Kanal24, Malang – Ribuan warga memadati ruas Jalan Akordion hingga Jalan Arumba, Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Minggu (12/7), dalam perayaan Grebeg Suro Tunggulwulung 2026. Tradisi yang digelar dua tahunan ini kembali menghadirkan kirab budaya dengan beragam atraksi seni, kostum tematik, pertunjukan wayang, bazar kuliner tempo dulu, hingga penampilan sound horeg yang menjadi perhatian masyarakat.
Mengusung tema “Berbudaya Menjadikan Suatu Kesadaran Menuju Kebangkitan”, Grebeg Suro tahun ini tidak hanya menjadi hiburan bagi warga, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus melestarikan warisan budaya lokal.
Baca juga:
Gol Dramatis Mikel Merino Singkirkan Portugal, Spanyol Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Ketua Panitia Grebeg Suro Tunggulwulung 2026, Nikolas Sugeng Siswandi, mengatakan enam RW di Kelurahan Tunggulwulung ikut ambil bagian dalam kirab budaya. Masing-masing RW menampilkan berbagai konsep dan pertunjukan yang menggambarkan kekayaan budaya Nusantara.
“Rata-rata setiap RW menampilkan sekitar 10 barisan. Bahkan RW 5 mengangkat tema khusus Kerajaan Singosari sebagai bentuk edukasi sejarah kepada generasi muda,” ujarnya.
Menurut Nikolas, pemilihan tema Kerajaan Singosari dilakukan agar masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, semakin mengenal sejarah lokal yang memiliki keterkaitan erat dengan Malang Raya.
Selain parade budaya, pengunjung juga disuguhkan pertunjukan wayang, stan kuliner tradisional, hingga berbagai kerajinan bernuansa tempo dulu yang menghadirkan suasana khas perayaan Suro.
Sound Horeg Tetap Hadir, Volume Diminta Dibatasi
Salah satu daya tarik yang turut menyedot perhatian adalah penampilan sound horeg dari masing-masing RW. Meski demikian, penyelenggara bersama pemerintah setempat memastikan penggunaan sound system tetap memperhatikan kenyamanan masyarakat sekitar.
Plt Camat Lowokwaru Muhammad Baihaqie mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh panitia agar tingkat kebisingan tetap berada dalam batas yang diperbolehkan.
“Kami sudah mengingatkan agar volume sound horeg dikurangi sehingga tidak mengganggu masyarakat di sekitar lokasi kegiatan,” katanya.
Ajang Merawat Budaya dan Gotong Royong
Sementara itu, Lurah Tunggulwulung Imbar Hadi Wintjoko menilai Grebeg Suro telah menjadi identitas budaya masyarakat setempat. Menurutnya, kegiatan ini secara rutin digelar setiap dua tahun pada tahun genap, sedangkan tahun ganjil difokuskan pada kirab pusaka.
Ia menyebut seluruh RW di Tunggulwulung selalu berpartisipasi aktif dengan menampilkan kesenian khas masing-masing sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus penguatan nilai Bhinneka Tunggal Ika.
“Kultur masyarakat kami sangat beragam. Karena itu seluruh RW mendukung penuh kegiatan ini dengan menampilkan berbagai kesenian dan budaya yang dimiliki,” ujarnya.
Semangat gotong royong juga menjadi kekuatan utama penyelenggaraan Grebeg Suro. Menurut Imbar, sejarah Tunggulwulung yang berkembang dari kawasan kabupaten menuju wilayah Kota Malang membuat nilai kebersamaan antarwarga masih terjaga hingga sekarang.
Tradisi Grebeg Suro sendiri telah menjadi bagian dari kalender budaya di berbagai daerah di Jawa sebagai bentuk penyambutan Tahun Baru Islam sekaligus pelestarian tradisi lokal. Di Tunggulwulung, perayaan tersebut berkembang menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat sekaligus ajang mempererat hubungan sosial antarwarga. (nid)













