Kanal24, Malang – Film horor Indonesia kembali menawarkan formula yang sudah akrab bagi penonton: sosok menyeramkan, kerasukan, suara mengejutkan, dan jump scare yang membuat tangan refleks menutup mata. Namun, Munafik: Melawan Iblis mencoba menawarkan lapisan lain. Di balik teror makhluk gaib, film ini membawa cerita tentang kehilangan, rasa bersalah, dan pergulatan iman yang dialami manusia ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Dibintangi Arya Saloka sebagai Ustaz Adam dan Acha Septriasa sebagai Fitri, film garapan Guntur Soeharjanto ini merupakan adaptasi dari film horor Malaysia Munafik. Versi Indonesia tersebut membawa sejumlah penyesuaian karakter dan konflik untuk konteks penonton Tanah Air. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 3 September 2026.
Baca juga:
Barcelona Kejar Dominasi, Madrid Siap Menggugat
Ketika Teror Berawal dari Kehilangan
Adam bukan sosok yang asing dengan persoalan spiritual. Ia dikenal sebagai pengajar agama sekaligus praktisi rukiah. Namun, kematian istrinya membuat Adam memilih meninggalkan aktivitas tersebut.

Pilihan itu memperlihatkan bahwa karakter religius tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap kehilangan.
Kehidupan Adam kemudian kembali berubah ketika ia diminta membantu Fitri, perempuan yang mengalami gangguan supernatural setelah kehilangan ibunya.
Di titik ini, Munafik: Melawan Iblis mempunyai ruang untuk membicarakan sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Kehilangan tidak selalu selesai ketika pemakaman berakhir. Ada orang yang tetap membawa kesedihan bertahun-tahun setelahnya. Ada pula yang terlihat baik-baik saja di depan orang lain, tetapi sebenarnya masih berusaha memahami apa yang terjadi dalam dirinya.
Karena itu, teror dalam film ini tidak hanya bisa dibaca sebagai persoalan iblis dan gangguan gaib. Ia juga dapat dilihat sebagai gambaran tentang luka yang belum selesai.
Jump Scare Bukan Satu-satunya Senjata
Materi promosi film memperlihatkan sejumlah adegan yang mengandalkan teror supernatural. Kerasukan, rukiah, perubahan perilaku Fitri, hingga kemunculan sosok mengerikan menjadi bagian dari daya tarik utama film.
Namun, di tengah maraknya film horor yang berlomba membuat penonton berteriak, muncul pertanyaan sederhana: setelah jump scare selesai, apa yang masih diingat penonton?
Ini menjadi tantangan bagi Munafik: Melawan Iblis.
Jump scare memang efektif untuk menciptakan respons spontan. Tetapi rasa takut yang bertahan biasanya membutuhkan sesuatu yang lebih personal. Karakter harus punya persoalan yang membuat penonton peduli terhadap apa yang terjadi kepada mereka.
Jika teror hanya berhenti pada suara keras dan kemunculan makhluk gaib, pengalaman menonton bisa cepat menguap.
Sebaliknya, jika teror tersebut berkaitan dengan kehilangan dan pergulatan batin, rasa takut berpotensi terasa lebih dekat.
Acha Septriasa Hadapi Karakter Intens
Acha Septriasa mendapatkan porsi karakter yang cukup berat melalui Fitri.

Fitri digambarkan sebagai perempuan yang mengalami kehilangan sekaligus menghadapi gangguan supernatural. Perubahan kondisi karakternya membuat Acha harus memainkan emosi yang tidak sederhana.
Salah satu tantangan yang cukup menarik adalah adegan rukiah. Dalam pemberitaan mengenai proses produksi, Acha mengungkapkan tantangan memainkan adegan ketika Fitri harus merayap di dinding, salah satu bagian yang mengingatkan pada adegan ikonik dari film aslinya.
Bagi penonton, adegan semacam ini tentu menjadi salah satu yang paling ditunggu.
Namun, kekuatan akting Acha nantinya tidak hanya ditentukan dari seberapa menyeramkan ekspresi kerasukan yang ditampilkan. Yang lebih penting adalah apakah penonton bisa merasakan manusia di balik karakter Fitri.
Sebab, karakter kerasukan tanpa emosi yang kuat hanya akan menjadi perangkat untuk menakuti penonton.
Arya Saloka Bukan Sekadar Ustaz
Di sisi lain, Arya Saloka membawa karakter Adam dengan persoalan yang berbeda.

Adam memang memiliki kemampuan dalam urusan rukiah. Tetapi ia juga memiliki luka sendiri setelah kehilangan istrinya.
Hal tersebut membuat karakter Adam tidak bisa sekadar ditempatkan sebagai “orang yang datang menyelamatkan korban”. Ia juga merupakan seseorang yang sedang menghadapi persoalan dalam dirinya.
Dalam sejumlah pemberitaan mengenai film ini, Arya juga menceritakan tantangan menjalani adegan rukiah bersama Acha Septriasa.
Menariknya, posisi Adam sebagai tokoh religius justru membuka pertanyaan yang lebih manusiawi.
Apakah seseorang yang memahami agama otomatis selalu kuat ketika menghadapi kehilangan?
Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.
Manusia tetap manusia. Keyakinan bisa menjadi pegangan, tetapi proses berdamai dengan kehilangan tetap membutuhkan waktu.
Remake Harus Punya Alasan untuk Diingat
Munafik: Melawan Iblis bukan film yang berdiri sepenuhnya dari nol. Film ini merupakan adaptasi dari Munafik, film Malaysia yang sebelumnya sudah memiliki penonton sendiri.
Status sebagai remake sekaligus membawa beban.
Penonton yang sudah mengetahui film aslinya akan membandingkan versi Indonesia dengan karya sebelumnya. Sementara penonton baru mungkin datang tanpa memiliki ekspektasi yang sama.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar membuat ulang adegan yang pernah berhasil.
Film versi baru perlu memiliki alasan mengapa cerita tersebut layak diceritakan kembali kepada penonton Indonesia.
Penyesuaian karakter, latar, serta persoalan keluarga menjadi penting agar film tidak terasa seperti salinan yang hanya berganti pemeran.
Di sinilah kualitas adaptasi akan diuji.
Horor yang Mengajak Penonton Bercermin
Hal menarik dari premis Munafik: Melawan Iblis adalah peluang untuk melihat horor dari perspektif berbeda.
Kita sering menganggap iblis sebagai sesuatu yang datang dari luar manusia. Sosok asing, menyeramkan, dan harus dilawan.
Tetapi film ini juga membawa persoalan tentang luka manusia.
Adam kehilangan istrinya. Fitri kehilangan ibunya. Keduanya menghadapi kesedihan dengan cara berbeda.
Dari sini muncul pembacaan yang lebih dalam: mungkin ketakutan terbesar bukan selalu sesuatu yang muncul di depan mata, tetapi sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai di dalam diri.
Bukan berarti film ini harus dibaca terlalu serius. Bagaimanapun, ia tetap hadir sebagai tontonan horor dengan berbagai adegan teror.
Namun, lapisan emosional membuat film punya peluang untuk meninggalkan sesuatu setelah lampu bioskop menyala kembali. (ern)













