Kanal24, Malang – Melimpahnya hasil budidaya ikan lele belum tentu berbanding lurus dengan meningkatnya pendapatan masyarakat. Di banyak daerah, komoditas ini masih dijual sebagai ikan segar sehingga nilai ekonominya relatif terbatas dan belum mampu memberikan keuntungan yang lebih besar bagi pelaku usaha.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa MMD BINA DESA (BIMA) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan program OLELE (Otak-Otak Lele Lezat) di Desa Sidorejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Melalui pelatihan yang digelar pada Senin (20/7/2026), mahasiswa mendorong masyarakat mengolah lele menjadi produk bernilai tambah yang berpotensi dikembangkan sebagai peluang usaha rumahan.
Baca juga:
Hari Anak Nasional di RSSA Semarak, SAHABAT Resmi Diluncurkan
Lele Lokal Naik Kelas Lewat Produk Olahan
Desa Sidorejo memiliki potensi budidaya ikan lele yang cukup melimpah. Namun, selama ini sebagian besar hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk segar sehingga nilai jualnya belum maksimal. Padahal, melalui diversifikasi produk, komoditas lokal tersebut dapat memiliki daya saing sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Melihat potensi tersebut, mahasiswa MMD BIMA UB memperkenalkan inovasi pengolahan lele menjadi otak-otak yang praktis, memiliki cita rasa menarik, dan berpeluang dipasarkan sebagai produk olahan rumah tangga.

Program ini didampingi Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Renanda Baghaz D. S. P., S.Pi., M.P., M.Sc. dan Asyifa Anandya, S.Pi., M.Sc. Keduanya mendorong mahasiswa menghadirkan program yang tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonomi potensi lokal melalui inovasi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat.
Belajar Langsung Mengolah Lele Jadi Produk Bernilai
Pelatihan berlangsung menggunakan metode demonstrasi sehingga peserta dapat memahami seluruh proses pembuatan otak-otak lele secara langsung. Mahasiswa memperagakan setiap tahapan, mulai dari memilih ikan lele segar, membersihkan bahan baku, memisahkan daging dari tulang, menghaluskan daging, mencampurkan bumbu dan tepung, hingga proses penggorengan.
Setelah demonstrasi, peserta diberi kesempatan mempraktikkan seluruh proses secara bergantian dengan pendampingan mahasiswa. Selain teknik pengolahan, peserta juga mendapatkan materi mengenai pentingnya diversifikasi hasil perikanan serta penerapan sanitasi dalam pengolahan pangan agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik.
Penanggung jawab program OLELE, Reida Yunika Saputri, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memperkenalkan cara baru memanfaatkan potensi perikanan desa sehingga masyarakat tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai lebih tinggi.
“Program OLELE kami rancang sebagai bentuk pemanfaatan potensi perikanan yang dimiliki Desa Sidorejo. Harapan kami, masyarakat tidak hanya memperoleh keterampilan baru dalam mengolah ikan lele, tetapi juga memiliki wawasan bahwa komoditas lokal dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai dan menarik untuk dikembangkan,” ujarnya.
Dorong Lahirnya UMKM Berbasis Potensi Desa
Pelatihan mendapat sambutan positif dari warga. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, aktif berdiskusi, serta mencoba langsung proses pembuatan otak-otak lele. Meski jumlah peralatan masih terbatas sehingga digunakan secara bergantian, kegiatan tetap berjalan lancar berkat kolaborasi mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat.
Salah seorang anggota PKK Desa Sidorejo, Yuli, mengaku pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru karena memperkenalkan cara mengolah lele menjadi produk yang berbeda dari biasanya. Menurutnya, praktik langsung membuat peserta lebih percaya diri untuk mencoba kembali di rumah.
Program OLELE menunjukkan bahwa inovasi sederhana dapat menjadi pintu masuk bagi peningkatan ekonomi masyarakat desa. Dibanding hanya menjual ikan segar, produk olahan memiliki peluang memberikan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus memperluas pasar bagi pelaku usaha lokal.
Melalui program pengabdian ini, mahasiswa MMD BIMA UB tidak hanya berbagi keterampilan mengolah pangan, tetapi juga mendorong lahirnya UMKM berbasis potensi lokal. Ke depan, inovasi semacam ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menjadikan komoditas lokal sebagai produk unggulan yang memiliki daya saing lebih luas.(ffn)














