Kanal24, Malang – Inovasi minuman kesehatan berbahan teh hijau dan kopi hijau dikembangkan sebagai upaya membantu menekan risiko penyakit jantung, khususnya pada penderita sindrom metabolik. Produk bernama DTKO tersebut merupakan hasil penelitian yang mengombinasikan kedua bahan alami melalui proses dekafeinasi sehingga kandungan kafeinnya berkurang secara signifikan.
Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP (K)., Ph.D., FSCAI., Pengembang DTKO menjelaskan dalam wawancara dengan kanal24 pada Kamis (09/07/2026) menjelaskan bahwa minuman ini dirancang sebagai pendamping terapi medis, bukan pengganti obat yang telah diresepkan dokter. Melalui formulasi tersebut, DTKO diharapkan dapat membantu mengendalikan berbagai faktor risiko penyakit jantung, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, hingga obesitas yang menjadi bagian dari sindrom metabolik.
Baca juga:
Indonesia Bidik Investasi Rp500 Triliun Lewat Pusat Keuangan Internasional

Dekafeinasi Jadi Pembeda Utama
Salah satu keunggulan DTKO dibandingkan produk serupa adalah penggunaan proses dekafeinasi, yaitu pengurangan kandungan kafein secara signifikan dari teh hijau maupun kopi hijau sebelum keduanya dikombinasikan.
Menurut peneliti, kandungan kafein pada kopi dan teh dapat memicu jantung berdebar atau palpitasi. Pada penderita penyakit jantung, kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman hingga meningkatkan risiko gangguan yang lebih serius.
“Kafein bisa menimbulkan efek berdebar. Pada orang yang sakit jantung, kondisi itu bisa menyebabkan sesak, tidak nyaman, bahkan meningkatkan risiko serangan jantung maupun pingsan,” jelas Prof. Saifur.
Setelah melalui proses dekafeinasi, teh hijau dan kopi hijau kemudian dipadukan menjadi satu formulasi. Produk tersebut telah melalui berbagai tahapan penelitian, mulai dari pengujian di laboratorium, uji pada hewan model sindrom metabolik, hingga uji pada manusia sehat dan penderita sindrom metabolik.
Berpotensi Menekan Faktor Risiko Penyakit Jantung
Peneliti menjelaskan bahwa sindrom metabolik menjadi salah satu persoalan kesehatan yang terus meningkat jumlahnya. Apabila tidak dikendalikan, penderita memiliki risiko sekitar tiga kali lebih besar mengalami serangan jantung dibandingkan masyarakat tanpa sindrom metabolik.
Melalui penelitian yang dilakukan, konsumsi DTKO dua kali sehari selama tiga bulan menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam membantu memperbaiki beberapa faktor risiko penyakit jantung.
“Sudah kami optimalkan dan kami lihat khasiatnya bermanfaat untuk membantu menurunkan tekanan darah, menurunkan kegemukan, kolesterol, serta menurunkan risiko penyakit jantung ke depan,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa DTKO tidak dimaksudkan sebagai pengganti terapi medis. Pasien tetap harus mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, sedangkan DTKO berfungsi sebagai minuman pendamping untuk membantu menjaga kesehatan.
Praktis Dikonsumsi dengan Beragam Pilihan Rasa
DTKO dikemas dalam bentuk bubuk dalam sachet aluminium foil yang dirancang untuk menjaga kualitas kandungan bahan aktif agar tidak mudah teroksidasi selama penyimpanan.
Cara penyajiannya pun cukup sederhana. Satu sachet berisi lima gram bubuk cukup diseduh menggunakan air hangat dan dikonsumsi dua kali sehari, yakni pada pagi dan malam hari.
Untuk meningkatkan kenyamanan saat dikonsumsi, DTKO tersedia dalam beberapa varian rasa, seperti vanila, kopi, dan cokelat. Pemilihan varian tersebut dilakukan berdasarkan survei preferensi konsumen karena teh hijau dan kopi hijau yang telah didekafeinasi memiliki cita rasa yang cenderung lebih ringan.
Peneliti berharap DTKO dapat menjadi alternatif minuman kesehatan di tengah meningkatnya tren konsumsi kopi di Indonesia. Dengan memadukan manfaat teh hijau dan kopi hijau yang telah didekafeinasi, produk ini diharapkan mampu membantu masyarakat menjaga kesehatan jantung sekaligus mengurangi risiko komplikasi akibat sindrom metabolik.
Selain terus dikembangkan melalui penelitian, DTKO juga dipersiapkan untuk memasuki tahap hilirisasi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.(ffn)













