Kanal24, Malang – Kemampuan membaca dan berhitung saja dinilai tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan era digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), peserta didik dituntut mampu memahami informasi, berpikir kritis, menganalisis data, hingga mengambil keputusan secara tepat. Kemampuan tersebut dikenal sebagai literasi numerasi.
Pemateri kegiatan Membumikan Literasi Numerasi, Masithoh Yessi Rochayati, M.Pd., mengatakan literasi numerasi kini menjadi salah satu kompetensi penting yang menentukan kesiapan seseorang menghadapi dunia pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat.
Baca juga:
Jangan Anggap Sepele! Mengantar Anak Sekolah Ternyata Punya Makna Besar
Literasi Numerasi Bukan Sekadar Membaca dan Berhitung
Menurut Masithoh, literasi tidak lagi dimaknai sebatas kemampuan membaca buku atau artikel. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan memahami informasi, memilah, mengevaluasi, kemudian memanfaatkannya sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
Begitu pula dengan numerasi. Kemampuan ini bukan hanya soal menguasai operasi hitung, melainkan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari, seperti membaca grafik, mengelola keuangan, membandingkan harga barang, hingga memahami data.
“Numerasi bukan tentang menghitung angka sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana kita menggunakan matematika atau logika untuk membantu menyelesaikan persoalan yang kita hadapi setiap hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, literasi numerasi saat ini menjadi perhatian dunia pendidikan dan menjadi salah satu indikator yang diukur dalam asesmen internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS).

Kemampuan Anak Indonesia Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Masithoh, menilai kemampuan literasi numerasi di Indonesia masih perlu mendapat perhatian serius. Hal tersebut terlihat dari berbagai hasil asesmen yang menunjukkan kemampuan peserta didik Indonesia masih tertinggal dibandingkan banyak negara lain.
Ia mencontohkan hasil PISA 2022 yang menunjukkan kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan. Selain itu, kemampuan numerasi juga dinilai masih berada di bawah kemampuan literasi membaca.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pembelajaran di sekolah perlu lebih menekankan pemahaman konsep daripada sekadar mengejar jawaban benar atau menghafal rumus.
“Yang kita inginkan bukan hanya kemampuan menemukan jawaban, tetapi juga kemampuan bertanya, menganalisis informasi, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, lalu mengambil keputusan yang tepat,” jelasnya.
Menurutnya perkembangan teknologi menjadi tantangan sekaligus peluang. Saat ini siswa dapat memperoleh jawaban hanya dalam hitungan detik melalui internet maupun kecerdasan buatan. Namun, apabila tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis, siswa berisiko terbiasa mencari jawaban instan tanpa memahami proses berpikir di baliknya.
Karena itu, menurutnya guru perlu menghadirkan pembelajaran yang memberi ruang kepada peserta didik untuk mengeksplorasi, berdiskusi, mengamati fenomena, dan menemukan konsep secara mandiri.
Budaya Literasi Harus Dimulai dari Sekolah dan Rumah
Masithoh menegaskan keberhasilan literasi numerasi tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata. Peran keluarga juga sangat menentukan karena rumah merupakan lingkungan belajar pertama bagi anak.
Ia mendorong orang tua membiasakan anak membaca sejak dini, mengajak berdiskusi, menonton tayangan edukatif, hingga melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan numerasi, seperti menghitung pengeluaran, membandingkan harga barang, atau mengukur takaran saat memasak.
Menurutnya, kegiatan sederhana tersebut mampu melatih anak memahami konsep matematika dalam kehidupan nyata sekaligus membangun kemampuan berpikir logis.
“Literasi numerasi bukan hanya bekal untuk mendapatkan nilai yang baik di sekolah, tetapi menjadi keterampilan hidup yang akan digunakan sepanjang hayat,” tuturnya.
Di sisi lain, guru juga perlu menjadi teladan dengan membangun budaya membaca serta menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Ia menilai peningkatan literasi numerasi tidak cukup dilakukan melalui latihan soal secara terus-menerus, tetapi harus memberi pengalaman belajar yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Masithoh Yessi Rochayati, M.Pd., juga mengajak sekolah, keluarga, dan masyarakat bergerak bersama membangun budaya literasi numerasi secara berkelanjutan.
“Kalau sekolah, keluarga, dan peserta didik bisa bergerak bersama, saya yakin budaya literasi numerasi akan tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (ern)













