Kanal24, Malang – Sebuah mural di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang, mendadak berubah menjelang Festival Mbois 11. Tulisan “Malang The Glory Land” yang telah menghiasi dinding tersebut sejak 2016 ditutup dan diganti dengan tulisan “Malang Menyala Bersama”.
Perubahan itu langsung mendapat sorotan Aremania. Bagi sebagian masyarakat, mural tersebut bukan sekadar tulisan di dinding, melainkan karya yang telah melekat dengan kawasan dan menyimpan cerita tentang Kota Malang. Penimpaan mural kemudian memunculkan keberatan karena dilakukan tanpa komunikasi dengan pihak yang memiliki keterkaitan dengan karya lama.
Baca Juga:
Barcelona Kejar Dominasi, Madrid Siap Menggugat
Mural The Glory Land Sejak 2016
Mural “Malang The Glory Land” dibuat pada 2016 oleh almarhum Heri Sucahyo atau dikenal dengan nama Sam Nyek. Selama bertahun-tahun, karya tersebut menjadi bagian dari pemandangan di Jalan Arif Rahman Hakim dan dikenal warga yang melintas di kawasan tersebut.

Bagi Aremania, mural itu memiliki makna yang lebih luas. Andi F Sinyo, warga Malang sekaligus Aremania, menjelaskan bahwa karya tersebut dibuat ketika sepak bola Malang sedang menghadapi persoalan perpecahan.
Nama “Malang” dalam mural tersebut disebut membawa pesan persatuan dan semangat untuk mengembalikan kejayaan kota. Karena itu, keberadaannya kemudian tidak hanya dipandang sebagai karya visual, tetapi juga bagian dari cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Humas Aremania Utas Dedi Arisandi mengatakan organisasinya memang bukan pemilik mural secara formal. Namun, pihaknya tetap merasa memiliki tanggung jawab moral karena mural tersebut memiliki keterkaitan dengan Aremania.
Aremania Utas menyayangkan mural ditutup tanpa adanya komunikasi terlebih dahulu. Mereka kemudian mendorong penyelesaian secara kekeluargaan dan meminta pihak yang menimpa mural memberikan penjelasan serta bertanggung jawab.
Tulisan Lama Ditutup Cat Biru
Mural lama ditutup menggunakan cat biru sebelum kemudian muncul tulisan “Malang Menyala Bersama”. Tulisan baru tersebut dibuat sebagai bagian dari persiapan Festival Mbois 11 yang mengusung tema “Malang Menyala”.
Penempatan tulisan baru di atas mural lama menjadi persoalan utama. Bagi pihak yang memberikan kritik, persoalannya bukan pada kehadiran karya baru di ruang publik, melainkan keputusan untuk menutup karya yang sudah berada di lokasi tersebut selama bertahun-tahun.
Mural “Malang The Glory Land” telah menjadi bagian dari pemandangan kawasan Jalan Arif Rahman Hakim sejak 2016. Waktu keberadaan yang cukup panjang membuat karya tersebut memiliki nilai tersendiri bagi masyarakat yang mengenalnya.
Persoalan tersebut juga mendapat perhatian Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin. Ia meminta pelaku kreatif di Kota Malang saling menghargai dan tidak menghapus karya yang sudah ada demi kepentingan kegiatan tertentu.
Menurutnya, ruang kreatif tetap dapat digunakan untuk menghadirkan karya baru, tetapi prosesnya perlu memperhatikan karya yang telah lebih dahulu berada di lokasi tersebut.
MCF Akui Ada Kesalahan
Polemik mengenai mural tersebut kemudian mendapat respons dari Malang Creative Fusion atau MCF. Koordinator MCF Dadik Wahyu menyampaikan permintaan maaf kepada Aremania terkait penimpaan mural.
MCF mengakui adanya kesalahan dalam proses tersebut dan menyatakan siap bertanggung jawab. Permintaan maaf itu menjadi langkah untuk menyelesaikan persoalan yang muncul setelah mural lama ditutup.
Bagi warga yang telah melihat “Malang The Glory Land” selama bertahun-tahun, perubahan tersebut bukan sekadar persoalan tampilan sebuah dinding. Karya itu telah menjadi bagian dari suasana kawasan dan menyimpan cerita yang masih diingat masyarakat.
Polemik ini sekaligus memperlihatkan bagaimana mural di ruang publik dapat memiliki nilai yang lebih luas setelah hadir dalam waktu lama. Ketika sebuah karya sudah dikenal dan memiliki keterikatan dengan komunitas, perubahan terhadapnya dapat memunculkan respons dari masyarakat.
Di Kota Malang, mural menjadi salah satu bentuk ekspresi yang mudah ditemui di ruang publik. Karena itu, keberadaan karya lama dan kehadiran karya baru perlu dipertemukan melalui komunikasi agar tidak menimbulkan persoalan serupa. (gal)













