains Mandala jember mengaku keikutsertaannya di PEKSIMIDA berawal dari dorongan sang ibu yang menjadi inspirasinya untuk terus menekuni dunia tarik suara.

Selain ingin mengembangkan kemampuan bermusik, ia juga ingin membawa nama baik kampus di ajang seni tingkat Jawa Timur.
“Motivasi saya pertama dari orang tua, khususnya mama. Saya juga ingin membanggakan kampus. Di PEKSIMIDA kita bisa mendapat banyak pengalaman, relasi baru, teman baru, dan melihat dunia yang lebih luas,” ujarnya.
Meriam mengungkapkan persiapannya dilakukan sekitar dua pekan sebelum lomba. Lagu yang dibawakan dipilih oleh sang ibu, sementara latihan vokal dilakukan secara mandiri tanpa didampingi pelatih profesional.
Meski mengaku sempat gugup setelah melihat penampilan peserta lain, ia berusaha menjaga kepercayaan diri agar tetap tampil maksimal.
“Jujur sempat was-was karena melihat peserta lain bagus-bagus. Tapi saya mencoba berpikir, kalau mereka bisa, kenapa saya tidak,” katanya.
Menurutnya, ajang seperti PEKSIMIDA penting untuk membangkitkan minat generasi muda terhadap seni, termasuk dangdut yang kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian mahasiswa.
“Berseni itu tidak seburuk yang dibayangkan. Justru bisa membanggakan diri sendiri kalau dijalani dengan sepenuh hati,” tuturnya.
Juri: Teknik Bagus Saja Belum Cukup, Karakter Dangdut Harus Terasa
Dewan juri, Eduardus Suseno Harjito, menjelaskan penilaian tidak hanya berfokus pada kualitas vokal, tetapi juga karakter dangdut yang harus benar-benar melekat pada setiap peserta.

Menurutnya, penyanyi dengan teknik vokal yang baik belum tentu mampu membawakan lagu dangdut dengan karakter yang tepat. Sebaliknya, penyanyi yang memiliki cengkok dangdut kuat juga harus tetap didukung teknik bernyanyi yang baik.
“Dangdut itu yang jelas dangdutnya harus kena. Karakter penyanyi dangdut itu yang kami cari. Teknik juga penting. Jadi keduanya harus berjalan seimbang,” jelasnya.
Ia menilai kualitas peserta tahun ini meningkat dibanding penyelenggaraan dua tahun lalu. Perbedaan kemampuan antarpeserta dinilai sangat tipis sehingga proses penjurian berlangsung lebih kompetitif.
Menurut Eduardus, hampir seluruh peserta sudah memiliki karakter dangdut yang terbentuk sejak lama, sehingga tidak terlihat dipaksakan saat tampil di atas panggung.
“Ada yang memang sejak kecil sudah punya cengkok dangdut. Penjiwaan lagu juga bagus, jadi yang membedakan tinggal teknik dan kemampuan vokalnya,” katanya.
PEKSIMIDA Jadi Ruang Mengembangkan Talenta Seni Mahasiswa
Selain menjadi ajang kompetisi, PEKSIMIDA dinilai memiliki peran penting dalam mengembangkan bakat seni mahasiswa sekaligus melahirkan penyanyi-penyanyi muda dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur.
Eduardus berharap mahasiswa tidak ragu mengikuti ajang serupa pada tahun-tahun mendatang karena pengalaman yang diperoleh jauh lebih berharga dibanding sekadar mengejar kemenangan.
Menurutnya, kemampuan bernyanyi akan tetap menjadi nilai tambah apa pun profesi yang dijalani setelah lulus kuliah.
“PEKSIMIDA, baik dangdut maupun cabang seni lainnya, adalah jalan untuk mengembangkan talenta. Tidak harus menjadi penyanyi. Nanti jadi dosen, pegawai bank, atau profesi lain, kemampuan bernyanyi tetap menjadi kelebihan yang dimiliki seseorang,” ujarnya.
Melalui kompetisi ini, BPSMI Jawa Timur tidak hanya mencari wakil terbaik menuju tingkat nasional, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem seni yang lebih hidup di lingkungan perguruan tinggi. Di tengah berkembangnya berbagai tren hiburan digital, PEKSIMIDA menjadi ruang bagi mahasiswa untuk terus berkarya, melestarikan seni, dan menunjukkan bahwa dangdut tetap memiliki tempat di kalangan generasi muda. (ern)














