Kanal24, – Malang – Istilah bed rotting belakangan ramai menghiasi media sosial dan menjadi salah satu tren gaya hidup di kalangan Generasi Z. Lewat unggahan di TikTok, Instagram, hingga X, banyak anak muda membagikan momen menghabiskan waktu berjam-jam di atas tempat tidur sebagai cara melepas penat setelah menjalani rutinitas yang padat.
Namun, di balik tren tersebut, psikolog mengingatkan bahwa bed rotting tidak selalu identik dengan self-care. Kebiasaan ini memang dapat menjadi cara memulihkan energi jika dilakukan sesekali. Sebaliknya, apabila berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, bed rotting bisa menjadi sinyal bahwa tubuh maupun kondisi psikologis sedang membutuhkan perhatian.
Baca Juga:
Balas Chat Pakai AI Makin Populer, Praktis tapi Benarkah Mengikis Hubungan Sosial?
Tren yang Berawal dari Media Sosial
Bed rotting merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur dalam keadaan terjaga. Selama itu, seseorang biasanya menonton film, bermain gim, membaca buku, mendengarkan musik, atau terus menggulir media sosial tanpa tujuan yang jelas.
Fenomena ini mulai populer setelah banyak kreator konten membagikan pengalaman mereka beristirahat seharian sebagai cara mengatasi kelelahan akibat padatnya aktivitas. Di tengah budaya yang mendorong seseorang untuk selalu produktif, tren tersebut kemudian dipandang sebagai bentuk jeda untuk memulihkan kondisi fisik dan mental.
Menurut psikolog, meluangkan waktu untuk beristirahat merupakan hal yang wajar. Tubuh dan pikiran membutuhkan jeda setelah menjalani rutinitas yang melelahkan. Karena itu, bed rotting masih dapat dianggap sebagai kebiasaan yang sehat selama dilakukan dalam batas yang wajar dan tidak menghambat tanggung jawab sehari-hari.
Kenali Tanda yang Perlu Diwaspadai
Kebiasaan ini mulai menjadi perhatian ketika seseorang lebih memilih menghabiskan waktu di tempat tidur daripada bekerja, belajar, atau bersosialisasi. Rebahan yang semula bertujuan memulihkan tenaga dapat berubah menjadi cara menghindari tekanan maupun persoalan yang sedang dihadapi.
Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut berkaitan dengan burnout, stres berkepanjangan, gangguan kecemasan, hingga depresi. Meski demikian, rebahan seharian bukan berarti seseorang pasti mengalami gangguan mental. Penilaian terhadap kondisi psikologis harus mempertimbangkan gejala lain, seperti kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, suasana hati yang terus menurun, perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, serta mulai menarik diri dari lingkungan sosial.
Apabila gejala-gejala tersebut berlangsung dalam waktu lama dan mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental menjadi langkah yang disarankan agar penanganan dapat dilakukan lebih dini.
Jaga Keseimbangan Waktu Istirahat
Selain berdampak pada kesehatan mental, terlalu lama berada di tempat tidur juga dapat memengaruhi kondisi fisik. Kurangnya aktivitas membuat tubuh terasa kaku, kebugaran menurun, sementara penggunaan gawai secara berlebihan berpotensi mengganggu kualitas tidur.
Para ahli menyarankan agar waktu istirahat dimanfaatkan secara seimbang. Setelah tubuh kembali segar, lakukan aktivitas ringan seperti berjalan kaki, peregangan, membaca buku, berolahraga, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman. Aktivitas tersebut dapat membantu memulihkan energi sekaligus menjaga suasana hati tetap stabil.
Rebahan bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi juga tidak boleh menjadi pelarian dari rutinitas. Mengenali batas antara kebutuhan untuk beristirahat dan tanda kelelahan mental menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan fisik maupun psikologis. Jika kebiasaan ini mulai mengurangi produktivitas dan mengganggu kehidupan sosial, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional agar kondisi tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius. (gal)













