Kanal24, Malang – Kehadiran Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara orang menulis. Meski mampu membantu proses riset hingga penyusunan draf, teknologi tersebut dinilai tidak akan pernah menggantikan kreativitas dan cara berpikir manusia. Pesan itu mengemuka dalam workshop “Level Up Your Writing: Kuasai Hook dan AI Writing di Era Digital” yang digelar Forum Lingkar Pena (FLP) Malang bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS UM), Minggu (19/7), di My Dormy UMM, Malang.
Workshop yang menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat itu menghadirkan praktisi Public Relations sekaligus digital storyteller Ihwan Hariyanto, S.AP., serta Direktur UB Medcom, Dr. Redy Eko Prastyo, S.Psi., M.I.Kom. Kegiatan ini diikuti pelajar, mahasiswa, guru, penulis pemula, hingga content creator yang ingin meningkatkan kemampuan menulis sekaligus memahami pemanfaatan AI secara bijak di era digital.
Baca juga:
Generasi Muda Enggan Bertani, UB Dorong Ketahanan Pangan Desa Ngebruk

AI Membantu Proses Menulis, Kreativitas Tetap Milik Manusia
Dalam pemaparannya, Dr. Redy Eko Prastyo menjelaskan bahwa AI telah menjadi salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan penulis untuk mempercepat proses kreatif. Mulai dari mencari ide, melakukan riset awal, menyusun kerangka tulisan, hingga membuat draf pertama dapat dibantu oleh AI.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa AI seharusnya hanya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia.
Menurutnya, kualitas sebuah tulisan tetap ditentukan oleh kemampuan penulis dalam berpikir kritis, memahami konteks, serta menghadirkan sudut pandang yang orisinal.
Redy juga mengajak peserta membangun perspektif yang lebih luas saat menulis.
Ia mengibaratkan seorang penulis sebagai kamera drone yang mampu melihat persoalan secara utuh dari berbagai sudut pandang, bukan sekadar kamera tele yang hanya fokus pada satu objek.
“Dengan perspektif yang lebih luas, tulisan akan menjadi lebih kaya, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan pembaca,” jelasnya.
Hook Menentukan Apakah Tulisan Dibaca atau Dilewati
Pada sesi berikutnya, Ihwan Hariyanto membahas pentingnya membangun hook atau pembuka yang kuat dalam sebuah tulisan maupun konten digital.
Menurutnya, derasnya arus informasi membuat perhatian audiens semakin singkat. Karena itu, penulis dituntut mampu menarik perhatian pembaca sejak kalimat pertama.
“Konten yang baik selalu berangkat dari ide yang disampaikan dengan cara yang tepat. Karena itu, kemampuan menulis tetap menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi yang efektif,” ujarnya.
Ia menambahkan, teknik storytelling yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mampu membangun kedekatan emosional sehingga pesan lebih mudah diterima audiens.
Diskusi AI dan Orisinalitas Karya
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai tantangan menulis di era AI, mulai dari etika penggunaan kecerdasan buatan hingga cara menjaga orisinalitas karya.
Sebagai tindak lanjut, peserta juga mendapatkan penugasan untuk mengaplikasikan materi yang telah dipelajari agar kemampuan menulis terus berkembang melalui praktik secara langsung.

Kolaborasi Perkuat Budaya Literasi
Ketua Pelaksana Program, Kun Sila Ananda, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat hasil kolaborasi antara FIS UM dan FLP Malang.
“Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh wawasan, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dapat diterapkan untuk menghasilkan karya yang lebih berkualitas. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut melalui berbagai program literasi lainnya,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua FLP Malang, Intan K.L. Asror, menilai sinergi antara komunitas literasi dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam memperluas akses pembelajaran sekaligus memperkuat budaya literasi di masyarakat.
“Kolaborasi ini menjadi wujud nyata sinergi antara dunia akademik dan komunitas literasi. Kami berharap kerja sama seperti ini terus berkembang sehingga semakin banyak penulis dan pegiat literasi yang lahir di Malang,” tuturnya.
Melalui workshop ini, FLP Malang dan FIS UM berharap dapat terus menghadirkan program literasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mendorong lahirnya penulis-penulis baru yang mampu memanfaatkan AI secara cerdas, etis, dan bertanggung jawab. (nid)













