Kanal24, Malang – Kenaikan harga konsentrat terus menjadi tantangan bagi peternak dalam menekan biaya produksi. Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai inovasi penyediaan hijauan pakan yang tidak hanya meningkatkan kualitas nutrisi, tetapi juga lebih efisien dari sisi biaya.
Gagasan itu menjadi fokus Ujian Disertasi berjudul Potensi Penanaman Intercropping Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) dengan Leguminosa Semak untuk Peningkatan Produksi dan Kualitas Hijauan Pakan Ternak yang digelar di Auditorium 1 Lantai 5 Gedung 6 Pascasarjana Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya, Senin (13/7/2026). Penelitian tersebut dilakukan oleh kandidat doktor Artharini Irsyammawati, S.Pt., M.P.,
Baca juga:
Kolaborasi Besar FH UB dan DPR RI, Mengawal Reformasi Hukum Acara Perdata Indonesia
Pola Intercropping Tingkatkan Produksi dan Kualitas Hijauan
Artharini Irsyammawati, S.Pt., M.P. menjelaskan penelitian ini berangkat dari kondisi rumput gajah yang selama ini menjadi sumber hijauan utama peternak, tetapi kandungan nutrisinya belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan ternak ruminansia.

Melalui penelitian tersebut, ia mengembangkan pola intercropping rumput gajah dengan leguminosa Clitoria untuk menghasilkan hijauan yang lebih produktif sekaligus memiliki kualitas nutrisi lebih baik.
“Inovasi yang ditemukan adalah pola tanam T3, yaitu intercropping rumput gajah dengan satu baris Clitoria. Pola ini memberikan hasil produksi dan kualitas yang lebih baik dibandingkan perlakuan intercropping lainnya,” ujarnya.
Selain meningkatkan kualitas hijauan, pola tanam tersebut juga mampu mengurangi penggunaan pupuk nitrogen sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien.
Menurut Artharini Irsyammawati, S.Pt., M.P., metode tersebut mudah diterapkan oleh peternak. Pola tanam yang diuji dalam penelitian dapat diterapkan pada lahan yang lebih luas dengan susunan tanam yang sama.
Ia berharap hasil penelitiannya dapat diadopsi oleh peternak sehingga penggunaan konsentrat dapat dikurangi karena kebutuhan nutrisi ternak telah dipenuhi dari hijauan.
“Harapannya peternak banyak mengadopsi hasil temuan kami. Dengan begitu pembelian konsentrat bisa dikurangi karena hijauannya sudah lebih lengkap, sekaligus mengurangi penggunaan pupuk nitrogen,” katanya.
Pendekatan Replacement Series System Jadi Kebaruan Penelitian
Promotor Prof. Dr. Ir. Ifar Subagyo, M.Agr St. mengatakan kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan pendekatan replacement series system dalam pola intercropping.

Berbeda dengan metode yang umum digunakan, sebagian tanaman rumput gajah justru dikurangi untuk memberi ruang tumbuh bagi tanaman leguminosa. Pendekatan tersebut mampu mengurangi persaingan antartanaman sehingga produktivitas hijauan meningkat.
“Kebaruan penelitian ini ada pada pendekatan replacement series system. Rumput gajah dikurangi dan diganti leguminosa sehingga kompetisi antartanaman berkurang dan produktivitasnya justru meningkat,” jelasnya.
Menurut Prof. Dr. Ir. Ifar Subagyo, M.Agr St., penelitian tersebut juga mengintegrasikan aspek produksi hijauan dengan kualitas nutrisi. Selama ini, banyak penelitian hanya menitikberatkan pada hasil produksi tanpa mengukur kandungan nutrisi maupun nilai energi hijauan yang dihasilkan.
Pendekatan itu, kata dia, memberikan gambaran yang lebih utuh bahwa penambahan leguminosa tidak hanya meningkatkan hasil panen hijauan, tetapi juga memperbaiki kualitas pakan ternak.
Berpotensi Diterapkan Peternak, Tantangannya Ada pada Adopsi di Lapangan
Prof. Dr. Ir. Ifar Subagyo, M.Agr St. menilai hasil penelitian ini memiliki peluang besar untuk diterapkan dalam pengembangan pakan ternak di Indonesia. Namun, tantangan berikutnya adalah mendorong peternak agar bersedia mengadopsi pola tanam tersebut.
Menurutnya, praktik intercropping rumput gajah dengan leguminosa masih belum banyak diterapkan sehingga diperlukan sosialisasi dan pendampingan agar manfaatnya dapat dipahami oleh peternak.
“Secara akademik hasil penelitiannya menunjukkan manfaat. Tantangannya sekarang bagaimana peternak menerima dan menerapkannya di lapangan,” katanya.
Ia berharap Artharini terus mengembangkan penelitian tersebut setelah meraih gelar doktor. Menurutnya, penerapan inovasi di masyarakat memerlukan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari penyuluhan, sosial, hingga ekonomi agar hasil penelitian benar-benar memberi dampak bagi peternak.
Dengan meningkatnya kualitas hijauan, berkurangnya kebutuhan konsentrat, serta lebih rendahnya penggunaan pupuk nitrogen, penelitian ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan, terutama bagi peternak skala kecil di Indonesia. (ern)














