Kanal24, Malang – Barcelona memasuki La Liga 2026/2027 dengan satu target besar: mempertahankan mahkota yang sudah mereka genggam dalam dua musim terakhir. Di seberang rivalitas, Real Madrid datang dengan wajah baru bersama José Mourinho dan ambisi mengakhiri dominasi Barcelona di kompetisi kasta tertinggi Spanyol.
Persaingan keduanya menjadi salah satu cerita utama musim ini. Barcelona bukan hanya ingin mempertahankan gelar, tetapi juga memburu trofi La Liga ketiga secara beruntun. Sementara Madrid mencoba membangun kembali kekuatan setelah musim tanpa trofi dengan Mourinho sebagai sosok yang dipercaya mengembalikan mental juara.
Baca juga:
Kenapa Gunungan Jadi Tradisi Maulid Nabi?
Barcelona Ingin Memperpanjang Dominasi
Barcelona memiliki modal kuat untuk menghadapi musim baru. Klub Catalan itu datang sebagai juara bertahan setelah mengamankan gelar La Liga 2025/2026 dan sebelumnya juga menjadi kampiun pada musim 2024/2025.
Kini, tantangannya bukan lagi sekadar merebut gelar, melainkan mempertahankannya untuk ketiga kali secara beruntun.
Di bawah Hansi Flick, Barcelona juga memiliki generasi muda yang terus berkembang. Lamine Yamal menjadi salah satu pemain yang paling mendapat sorotan setelah penampilannya bersama klub dan tim nasional Spanyol.
Namun, mempertahankan gelar bukan perkara sederhana. Status sebagai juara membuat Barcelona memasuki musim dengan tekanan berbeda. Setiap hasil imbang atau kekalahan akan lebih mudah dipandang sebagai tanda penurunan, bahkan ketika kompetisi baru berjalan.
Di sinilah ujian Barcelona sebenarnya dimulai. Mereka bukan lagi tim yang mengejar.
Mereka kini menjadi tim yang harus dikejar.
Madrid Datang dengan Mourinho
Real Madrid memiliki cerita berbeda.
Klub ibu kota Spanyol itu kembali menunjuk José Mourinho sebagai pelatih. Mourinho resmi diperkenalkan pada 18 Agustus dan menandatangani kontrak hingga 2029. Ini menjadi periode keduanya menangani Madrid setelah sebelumnya melatih klub tersebut pada 2010 hingga 2013.
Kembalinya Mourinho bukan sekadar pergantian pelatih. Real Madrid sedang berusaha membangun kembali tim setelah melewati periode tanpa trofi.
Mourinho datang dengan reputasi sebagai pelatih yang mengutamakan disiplin, mentalitas kompetitif, dan hasil. Tantangannya jelas: membuat Madrid kembali menjadi penantang serius Barcelona.
Musim baru juga membuat ekspektasi terhadap Madrid langsung tinggi. Tidak banyak ruang bagi Mourinho untuk sekadar beradaptasi karena klub sebesar Real Madrid selalu dituntut menang.
Namun, justru tekanan itu yang menjadi bagian dari proyeknya.
Rodri Pilih Barcelona
Persaingan Barcelona dan Madrid bahkan sudah terasa sebelum keduanya benar-benar terlibat dalam perebutan gelar.
Barcelona berhasil mendapatkan Rodri dari Manchester City. Gelandang asal Spanyol itu menandatangani kontrak hingga Juni 2030 dengan klub Catalan. Transfer tersebut dilaporkan bernilai sekitar 65,4 juta poundsterling.
Rodri menjadi tambahan penting bagi Barcelona. Pengalamannya bersama Manchester City, termasuk keberhasilan meraih sejumlah gelar besar, membuat kedatangannya memberi warna berbeda di lini tengah Barcelona.
Yang membuat transfer ini semakin menarik adalah fakta bahwa Real Madrid juga sempat mengejar Rodri.
Mourinho kemudian mengungkap bahwa Madrid memang sempat memberikan tawaran kepada sang pemain. Namun, menurut Mourinho, keraguan Rodri terhadap kepindahan tersebut membuat Madrid akhirnya tidak melanjutkan prosesnya.
Rodri akhirnya memilih Barcelona.
Transfer ini bukan sekadar perpindahan pemain. Bagi persaingan El Clasico, kedatangan Rodri membuat cerita musim baru semakin menarik.
Dominasi Barcelona Mulai Diuji
Di atas kertas, Barcelona memiliki alasan untuk percaya diri. Mereka adalah juara bertahan dan sudah dua musim terakhir berada di puncak La Liga.
Tetapi sepak bola tidak pernah ditentukan hanya oleh status juara bertahan.
Real Madrid sedang membangun ulang kekuatan. Mourinho membawa pengalaman dan karakter kompetitif yang membuat persaingan papan atas menjadi lebih sulit diprediksi. Sejumlah pengamat bahkan melihat musim 2026/2027 kembali mengarah pada persaingan dua raksasa Spanyol tersebut.
Barcelona juga tidak bisa terlalu nyaman dengan keberhasilan masa lalu.
Dua gelar beruntun memang menjadi modal. Tetapi jika ingin mengamankan gelar ketiga, mereka harus kembali menemukan konsistensi dari pekan ke pekan.
Sebab, dominasi paling sulit bukan ketika sebuah tim merebut puncak.
El Clasico Tetap Jadi Magnet
Di luar persaingan klasemen, pertemuan Barcelona dan Real Madrid tetap menjadi pertandingan yang paling ditunggu.
El Clasico tidak pernah hanya berbicara tentang tiga poin. Ada sejarah, gengsi, pemain bintang, pelatih, hingga persaingan antar suporter yang membuat pertandingan ini memiliki daya tarik tersendiri.
Musim ini, narasinya semakin kuat.
Barcelona datang sebagai juara bertahan dengan ambisi memperpanjang dominasi. Madrid datang bersama Mourinho dengan proyek mengembalikan klub ke jalur kemenangan.
Bahkan sebelum keduanya bertemu di lapangan, persaingan sudah dimulai melalui bursa transfer dan perubahan di kursi pelatih.
Rodri menjadi salah satu contohnya.
Madrid menginginkan sang gelandang. Barcelona mendapatkannya.
Bukan Sekadar Persaingan Dua Klub
Meski Barcelona dan Real Madrid menjadi pusat perhatian, perjalanan menuju gelar La Liga masih panjang.
Klub-klub lain tetap memiliki peluang mengganggu persaingan dua raksasa tersebut. Atlético Madrid, misalnya, masih menjadi salah satu tim yang berpotensi ikut meramaikan perebutan papan atas.
Karena itu, terlalu cepat menyebut musim ini hanya sebagai pertarungan Barcelona melawan Madrid juga berisiko menyederhanakan kompetisi.
Namun, sulit pula mengabaikan fakta bahwa dua klub tersebut memiliki tekanan dan sumber daya besar untuk kembali menjadi pusat perhatian.
Barcelona ingin membuktikan bahwa dua gelar sebelumnya bukan kebetulan.
Madrid ingin menunjukkan bahwa kedatangan Mourinho bukan sekadar nostalgia.
Dan Rodri kini berada di tengah cerita itu, setelah memilih Barcelona ketika Madrid juga menginginkannya. (ern)













