Kanal24, Malang – Mencegah penyakit kronis jauh lebih mudah dibanding mengobatinya. Namun, tidak sedikit anak muda yang baru menyadari pentingnya menjaga kesehatan setelah gejala mulai muncul. Di tengah meningkatnya kasus penyakit metabolik pada usia produktif, perubahan gaya hidup dinilai menjadi langkah paling efektif agar Generasi Z terhindar dari berbagai penyakit yang kini datang lebih dini.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dr. Aditya Satriya Nugraha, Sp.PD, menegaskan bahwa membangun pola hidup sehat tidak harus menunggu tubuh sakit. Menurutnya, membiasakan aktivitas fisik, memilih makanan bergizi seimbang, serta mengenali tanda-tanda awal penyakit merupakan investasi kesehatan yang akan menentukan kualitas hidup seseorang di masa depan.
Baca juga:
Hari Anak Nasional di RSSA Semarak, SAHABAT Resmi Diluncurkan
Kenali Gejala Sebelum Terlambat
Menurut Aditya, tubuh sebenarnya telah memberikan berbagai sinyal ketika mulai mengalami gangguan kesehatan. Sayangnya, banyak anak muda menganggap keluhan tersebut sebagai akibat kelelahan atau aktivitas yang padat sehingga memilih mengabaikannya daripada memeriksakan diri.
Ia menjelaskan setiap penyakit memiliki gejala yang berbeda. Namun, terdapat sejumlah keluhan yang paling sering ditemui pada pasien muda, seperti tubuh mudah lelah meski sudah cukup beristirahat, mudah mengantuk, cepat lapar setelah makan, nyeri otot dan persendian, sering kesemutan, hingga lebih sering buang air kecil pada malam hari.
“Kalau gejala-gejala itu terus muncul, jangan dianggap biasa. Sebaiknya segera periksakan diri agar diketahui penyebabnya sejak dini,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan self diagnosis berdasarkan informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap menjadi langkah terbaik untuk memastikan diagnosis sekaligus menentukan penanganan yang tepat sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.
Keluarga dan Kampus Bentuk Kebiasaan Hidup Sehat
Aditya menilai membangun gaya hidup sehat tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran individu. Lingkungan tempat seseorang tumbuh dan beraktivitas memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan yang akan terbawa hingga dewasa.
Di lingkungan keluarga, orang tua dapat membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang sekaligus menjadi teladan dalam menerapkan pola hidup sehat. Sebaliknya, anak juga perlu memahami bahwa makanan yang dikonsumsi setiap hari akan memengaruhi kondisi kesehatan di masa mendatang.
“Kesehatan itu milik kita bersama. Orang tua dan anak harus saling mengingatkan karena makanan yang masuk ke tubuh nantinya akan menjadi diri kita sendiri,” katanya.
Selain keluarga, kampus juga dinilai memiliki tanggung jawab membangun budaya hidup sehat. Penyediaan makanan bergizi di kantin, fasilitas yang mendukung aktivitas fisik, hingga keteladanan dari dosen dan sivitas akademika dapat mendorong mahasiswa menjalani gaya hidup yang lebih aktif.
Aditya mencontohkan kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki, menggunakan tangga, bersepeda, maupun mengikuti program car free day sebagai langkah kecil yang dapat memberikan manfaat besar apabila dilakukan secara konsisten.
Ubah Kebiasaan Hari Ini untuk Masa Depan
Menurut Aditya, kebiasaan makan tidak sehat dan minimnya aktivitas fisik yang terus dipertahankan akan berdampak besar terhadap kualitas hidup dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Bahkan, penyakit yang dahulu identik dengan kelompok usia lanjut kini mulai dialami pasien berusia 20 hingga 30 tahun.
Ia mengaku pernah menangani pasien muda yang harus menjalani cuci darah akibat komplikasi penyakit metabolik. Tidak sedikit pula pasien usia produktif yang sudah harus mengonsumsi obat tekanan darah tinggi atau mengalami gangguan pada persendian akibat pola hidup sedentari.
Selain meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, dan obesitas, gangguan metabolik yang tidak terkontrol juga dapat memengaruhi kesehatan reproduksi pria maupun wanita sehingga berpotensi menurunkan tingkat kesuburan.
“Kalau kebiasaan makan tidak teratur dan malas bergerak tidak segera diubah, penyakit yang sekarang dialami kakek-nenek kalian bisa dirasakan jauh lebih cepat,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak Generasi Z mulai melakukan perubahan dari kebiasaan sederhana, seperti rutin berolahraga, memperbanyak aktivitas fisik, memilih makanan bergizi seimbang atau real food, serta menjaga kesehatan mental sebagai bagian dari pola hidup sehat.
“Jangan malas bergerak. Pilih makanan yang baik dan bergizi seimbang. Kalian adalah generasi penerus bangsa, sehingga harus menjadi generasi yang sehat, baik secara fisik maupun mental,” tutupnya.
Bagi Aditya, menjaga kesehatan bukan sekadar menghindari penyakit hari ini, tetapi juga mempersiapkan kualitas hidup yang lebih baik pada masa mendatang. Kebiasaan sederhana yang dibangun sejak usia muda akan menjadi investasi jangka panjang agar Generasi Z tetap produktif, sehat, dan mampu menghadapi tantangan di masa depan.(ffn)














