Kanal24, Malang – Perkataan orang lain terkadang dapat meninggalkan dampak lebih besar daripada yang terlihat. Komentar yang menyakitkan, sindiran, kritik yang disampaikan secara kasar, hingga respons negatif di media sosial dapat membuat seseorang merasa kecewa, marah, malu, atau terus memikirkannya. Kondisi inilah yang dalam percakapan sehari-hari sering disebut sebagai “kena mental”.
Istilah tersebut semakin populer di kalangan anak muda. Namun, merasa terguncang secara emosional setelah menghadapi situasi yang tidak menyenangkan bukan berarti seseorang lemah. Setiap orang memiliki pengalaman, batas toleransi, serta cara berbeda dalam merespons tekanan.
Baca juga:
Tiga Gunung Api Erupsi Beruntun
“Kena Mental” Tak Selalu Berarti Lemah
“Kena mental” merupakan istilah populer untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa terganggu atau tertekan secara emosional akibat perkataan maupun tindakan orang lain. Istilah tersebut bukan diagnosis dalam dunia psikologi.
Tekanan dapat muncul dari berbagai situasi, mulai dari kritik, konflik, kegagalan, tuntutan lingkungan, hingga komentar negatif di media sosial. Respons setiap orang juga berbeda. Ada yang memilih diam, menjauh sejenak, merasa kesal, atau terus memikirkan perkataan yang diterimanya.

Karena itu, seseorang tidak seharusnya langsung dianggap terlalu sensitif hanya karena merasa terluka oleh perkataan orang lain. Respons emosional merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Media sosial juga membuat seseorang semakin mudah memberikan maupun menerima komentar. Interaksi yang berlangsung cepat terkadang membuat orang lupa bahwa di balik sebuah akun terdapat individu yang memiliki perasaan.
Komentar negatif dapat muncul dari orang terdekat maupun pengguna yang tidak dikenal. Bahkan, komentar yang awalnya dianggap sederhana dapat terus teringat dan memengaruhi kepercayaan diri seseorang.
Menghadapi Komentar Negatif dengan Bijak
Sejumlah pemberitaan mengenai hate comment di media sosial menunjukkan pentingnya membangun penerimaan terhadap diri sendiri. Pendapat orang lain tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan nilai diri.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi generasi muda yang sehari-hari berinteraksi dengan media sosial. Ketika penilaian dari luar terlalu dominan, seseorang dapat semakin mudah membandingkan dirinya dengan orang lain.
Ketika mendapatkan komentar menyakitkan, keinginan untuk membalas merupakan hal yang wajar. Namun, merespons ketika emosi sedang tinggi justru dapat memperpanjang konflik.
Memberikan jeda sebelum menjawab dapat membantu seseorang berpikir lebih jernih. Komentar yang tidak memberikan manfaat juga tidak selalu membutuhkan tanggapan.
Seseorang dapat memilih mengabaikan, membatasi interaksi, atau menggunakan fitur penyaringan komentar apabila merasa terganggu. Menjaga jarak dari sumber tekanan bukan berarti kalah, melainkan bentuk menjaga batas diri.
Belajar Memilah Kritik dan Menjaga Diri
Tidak semua komentar negatif harus dianggap sebagai serangan. Kritik yang disampaikan dengan alasan jelas dan bertujuan memberikan masukan dapat dijadikan bahan evaluasi.
Sebaliknya, komentar yang hanya merendahkan pribadi atau sengaja memancing emosi tidak harus dijadikan ukuran terhadap diri sendiri. Kemampuan memilah kritik menjadi penting agar seseorang tetap terbuka terhadap evaluasi tanpa kehilangan kepercayaan diri.
Tekanan dalam kehidupan memang tidak selalu dapat dihindari. Namun, cara seseorang merespons tekanan masih dapat dipelajari.
Pada akhirnya, sesekali merasa “kena mental” bukan sesuatu yang memalukan. Manusia memiliki emosi dan wajar jika perkataan tertentu membuat tidak nyaman. Yang penting adalah memahami perasaan sendiri, menentukan batas, memilih respons yang tepat, serta mencari dukungan ketika tekanan mulai terasa berat.
Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah terluka oleh perkataan orang lain. Menjadi kuat berarti mampu memilah mana yang perlu didengarkan dan mana yang lebih baik dilepaskan.(ffn)













