Kanal24, Malang – Memasuki kehidupan perguruan tinggi menuntut mahasiswa baru tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga mampu memahami budaya, etika, serta pola interaksi yang berbeda dari jenjang sekolah. Pengenalan lingkungan fakultas sejak awal menjadi penting agar mahasiswa memiliki gambaran mengenai kehidupan akademik dan kemahasiswaan sekaligus memahami kemampuan yang perlu dikembangkan selama menempuh studi.
Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Sahiruddin, M.A., Ph.D., dan Ketua Pelaksana PKKMB FIB UB, Dr. Devinta Puspita Ratri, M.Pd., dalam rangkaian PKKMB FIB UB di Fakultas Ilmu Budaya UB, Kamis (13/8/2026). Kegiatan tersebut membekali mahasiswa baru dengan pemahaman mengenai budaya akademik, orientasi kemahasiswaan, etika berinteraksi di lingkungan kampus, hingga arah pengembangan diri selama menjadi mahasiswa FIB UB.
Baca juga:
FISIP UB Alokasikan Rp1,75 Miliar untuk Keringanan Biaya Pendidikan Mahasiswa
PKKMB Jadi “Teras Budaya” FIB UB
Ketua Pelaksana PKKMB FIB UB, Dr. Devinta Puspita Ratri, M.Pd., menjelaskan PKKMB tahun ini mengusung konsep “teras budaya”. Konsep tersebut menggambarkan PKKMB sebagai ruang awal bagi mahasiswa sebelum memasuki kehidupan akademik dan kemahasiswaan di FIB UB secara lebih mendalam.
Menurut Devinta, mahasiswa baru perlu mengenal fakultas terlebih dahulu agar memiliki gambaran mengenai lingkungan yang akan menjadi tempat mereka belajar dan berkembang. Pengenalan tersebut diharapkan membuat mahasiswa lebih siap menjalani aktivitas kampus dengan nyaman.
“PKKMB ini adalah terasnya, sehingga mahasiswa diharapkan di teras ini bisa mengenal terlebih dahulu fakultasnya,” ujar Devinta.

Rangkaian PKKMB FIB UB dilaksanakan selama dua hari dengan pembagian fokus kegiatan. Hari pertama diarahkan pada orientasi akademik, sedangkan hari kedua berfokus pada orientasi kemahasiswaan.
Pada orientasi akademik, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan ruang dan fasilitas fakultas, tetapi juga diajak memahami pola interaksi dan aktivitas akademik di perguruan tinggi. Hal tersebut menjadi penting karena budaya belajar di kampus memiliki perbedaan dengan lingkungan sekolah.
Sementara itu, orientasi kemahasiswaan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal berbagai aktivitas di luar perkuliahan, termasuk ruang pengembangan bakat dan minat. Dengan demikian, mahasiswa baru diharapkan tidak hanya memahami tuntutan akademik, tetapi juga mengetahui berbagai peluang untuk mengembangkan diri selama berada di FIB UB.
Bekali Mahasiswa Hadapi Kehidupan Kampus
Pemahaman mengenai etika menjadi salah satu bagian yang ditekankan dalam PKKMB FIB UB. Mahasiswa baru tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak membahas sejumlah kasus yang berkaitan dengan situasi yang berpotensi mereka hadapi selama menjalani kehidupan kampus.
Melalui diskusi kelompok, mahasiswa diberikan gambaran mengenai cara berkomunikasi dengan dosen dan sesama mahasiswa, menyikapi persoalan di kelas, hingga menghadapi situasi dalam kegiatan organisasi dan kemahasiswaan.
Pendekatan berbasis kasus tersebut diharapkan membuat mahasiswa tidak hanya mengetahui aturan secara teoritis, tetapi juga memiliki pertimbangan ketika menghadapi situasi nyata. Terlebih, derasnya arus informasi saat ini membuat kemampuan berkomunikasi dan memahami etika menjadi semakin penting.
Devinta menilai kehidupan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Kemampuan membangun komunikasi, menjaga etika, bekerja sama, serta menyikapi persoalan menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa selama berada di fakultas.
FIB UB juga memberikan ruang dukungan bagi mahasiswa yang menghadapi kesulitan selama menjalani kehidupan kampus. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya fakultas agar mahasiswa dapat beradaptasi dan menjalani masa studi dengan lebih baik.
Bangun Mahasiswa Berintegritas dan Inovatif
Dekan FIB UB, Sahiruddin, M.A., Ph.D., mengatakan PKKMB diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh kepada mahasiswa mengenai berbagai aktivitas akademik maupun nonakademik di fakultas. Bekal tersebut diharapkan membantu mahasiswa menentukan arah pengembangan diri sejak awal masa studi.
Menurut Sahiruddin, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan akademik sekaligus nonakademik, termasuk hard skill dan soft skill. Dengan mengenali berbagai peluang yang tersedia, mahasiswa diharapkan memiliki pandangan yang lebih jelas mengenai hal yang ingin dicapai selama menempuh pendidikan di FIB UB.
“Kami berharap bisa menjadi lulusan yang sudah direncanakan dari awal, dari sekarang,” katanya.
Upaya adaptasi mahasiswa juga tidak berhenti setelah rangkaian PKKMB selesai. Pihak kemahasiswaan FIB UB menyiapkan tahapan kegiatan lanjutan yang memungkinkan mahasiswa baru berinteraksi lebih jauh dengan lingkungan fakultas maupun mahasiswa tingkat atas.
Devinta berharap dua hari pelaksanaan PKKMB dapat memberikan bekal awal bagi mahasiswa sebelum memasuki perkuliahan secara langsung. Meski rangkaian tersebut belum dapat mencakup seluruh dinamika kehidupan kampus, mahasiswa setidaknya diharapkan memiliki gambaran mengenai cara beradaptasi dan menjalani aktivitas akademik.
Sahiruddin menambahkan, mahasiswa FIB UB diharapkan tumbuh dengan karakter Brawijaya yang menjunjung integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan inovasi. Karakter tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bekal selama menjalani masa studi, tetapi juga membentuk lulusan yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat.
Dengan bekal tersebut, PKKMB FIB UB diarahkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk mengenali lingkungan akademik, membangun kemampuan diri, serta menyiapkan perjalanan studi secara lebih terarah sejak awal memasuki perguruan tinggi. (ffn)














